@pastelarasaty Kalau kamu nanya mana yg lebih penting buat aku: hidupku atau hidupmu, aku bakal jawab hidupku. Eits, jangan marah dulu, karena kamulah hidupku 😊
Take pendidikan hari ini:
Mungkin kita terlalu cepat menyimpulkan bahwa siswa kita ini “kurang critical thinking”.
Padahal, banyak siswa sangat kritis di luar pelajaran.
- Bisa membandingkan harga skincare.
- Menganalisis strategi game.
- Membaca pola algoritma TikTok.
- Menilai mana konten yang settingan.
- Membaca ekspresi teman.
- Mencari celah diskon.
- Memahami konflik sosial yang rumit di kelas.
Tapi begitu masuk di pelajaran, mereka sering terlihat pasif.
Sering kali karena mereka tidak punya cukup pengetahuan, kosakata, dan konteks untuk berpikir kritis di topik itu.
Critical thinking bukan tombol yang bisa langsung dinyalakan di semua bidang.
Anak bisa kritis di hal yang dunianya ia pahami, tapi tampak “kurang mampu berpikir kritis” di topik yang bahasanya terdengar asing, konteksnya jauh dari keseharian mereka, dan pengetahuan dasarnya masih bolong-bolong.
PR kita adalah memperkaya dunia pengetahuan anak agar pikirannya punya bahan untuk bekerja.
In Japanese, “tsundoku” means collecting books and letting them pile up - not for neglect, but for the joy of knowing they're there, full of untold stories.
📍Kinokuniya Book Store, Tokyo
Menurut saya, budaya bertanya tidak lahir hanya dari kalimat:
“Ayo, siapa yang mau bertanya?”
Budaya bertanya lahir ketika anak berkali-kali mengalami bahwa pertanyaan mereka diterima dengan serius, tidak dipermalukan, dan benar-benar membantu mereka belajar.
Bayangkan dua siswa sedang belajar matematika.
Siswa A
Mengerjakan:
- 20 soal pecahan
- lalu 20 soal persentase
- lalu 20 soal perbandingan
Siswa B
Mengerjakan:
- pecahan
- persentase
- perbandingan
- pecahan
- perbandingan
- persentase
- dan seterusnya secara acak
Banyak guru dan siswa akan mengira Siswa A belajar dengan cara yang lebih baik. Ternyata, sering kali justru Siswa B yang belajar lebih bermakna dan mendalam.
Metode yang digunakan Siswa B disebut interleaving.
Menurut penelitian oleh Douglas Rohrer dan Kelli Taylor, siswa yang berlatih matematika dengan soal campuran lebih mampu memilih metode penyelesaian yang tepat dibanding siswa yang berlatih secara berkelompok (blocked). Mereka berargumen bahwa interleaving meningkatkan kemampuan diskriminasi antar tipe masalah.
Penjelasan yang paling sederhana adalah bahwa interleaving membantu siswa belajar membedakan kapan suatu strategi digunakan dan kapan tidak digunakan.
Referensi:
Rohrer, D., & Taylor, K. (2007). The shuffling of mathematics problems improves learning. Instructional Science, 35(6), 481–498.
Feynman Technique adalah metode belajar yang dipopulerkan oleh Richard Feynman, seorang fisikawan peraih Nobel yang terkenal karena kemampuannya menjelaskan konsep rumit dengan bahasa yang sangat sederhana.
Prinsip utamanya adalah:
"Kalau Anda tidak bisa menjelaskan sesuatu dengan sederhana, kemungkinan Anda belum benar-benar memahaminya".
Langkah 1: Pilih Konsep yang Akan Dipelajari
Langkah 2: Jelaskan Seolah Mengajar Anak Kecil
Langkah 3: Cari Bagian yang Membuat Anda Tersendat
Langkah 4: Kembali ke Sumber Belajar
Langkah 5: Sederhanakan Lagi
Tiap buka LinkedIn, ngeliat orang-orang pada mantep banget. "Got promoted.", "Excited to share...", dll.
Meanwhile, gua gini-gini aja😭
Sampe akhirnya nemu teori ini👇
Namanya Iceberg Illusion.
Kaya gunung es yg keliatan di permukaan cuma 1/8 nya. 7/8 sisanya tenggelam. Ga keliatan. Ga di-share.