kami berlindung dari sifat malamnya memohon siangnya sudah lupa diri, dan selalu yakin bahwa tuhan tidak pernah tidur atas doa hamba-hambanya yg insomnia"
- adigank adigung adidas
- jer basuki mawa bergkamp
- urip mung numpang mendem
- tut wuri wajib nyeni
- slaman slumun solomon
- ing madya mangun kalcer
- urip iku europe
- wong liyo ngerti oppo
- leres niki sirr (yessir)
Apa yang terjadi pada Pee Wee Gaskins (PWG) adalah fenomena besar yang belum terulang dalam dua dekade terakhir di peta musik Indonesia. Bayangkan saja, ada band yang di-gatekeep secara ekstrem oleh penggemarnya sendiri, sampai-sampai melahirkan cultural elitism.
Di awal 2000-an, fans PWG yang dikenal dengan sebutan Dorks, tidak rela apabila musik PWG mulai dinikmati banyak orang (mainstream), terutama oleh orang-orang dari kalangan biasa atau bahkan jamet kabupaten. Menurut mereka, selera musik adalah simbol perbedaan "kelas sosial", jadi mereka memutuskan untuk banting setir menjadi haters. Selain itu, banyak juga haters yang latar belakangnya ialah mantan fans Killing Me Inside, yang kecewa karena Sansan memutuskan keluar dari KMI dan lebih memilih PWG.
Di situlah akhirnya muncul apa yang dulu kita kenal dengan Anti Pee Wee Gaskins (APWG). Anggota komunitasnya di fanpage Facebook dulu sampai ribuan dan tiap harinya tak pernah kehabisan bahan untuk menggunjing PWG. Setiap PWG merilis lagu, mereka jadi pendengar nomor satu. Setiap ada konser PWG, mereka rela datang dengan kaos sablon khusus bertuliskan “APWG Dogs” sambil membawa alat tempur berupa sandal, ember, sampai es cekek untuk dilemparkan ke arah panggung. Sangat brutal.
Kapan lagi coba kita bisa melihat fenomena aneh di mana ada paguyuban haters yang jauh lebih effort daripada fans-nya sendiri?
Dan terimakasi banyak kpd mas hepi aka bpk manajer, doi bilang: admin mpruy rajin ngerepost story org-org tu sbg bentuk apresiasi. Terenyuh bgt hati gue plz wkwk sukses selalu dah buat kalian, gak sabar bgt menyambut album baru!!