Maap kl engga menjawab pertanyaan, tp ini adalah hidup kami setelah menikah:
Nikah 6 Februari, sederhana banget di KUA. Belum sempat honeymoon, aku harus balik ke Beijing buat sidang proposal disertasi S3 di Tsinghua University.
Belum lama bersama, sekarang suami juga harus dikandangin 3 bulan tanpa komunikasi karena lolos PaPK TNI jadi dokter militer.
Kenapa nikah secepat itu? Bukan alasan yang istimewa, tapi kami sama-sama tahu, pada akhirnya kami akan tetap memilih satu sama lain.
Dan daripada berjuang sendiri-sendiri, kami memilih berjuang bersama.
Nasihat dari pernikahan kami yang seumur jagung. Walaupun tanpa komunikasi, terbatas jarak dan keadaan, setidaknya hati sudah pulang.
Pulang, beresin rumah, lalu tanpa sengaja lihat Mama masih pakai sajadah setipis itu.
Aku bilang,
“Ma, kok masih pakai yang ini? Nggak sakit lututnya? Aku kan sudah beliin yang tebal dan empuk…”
Mama cuma jawab pelan,
“Gapapa, Kak. Itu seserahan dari Ayah waktu nikahan dulu.”
Aku diam. 🥹
Ternyata 30 tahun berlalu, tapi hatinya masih sama.
Setia bukan cuma soal bertahan, tapi soal menjaga kenangan, menghargai pemberian, dan merawat cinta dengan cara yang paling sederhana.
Selama 24th untuk pertama kali sang anak melihat sang ayah menangis dengan begitu hebat. Kesedihan tsb karena kondisi sang istri (ibu) sudah masuk hari ke 11 di rumah sakit namun tidak ada kemajuan. Sekeras2nya laki2 akan menangis jika terjadi sesuatu kepada orang yang ia sayang.