Sedang Membaca:
π Alok ββ Arie Septaji
139 halaman
Penerbit Post Press
C1, November 2025
Sebelum membuka buku-buku tebal, ada baiknya yang dibuka seminggu lalu ini dibaca dan diselesaikan. Tapi kalau nanti bosan, ya buka yang lain :-D.
Temani baca dan nulis utas ini, yuk!
Buku ke-2 Agustus.
Hampir tidak ada cerita yang ampas, mungkin karena ini novelet? Semua berbobot, menyenangkan, dan setelah bab Melodi dan Cahaya aku merasa cerita ini bisa membuat pembaca ketagihan.
Kesan awal memang horor, bayangkan saja Kanjeng Ratu disebut di kalimat awal. Tapi percayalah ke belakang ia tak disebut, tak dijadikan momok seperti kisah-kisah yang berseliweran (termasuk di sekitarku). Yang jelas penulis berusaha mengajak kita untuk mendengar, peka, terhadap merka yang mungkin sekarang hanya menjadi angka.
Bagian penutup, ada kejutan ketika anak lelaki pengembala kerbau mengejar kerbaunya, ia tersandung tumpukan rumput. Tapi, baca saja sendiri.
β 4.5/5
Selesai!
139/139
Buku ini sangat mempesona, setelah beberapa kali mengulang ke bab-bab sebelumnya (tiap bab hanya 3-5 halaman), novel ini enggak ngoyo (maksa).
Meski di awal dibuka dengan "Dikersakke Kanjeng Ratu" (tahu lah siapa), sosok ratu hanya keluar satu kali dalam tulisan.
Ada tembang, ada cerita, dan mimpi Pertiwi agar mendengar mereka yang terlupakan.
Selesai!
139/139
Buku ini sangat mempesona, setelah beberapa kali mengulang ke bab-bab sebelumnya (tiap bab hanya 3-5 halaman), novel ini enggak ngoyo (maksa).
Meski di awal dibuka dengan "Dikersakke Kanjeng Ratu" (tahu lah siapa), sosok ratu hanya keluar satu kali dalam tulisan.
Ada tembang, ada cerita, dan mimpi Pertiwi agar mendengar mereka yang terlupakan.
Sedang Membaca:
π Alok ββ Arie Septaji
139 halaman
Penerbit Post Press
C1, November 2025
Sebelum membuka buku-buku tebal, ada baiknya yang dibuka seminggu lalu ini dibaca dan diselesaikan. Tapi kalau nanti bosan, ya buka yang lain :-D.
Temani baca dan nulis utas ini, yuk!
Banyak part buku ini membuat merinding.
Apa mungkin karena aku tumbuh di keluarga dan lingkungan yang menghayati hal serupa ya? Atau paling jelas adalah aku penakut. Hahahah.
Baru benar-benar membuka dan membaca jam 8 tadi.
30/139
Meski hanya di halaman ke 30 (sebetulnya kaiau dilihat dari jumlah halaman sudah memakan banyak ruang), ceritanya sudah mulai menghantam dada.
Agak merinding membaca buku ini, mungkin karena waktu sd dulu, 2 sepupu jauh meregang nyawa di laut selatan, tapi jasadnya masih dikubur layak, keluarga dekat masih memandikan.
Sedang di buku ini, meninggalnya orang terdekat pertiwi, tanpa pemakaman layak, ditambah 1 hal penting menjadi pembuka cerita yang membuat bulu roma meremang..
dulu loki (si oyen) ikut nganter ke masjid. aku ronda pun beberapa kali ikut juga.
sejak ada usu (si calico), kini tiap subuh cuma nganter sampai gerbang depan, tapi selalu nunggu di sana sampai aku pulang.
tentu saja dia begitu demi kestabilan draifud dan wetfud.