Semoga kita semua, terutama sesama perempuan, bisa berhenti menjadikan rahim perempuan sebagai ruang publik.
Perempuan tidak berutang kronologi atas tubuhnya kepada publik.
Kalau hidup kamu menyebalkan, jangan jadiin perempuan lain buat jadi samsak. Cari kegiatan lain. ❤️
loh tapi katanya yang dikecam perilaku asusila di tempat umumnya? kok posternya isinya mempermasalahkan orientasi seksual?
jadi yang bener pelaku di-DO karena ciuman di perpus atau karena dia gay?
I hope everyone who’s ever come understands that this space i’m trying to build can be a safe place for people who want to start reading again, or simply return to the habit of reading.
Because I genuinely think reading matters. No matter what you read.
Ada book club yang ngasih space buat diskusi was wes wos dari pagi sampe malem, ada juga yang cuma ngadain silent reading tiap pertemuan. Tinggal dipilih aja guys, gausah diributin.
Baca mah tinggal baca. Yg gak boleh tuh bredelin, bakar buku, sama ngebubarin kegiatan diskusi.
I always say this whenever people ask what kind of essence i want bukudarisaku (my book club) to carry.
To me, reading is one of the simplest things to start doing again, and that’s exactly the feeling I want to bring into every gathering. Hence the whole “book date” concept.
Gerbong perempuan di belakang itu bukan policy failure. You know what is?
Negara gagal mendidik laki-laki to not be a huge misogynistic perverted piece of shit is a policy failure,
Negara ga menyelesaikan proyek double track disaat KAI punya Argo Bromo yang merupakan salah satu kereta jarak jauh tercepat mereka is a policy failure,
KAI sebagai pemilik rel kalah sama preman yang menolak adanya rambu/penghalang resmi is a policy failure,
Preman dibiarkan dan dipelihara oleh negara untuk jadi attack dog mereka terhadap kelompok oposisi / kalangan politik/agama tertentu is a policy failure,
Perusahaan taksi punya policy yang ga manusiawi kepada driver mereka, ga ngelatih dengan baik, dan mengancam denda kalau diderek bukan oleh derek perushaan is a policy failure,
Tata kota dan pengembangan kota satelit Jakarta yang tidak beorientasi pada transit is a policy failure.