Robert De Niro mending fokus main film saja deh. Gak usah ikut-ikutan politik. Emang Robert De Niro sudah buat apa untuk negara? Gak usah nonton film Robert De Niro lagi lah. Tadinya ngefans, tapi sekarang malas lihat Robert De Niro ngatain presiden. 😌
Aku dan istri bikin aplikasi untuk belajar bahasa Jepang.
Fitur utama di app bisa diakses secara gratis, karena kami mau ngebantu sebanyak2nya orang belajar bahasa Jepang. Kami harap ketika temen2 udah bisa, ekonomi & hidup temen2 menjadi lebih baik dengan bahasa Jepang.
Awalnya bikin app ini untuk bantu murid2 yg belajar sama istri biar bisa belajar lebih maksimal (bantu hafalan kanji, nyari kotoba, latihan soal, dll)
Tapi setelah kita rilis, ternyata app ini bukan cuma dipakai sama murid2.
Akhirnya aku & istri lebih serius untuk kembangin appnya supaya:
• Bisa ngebantu lebih banyak orang Indonesia belajar bahasa Jepang untuk keperluan kuliah, kerja atau sekedar menikmati budaya Jepang.
• Berusaha buat app yg lebih simple untuk dipake karena kebanyakan app yang udah ada terlalu kompleks
• Jadi app bahasa Jepang yang dibuat khusus untuk orang Indonesia
• Bisa bantu orang yang belajar supaya lebih mudah mempelajari kotoba berdasarkan levelnya (saat ini kita masih fokus di N5 & N4)
Kita bikin app ini berdasarkan pengalaman & knowledge yg kita punya -> istri sebagai pengajar bahasa Jepang & aku sebagai orang yg lg belajar bahasa Jepang.
Kita sering diskusi seru & serius setiap aku pulang kerja dan setiap istri selesai ngajar soal fitur yang akan dibuat di app ini.
Jadi semoga isi dari app ini bisa lebih relate.
Tega2nya, penderitaan orang lain dieksploitasi dgn begitu vulgar demi kepentingan menaikkan citra program.
Konten paling bajingan pada 2026. Dan ini baru Maret.
Kmaren terima kabar resmi Pak @NataliusPigai2 membatalkan kehadiran di @KompasTV. Apa alasan? Versinya banyak yg nyampe ke saya. Hy mau bilang, sbg pejabat publik hrs jaga mulut. Anda bukan kitab suci yg pasti benar dan butuh tafsir untuk dimengerti. Case closed! Thanks. Tabik
Pak @NataliusPigai2 saya setuju dgn bapak, seringkali profesor itu dibesar2kan saja. Sy izin mau belajar memahami HAM dari bapak. Sy mau diskusi dan debatkan satu persatu kasus HAM di indonesia yang katanya bapak udah amat pahami itu. Sebut saja kapan dan dimana sy bs belajar🙏
Yoi. Fans k-pop di Indonesia ini sering melakukan apa yg disebut dlm ekonomi digital sbg unpaid labor alias buruh gratisan.
Mereka berpromosi gratis, menerjemahkan konten, sampai2 mau2nya melakukan pembelaan masif kpd idolanya di media sosial.
Tp dr POV ekonomi industri Korea, fans k-pop Indonesia ini cuma angka2 yg bisa dieksploitasi. Mereka dipandang sbg sekelompok manusia2 yg cuma berguna dlm efisiensi biaya pemasaran.
Nah, ketika suatu massa fans K-Pop Indonesia cuma dianggap sbg angka untuk mendongkrak popularitas, industri kreatif Korea memanfaatkan hasil eksposur fans Indonesia tsb agar bisa menjual artis2nya dgn harga lebih mahal ke pasar Amerika dan Eropa.
Dlm konteks sosiologi-ekonomi, ketika seseorang memberikan tenaga secara cuma2 demi keuntungan pihak lain yang sudah kaya, posisi orang tersebut dalam hierarki ekonomi dianggap golongan yg sangat rendah, mudah dimanfaatkan, mudah diekploitasi, mudah dikibuli.
Tak heran kalau sebagian masyararat Korea dgn enteng menyebut fans k-pop Indonesia-yg sebetulnya telah berkontribusi luar biasa dlm pasar volume negaranya- nggak lebih dari monyet belaka.
Ironis.