"Mereka mencuri rotimu, lalu memberimu remah-remahnya. Lalu mereka menuntutmu untuk berterimakasih atas kedermawanan mereka. Oh, kurang ajarnya mereka"
- Ghassan Kanafani
Job market 2018:
- ekonomi berasa cerah banget gara-gara tech boom
- filosofi karier: "Pindah kantor tiap 1 tahun biar gaji naik 50%!" Job hopping max.
- tolak ukur sukses: Seberapa keren nama kantor baru lo di LinkedIn.
Job market 2026:
Bapak diminta gantiin pampers anak. Masangnya miring. Anak bocor. Kasur basah.
Istri dateng, ganti ulang, beresin kasur, ganti sprei.
Bapak berdiri di samping, angkat bahu: "Yaudah kamu aja deh, Ma. Aku emang gak jago ginian."
Bapak merasa itu pengakuan jujur atas kelemahan Bapak. Rendah hati. Bahkan mungkin lucu.
Pak, itu BUKAN kelemahan. Itu STRATEGI. Dan strategi itu punya nama di dunia psikologi: Weaponized Incompetence. Ketidakmampuan yang dijadikan senjata.
"apalagi dadanya yang besar pasti mengundang pandangan banyak pria nafsuan"
trashy men always see women as objects and the way they're so comfortable sexualizing women's bodies. god you're disgusting piece of shit.
seporsi kemenangan adalah ketemu pria yg gaperlu diajarin caranya jadi pria dewasa, inisiatif,act of service, never underestimate small things, berbicara dengan nada tenang ketika emosi dan when i'm wrong he tells the truth without judge.
@LinkedInHelp hi my account has been restricted because my content doesn't comply with the policies. I didn't create any content. Please help me resolve this issue
this is why knowing ur partner's love language is important, so you can "loving ur partner in a way they can feel loved".
yang kamu kasih adalah yang dia mau, jadi gak ada debat "loh tp aku udah effort bgt?!?!" tp sananya ttp ga ngerasa disayang.
just because your mom struggled alone doesnt mean another woman should have to go through the same thing. bukannya berpikir untuk mutus rantainya, malah dijadikan standar. mikir gimana caranya rumah tangga tuh ayahnya bertanggung jawab, ibunya merawat, keduanya saling menopang, bukan malah glorifying absent roles.
emang undoubtedly banyak ibu-ibu yang kuat, banyak dari mereka dipaksa bertahan krn dituntut oleh keadaan, tapi bukan berarti itu sistem yang ideal ygy
Kalau diskusinya masih sebatas “laki-laki provide rumah, mobil, lalu perempuan provide apa,” berarti pemahamannya masih di level transaksi, bukan pernikahan.
Karena hari gini, banyak perempuan bisa provide rumah, mobil, dan kehidupannya sendiri. Itu bukan lagi sesuatu yang eksklusif milik laki-laki.
Yang jauh lebih langka dan jauh lebih mahal adalah kemampuan membangun dan mengelola kehidupan bersama.
Pernikahan bukan semata biaya rumah dan mobil. Itu bagian obrolan level permukaan banget 😅
Biaya terbesar dalam pernikahan adalah hal yang tidak bisa dibeli pake uang: kematangan emosional, kapasitas intelektual, stabilitas karakter, dan kemampuan mengelola rumah tangga sebagai sebuah sistem.
Apalagi kalau you memutuskan punya anak.
Biaya membesarkan anak bukan hanya makan dan sekolah. Tapi kemampuan orang tua menjadi figur yang stabil, hadir, dan layak dicontoh. Kemampuan mengelola emosi. Kemampuan membuat keputusan jangka panjang. Kemampuan menjaga struktur keluarga tetap utuh. Semua itu ngga bisa digantikan oleh uang.
Jadi kalau diskusinya masih berhenti di “siapa provide rumah dan mobil,” honestly bukan perempuannya yang perlu dipertanyakan.
Tapi kesiapan berpikir laki-lakinya.
Karena pernikahan bukan tentang siapa membawa apa. Tapi tentang apakah dua orang punya kapasitas untuk membangun sesuatu yang jauh lebih besar dari diri mereka sendiri?
Kalau masih melihatnya sebagai transaksi, mungkin memang belum siap untuk menikah.
jujur aja ya..
walaupun berat hidup di Jakarta.
gua tetap memilih 30 juta perbulan, dari pada 15 juta perbulan tapi di kota kecil yg kata orang-orang nyaman itu.
🙃🙏
"tahunya kasi bom peledak"
TAHU MERCON KAH MAKSUD LOE
btw iyh, org indo makan tahu mercon..
(mercon in english is firework, in korean is 불꽃)
keren gk? kita emg debus. jangan mcaem macem km y🙏🙏🙏