Setuju. Masih banyak loh orang yang belum move on dari era keemasan Gojek.
Kemarin gue interview BD ex-Gojek. Minta gaji 20 juta/bulan. Pengalaman kerja 3 tahun.
Gue tawarin: base salary 8 juta + 10% commission dari revenue yang dia generate.
Orangnya ga mau.
Lah.
Kalau emang jago, 10% commission bisa dapet 30-50 juta sebulan. Lebih gede dari yang dia minta.
Tapi dia maunya fixed 20 juta. Tanpa KPI revenue. Gaji duduk.
Ini yang bikin gue mikir… Lo 3 tahun di Gojek, tapi ga berani dibayar berdasarkan hasil kerja lo sendiri?
Berarti lo tau persis kemampuan lo di mana.
Menurut kalian fair ga gue kasih gaji BD berdasarkan performa/KPI dia? (Masih ada base salary 8juta, dan ini di Jogja jadi 4x UMR)
Atau gue harus bayar gaji duduk 20juta/bulan hanya karena dia ex-Gojek?
Good luck nemu company yang mau bayar lo 20 juta/bulan without proven result di era sekarang wkwk.
Sebenernya gue ga peduli sih mau orangnya ex-Gojek, ex-Tokopedia, yang penting bisa kerja.
Warga aktivis yg lantang bersuara sering dituduh “didanai asing”
Pdhl bs diliat, ini dia pulang kantor aja naik motor matik, bkn mobil mewah dgn strobo yg bebas macet.
Lu yakin orang kritis itu krn didanai asing?
Kritis itu nggak bikin kaya
Bbrp simply krn sayang Indonesia
Selama ini, banyak orang awam yang mengira bahwa LGBT adalah fenomena modern, pengaruh budaya asing dan kebarat-baratan yang tidak sesuai dengan budaya di Nusantara. Melalui "Suku Pelangi", penulis justru menyatakan sebaliknya.
Kegemaran menuding orang dibayar ini pasti lahir dari kebiasaan suka membayar orang untuk melakukan apa-apa yang dia kehendaki.
Dianggapnya semua orang bodoh, penakut, dan mental kere seperti pendukung-pendukungnya.