Samsat di Indonesia ini memang sebuah wujud nyata dari sebuah mesin waktu
Disaat kita setiap hari, setiap waktu menggenggam dunia dalam sebuah gawai cerdas dengan koneksi 5G dan sanggup memproses segala urusan mulai dari sekedar bertanya kabar, melihat sisi lain dunia, membuat karya seni digital, memproses identifikasi wajah secara presisi dan bahkan melakukan transaksi keuangan dalam hitungan detik, namun semua kehebatan teknologi abad 21 itu berubah ketika kita memasuki pintu gerbang sebuah bangunan bernama Kantor Samsat, karena disana seolah waktu ditarik mundur sepanjang 3 dekade
Memasuki bangunan yang kebanyakan masih didominasi bangunan lawas itu sejujurnya memberikan sebuah pemandangan dan paradoks yang getir, disaat para petugas yang duduk di meja dihadirkan dan ditemani seperangkat komputer canggih berjarinagn internet kencang yang terhubung dengan basis data nasional dengan slogan "Online" atau "Satu Pintu", namun diluar jedela persegi dan didepan meja berdiri para warga yang membutuhkan dan akan menyetor hasil keringat mereka demi pembangunan dan agar taat pajak menunggu sembari menggengam map yang berisi berbagai lembar buram berwarna hitam putih
"Ini fotocopy KTP kurang 1 lembar mas, silahkan fotocopy dulu didepan" ucap seorang petugas dengan datar
Sebuah kalimat sederhana yang menjadi tamparan serius bagi konsep digitalisasi & efisiensi, warga yang sudah mendaftarkan diri via aplikasi, mengunggah berbagai berkas dengan gawai mereka dan memverifikasi data diri secara biometrik dirumah berharap agar tidak menyita banyak waktu tetap harus mengalah keluar dari gedung ketika berhadapan dengan birokrasi tatap muka mencari lapak fotocopy, mengeluarkan beberapa ribu rupiah hanya untuk beberapa lembar yang kemudian akan distapler dan ditumpuk bersama lembar kertas lain yang entah kapan terakhir kali diperiksa
Berulang kali kita mendengar soal integrasi data, digitalisasi, efisiensi birokrasi dan sebagainya diberbagai mimbar seminar, namun pada eksekusinya masih tetap saja gagal untuk sekedar menyelesaikan oermasalahan paling mendasar dari pelayanan masyarakat. Kertas fotokopi samsat bukan hanya sekedar lembaran kertas, namun kertas tersebut adalah sebuah simbil dari KETIDAKPERCAYAAN SISTEM KEPADA DATA MEREKA SENDIRI, serta sebuah simbol keengganan untuk sekedar menghilangkan kebiasaan lama yang sudah terlalu "nyaman"
Menurut saya, selama selembar kertas fotokopian ini masih jadi syarat mutlak untuk membuktikan siapakah diri kita dan apa yang kita miliki didepan loket pemerintahan, maka selama itu pula narasi dan slogan "Indonesia Digital" hanya akan berakhir menjadi sebuah slogan, harapan dan impian indah yang tersangkut dimesin fotocopy
“Gimana cara ngatur tidur kalau kerjanya sering shift malam?”
Trust me, ini tuh masalah yg sering ditanyain ke gue.
Gmn cara ngatur tidur biar sehat kalau harus begadang demi kerja? Kan ga mungkin resign, mau kerja apa lagi?
Oke, ini thread khusus buat kita2 yg kerjanya shift!
Terharu liat pemulung lgi milih sepatu sama anak nya,
Bapakny ngomong
"Kmu cari yg bagus ya nak"
Tapi tiap anakny milih,slalu ada petugas yg nepis tangan si anak sampai sepatu ny jatuh,
Gw langsung tegur petugasnya
"Apa dia ga layak punya sepatu baru pak"
Dijawab
"Ini mesjid mas"
Tempat di mana kamu bekerja itu ya buat kerja. Bukan tempat buat cari “temen”. Orang kantor itu cuman “partner kerja” bukan “temen”.
Kamu nganggep orang kantor itu “temen”, suatu saat dijegal masalah kerjaan baru deh ngerasa nyeselnya ngasih label “temen”.
Dulu wa pernah ada satu masa dimana ngerasa iri dengan pencapaian temen2 seumuran yg udah bisa going overseas, bisa beli ini itu, ngelanjut pendidikan, dll,✨sukses✨lah ibaratnya
Tapi seketika disadarin ketika ngeliat gambar ini, so do you! :)