Wahai saudara, jangan hilang engkau dari syair itu, meski rumah rumah bait dan rima dihapus. Karena engkaulah sesungguhnya syair utama yang tak padam, kecuali engkau sendiri memilih padam
Pemusnahan identitas dan adat adalah cara membuat seseorang terputus untuk melanjutkan lantunan syair indah yang telah menggema berabad-abad dari para pendahulunya turun temurun
Sudahlah.. Dingin itu sudah aja sejak lama, pakailah jaket dan minum hangat. Karena orang dulu kalau dingin gak lantas repot bikin rapat malam-malam sambil telanjang dada di lapangan
Mending yang kalau cuman "panas" jadi "nanas", masih agak mirip, tapi kalau lidah udah bilang "aslii" padahal "palsu", nah itu baru lidah wajib disetrika karena kebanyakan makan kerikil
Dingin cuaca kadang tanda buat ngredam yang lagi panas, hati-hatilah makan, karena makan yang panas bikin lidah gak bisa ngomong "panas", bisanya "nanass"
Bersyukur itu bukan retas pikiran atas kekurangan. Justru sikap syukur sering diretas dengan dituduh sebagai biang kemiskinan. Syukur adalah kekayaan sebab aset kemanusiaan yang bersambung pada pemilik Otoritas tumbuh aktif. Aset besar yang sebagian besar anggap tak menguntungkan
Tahun tahun ke depan lebih tumbuhkan keberanian jangan menyuburkan ketakutan. Karena takut tak jarang menjelma menjadikan jiwa pecundang diri lebih gagah, dan jiwa pejuang dalam diri makin lemah
Mari temukan secara presisi, siapa pemegang otoritas tertinggi dalam hidup. Yakni satu-satunya pihak yang jika tak memberikan kemurahan satu jam saja kita tak dapat lagi hidup. Kita bisa 10 tahu atau lebih tanpa viral, jabatan, namun kita tak bisa hidup 1 jam saja tanpa nafas
Mari lebih menyadari bahwa pejuang sebenarnya adalah diri sendiri, dan pecundang utamanya juga bisa diri sendiri. Sebab si pecundang ini sangat mampu mengalahkan si pejuang jika hati & akal yang seharusnya mendukung si pejuang telah terpikat sihir betapa nyamannya jadi pecundang
Sebab dalam sanubari murni seorang hamba, ada kesanggupan meraih rejeki iman dengan biaya apapun bahkan jika harus dibeli dengan kerontang, kesulitan dan ancaman. Dan ada gelora nafsu yang sanggup menukar iman untuk membeli kemakmuran, kemudahan, dan kenyamanan dunia.
Manusia ditebarkan ke segala penjuru bumi, ada yang dikaruniai aman dan selamat setiap hari, ada pula yang dihadapkan pada huru-hara dan ancaman setiap hari. Tapi siapakah yang beruntung? adalah ia yang terus ingat dan waspada menjaga taqwa. Ia berpijak pada langit
Manusia ditebarkan pada segala penjuru bumi, ada yang berlimpah kemudahan ada yang beruntai kesulitan. Siapakah yang beruntung? adalah ia yang sanggup menundukkan kemalasan, ia berpijak pada langit
Ada manusia yang diletakkan pada bagian bumi yang subur, ada pula yang diletakkan di bumi yang tandus. Yang beruntung bisa lahir dari keduanya namun bisa juga hanya salah satu dari keduanya, sebab yang beruntung adalah ia yang sabar dan penuh syukur. Yang berpijak pada langit.
Manusia ditebarkan pada segala penjuru bumi, ada yang di bumi subur, ada di bumi tandus. Ada yang berlimpah kemudahan ada yang beruntai kesulitan. Ada yang dikaruniai aman dan selamat, ada yang dihadapkan pada huru-hara dan ancaman. Tapi siapakah yang beruntung?
Sebab kekayaan seharusnya untuk memakmurkan lebih banyak ladang, lebih banyak kepandaian, lebih banyak kesejahteraan, lebih banyak ranumnya buah-buah harapan dan kebahagiaan