#Pakistan 🇵🇰: Tehrik-e #Taliban Pakistan (#TTP) carried out attacks against multiple Pakistani posts in Khyber Pakhtunkhwa.
Gruup seemingly used several 107mm Type 63 HE (High-explosive) artillery rockets and PKM pattern machine gun.
Pendaki 16 Tahun Tewas Terjatuh ke Kawah Gunung Slamet
Pendakian Gunung Slamet berakhir tragis bagi M. Fahris Maulana (16), warga Pakelaran, Desa Sirampog, Kabupaten Brebes. Ia meninggal dunia setelah terjatuh ke dalam kawah Gunung Slamet, Kabupaten Tegal, pada Selasa (18/8/2026).
Fahris mendaki bersama tiga rekannya melalui jalur Basecamp Sawangan, Desa Sigedong, Kecamatan Bumijawa. Saat berada di bibir puncak, tanah tempat korban duduk tiba-tiba amblas karena labil. Korban pun terjatuh ke dalam kawah dengan perkiraan kedalaman 30-50 meter.
Laporan kejadian langsung ditindaklanjuti tim gabungan. Proses pencarian dan evakuasi berlangsung cukup sulit karena lokasi korban berada di medan terjal dan membutuhkan peralatan evakuasi vertikal.
Setelah berjam-jam dilakukan pencarian, jenazah Fahris berhasil dievakuasi melalui jalur Basecamp Permadi, Guci. Pada Rabu (19/8) sekitar pukul 02.10 WIB, jenazah tiba di jalur Permadi dan kemudian dibawa ke Puskesmas Bumijawa untuk pemeriksaan.
Setelah pemeriksaan selesai, jenazah diserahkan kepada keluarga untuk dimakamkan. Operasi SAR ditutup sekitar pukul 02.30 WIB.
Evakuasi melibatkan BPBD, Basarnas, PMI, TNI-Polri, Puskesmas Bumijawa, kelompok pencinta alam, relawan SAR, serta masyarakat. Insiden ini kembali mengingatkan bahwa kawasan sekitar kawah Gunung Slamet memiliki medan terjal dan tanah yang dapat labil sehingga sangat berisiko bagi pendaki.
#Indonesia 🇮🇩: West Papua National Liberation Army (#TPNPB-OPM) reportedly carried out an attack against Indonesian Forces.
Group used a possible Pindad SS1-V1 assault rifle and several bolt-action rifles (one with suppressor and COTS scope).
Devil is deleted
On Oct 7, Hamas terrorist Mahmoud Ali Mahmoud Taroush attacked an ambulance with RPG & killed 4 Israelis including 1 women & 2 kids in Sderot. He changed his identity & became food vendor.
But Mossad traced him
IDF deleted him
𝐁𝐞𝐫𝐝𝐚𝐫𝐚𝐡 𝐝𝐢 𝐓𝐚𝐧𝐠𝐚𝐧 '𝐒𝐚𝐮𝐝𝐚𝐫𝐚' 𝐒𝐞𝐧𝐝𝐢𝐫𝐢
Senin, 20 Juli 2026. Di ruas 𝐉𝐚𝐥𝐚𝐧 𝐓𝐫𝐚𝐧𝐬 𝐏𝐚𝐩𝐮𝐚, Distrik Seradala, Kabupaten Yahukimo, Papua Pegunungan, sekelompok pasukan bersenjata menggelar apa yang mereka sebut 𝘴𝘸𝘦𝘦𝘱𝘪𝘯𝘨.
Seorang perempuan diberhentikan. Ia tidak pernah sampai ke tujuannya.
Juru bicara TPNPB-OPM 𝐒𝐞𝐛𝐛𝐲 𝐒𝐚𝐦𝐛𝐨𝐦 menyatakan eksekusi mati itu dilakukan pasukan TPNPB Kodap XVI Yahukimo saat melakukan 𝘴𝘸𝘦𝘦𝘱𝘪𝘯𝘨 di Jalan Trans Papua, dan mengklaim korban "sudah masuk dalam daftar pencarian" karena diduga bekerja sama dengan aparat keamanan.
Sehari kemudian, Selasa 21 Juli, dua warga sipil lain, sepasang suami istri dieksekusi dengan tuduhan yang sama: agen intelijen militer Indonesia.
Ketiganya adalah 𝐨𝐫𝐚𝐧𝐠 𝐚𝐬𝐥𝐢 𝐏𝐚𝐩𝐮𝐚, dibunuh oleh kelompok yang mengklaim berjuang atas nama orang asli Papua.
Sebby tak menutupi doktrin di baliknya: "𝘛𝘗𝘕𝘗𝘉 𝘒𝘰𝘥𝘢𝘱 𝘟𝘝𝘐 𝘠𝘢𝘩𝘶𝘬𝘪𝘮𝘰 𝘵𝘪𝘥𝘢�� 𝘴𝘦𝘨𝘢𝘯-𝘴𝘦𝘨𝘢𝘯 𝘦𝘬𝘴𝘦𝘬𝘶𝘴𝘪 𝘮𝘢𝘵𝘪 𝘉𝘢𝘯𝘱𝘰𝘭, 𝘉𝘐𝘕, 𝘉𝘢𝘪𝘴, 𝘒𝘰𝘮𝘤𝘢𝘥 𝘥𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘭𝘶𝘳𝘶𝘩 𝘢𝘨𝘦𝘯 𝘪𝘯𝘵𝘦𝘭𝘪𝘫𝘦𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘪 𝘸𝘪𝘭𝘢𝘺𝘢𝘩 𝘰𝘱𝘦𝘳𝘢𝘴𝘪."
Sebuah pengumuman kebijakan pembunuhan tanpa pengadilan, disiarkan terbuka, tanpa rasa perlu bersembunyi.
Tuduhan "𝘮𝘢𝘵𝘢-𝘮𝘢𝘵𝘢" berfungsi sebagai lisensi pembunuhan universal.
Pendulang emas: mata-mata.
Perempuan di jalan: mata-mata.
Pilot asing: pembawa logistik militer.
Tuduhan itu tak pernah bisa diverifikasi, tak pernah diuji, dan tak perlu dibuktikan karena penuduh, hakim, dan algojonya adalah orang yang sama.
TPNPB bukan organisasi tunggal dengan satu komando yang bisa dilumpuhkan.
Mereka memiliki 36 Komando Daerah Pertahanan (Kodap) di seluruh Papua, dan faksi-faksinya beroperasi bak 𝘩𝘺𝘥𝘳𝘢.
Menangkap 𝐄𝐠𝐢𝐚𝐧𝐮𝐬 𝐊𝐨𝐠𝐨𝐲𝐚 tidak melumpuhkan 𝐊𝐨𝐩𝐢𝐭𝐮𝐚 𝐇𝐞𝐥𝐮𝐤𝐚.
Menembak 𝐄𝐥𝐤𝐢𝐮𝐬 𝐊𝐨𝐛𝐚𝐤 tidak menghentikan Batalyon 𝐖𝐨𝐬𝐞𝐦.
Setiap kepala yang dipenggal tak mematikan tubuhnya.
Koops TNI Habema - komando operasi gabungan yang dibentuk untuk Papua merespons dengan formula baku: belasungkawa, pengejaran pelaku, penguatan patroli.
"𝘒𝘰𝘰𝘱𝘴 𝘛𝘕𝘐 𝘏𝘢𝘣𝘦𝘮𝘢 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘵𝘦𝘳𝘶𝘴 𝘣𝘦𝘬𝘦𝘳𝘫𝘢 𝘴𝘦𝘤𝘢𝘳𝘢 𝘴𝘦𝘭𝘦𝘬𝘵𝘪𝘧, 𝘵𝘦𝘳𝘶𝘬𝘶𝘳, 𝘱𝘳𝘰𝘧𝘦𝘴𝘪𝘰𝘯𝘢𝘭, 𝘥𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘴𝘶𝘢𝘪 𝘩𝘶𝘬𝘶𝘮," 𝘶𝘫𝘢𝘳 𝘒𝘦𝘱𝘢𝘭𝘢 𝘗𝘦𝘯𝘦𝘳𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘓𝘦𝘵𝘬𝘰𝘭 𝘐𝘯𝘧 𝘔. 𝘞𝘪𝘳𝘺𝘢 𝘈𝘳𝘵𝘩𝘢𝘥𝘪𝘨𝘶𝘯𝘢.
Kalimat yang nyaris identik diucapkannya pada Mei saat delapan pendulang dibantai, pada Juli saat pilot ditembak, dan kini pada eksekusi tiga warga Seradala.
Dari seberang, Sebby Sambom menegaskan: kelompoknya tidak akan menghentikan penembakan bila akar persoalan politik antara pemerintah Indonesia dengan orang Papua tak diselesaikan,
dan TPNPB "��𝘬𝘢𝘯 𝘵𝘦𝘵𝘢𝘱 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘬𝘢 𝘭𝘢𝘱𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪 𝘬𝘰𝘵𝘢-𝘬𝘰𝘵𝘢 𝘥𝘪 𝘴𝘦𝘭𝘶𝘳𝘶𝘩 𝘛𝘢𝘯𝘢𝘩 𝘗𝘢𝘱𝘶𝘢."
Konflik ini membentuk simbiosis yang mematikan.
TPNPB membutuhkan kekerasan aparat untuk membenarkan eksistensinya - setiap warga sipil yang tewas dalam operasi militer adalah amunisi propaganda dan mesin rekrutmen.
Sebaliknya, pendekatan keamanan negara membutuhkan kekerasan TPNPB untuk membenarkan anggaran, pasukan, dan operasi berikutnya.
Setiap eksekusi seperti di Seradala adalah pembenaran bagi operasi berikutnya.
Negara cukup kuat untuk tidak kalah, tapi tidak cukup tepat untuk menang.
TPNPB cukup lemah untuk tidak merdeka, tapi cukup lincah untuk tidak musnah.
Dan di antara dua kekuatan yang sama-sama tidak bisa menang itu, 𝘸𝘢𝘳𝘨𝘢 𝘴𝘪𝘱𝘪𝘭 𝘗𝘢𝘱𝘶𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘴𝘢𝘵𝘶-𝘴𝘢���𝘶𝘯𝘺𝘢 𝘱𝘪𝘩𝘢𝘬 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘳𝘶𝘴-𝘮𝘦𝘯𝘦𝘳𝘶𝘴 𝘬𝘢𝘭𝘢𝘩.
Jalan Trans Papua, proyek kebanggaan yang dimaksudkan menyatukan Papua, kini menjadi lokasi 𝘴𝘸𝘦𝘦𝘱𝘪𝘯𝘨 maut kelompok bersenjata.
Tak ada metafora kegagalan negara yang lebih sempurna dari itu: 𝐚𝐬𝐩𝐚𝐥 𝐬𝐮𝐝𝐚𝐡 𝐬𝐚𝐦𝐩𝐚𝐢, 𝐭𝐚𝐩�� 𝐧𝐞𝐠𝐚𝐫𝐚 𝐛𝐞𝐥𝐮𝐦.
Ketika sebuah gerakan mulai mengeksekusi rakyat yang atas namanya ia mengangkat senjata, ia bukan lagi gerakan pembebasan, ia telah menjadi kekuasaan teror yang menjalankan hal persis sama dengan yang ia tuduhkan pada negara: 𝐦𝐞𝐦𝐛𝐮𝐧𝐮𝐡 𝐭𝐚𝐧𝐩𝐚 𝐩𝐞𝐧𝐠𝐚𝐝𝐢𝐥𝐚𝐧, 𝐦𝐞𝐧𝐮𝐝𝐮𝐡 𝐭𝐚𝐧𝐩𝐚 𝐛𝐮𝐤𝐭𝐢, 𝐝𝐚𝐧 𝐛𝐞𝐫𝐥𝐢𝐧𝐝𝐮𝐧𝐠 𝐝𝐢 𝐛𝐚𝐥𝐢𝐤 𝐤𝐚𝐭𝐚 "𝐩𝐞𝐫𝐣𝐮𝐚𝐧𝐠𝐚𝐧."
#yahukimo #saradala #PNPBOPM #𝐒𝐞𝐛𝐛𝐲𝐒𝐚𝐦𝐛𝐨𝐦