Ironic fact:
Skripsi, tesis, disertasi, PKM, bahkan project-project sains yang banyak bikin produk inovatif hanya berakhir di tumpukan laporan pertanggungjawaban, ngga pernah bener-bener diproduksi massal dan berakhir di market.
I see a lot of them. Ketika dana project cair dan habis, yaudah, end of story. Gatau salah di mana.
Nasionalisasi Perusahaan Asing di zaman Soekarno adalah lore sejarah yang paling tersembunyi di sejarah Indonesia.
1965-1967, 1998 banyak yang bahas.
1957-1965? Sedikit yang bahas.
Padahal, ini kunci mengapa orang-orang Old Money punya rumah mewah besar di Pondok Indah.
Ketika genosida 1965-67, terjadi pencurian tanah besar-besaran, betul. Tetapi bandingkan dengan jumlah tanah yang dicuri selama 1957-1965. Open season cuy. Tanah perkebunan yang bisa lu curi pada masa Nasionalisasi Perusahaan Asing bukan 1 tumbak, tapi 100.000 hektar.
Sistem yang dibentuk selama periode Nasionalisasi Perusahaan Asing ini kemudian matang dan berhasil menjadi mesin perampok tanah yang sangat efektif pada periode 1965 dan seterusnya.
Jadi kaum PJKA Pulang Jum'at Kembali Ahad Bandung-Sukabumi 4 jam perjalanan ternyata belum sebanding sama akamsi Sukabumi-Ujunggenteng yg masih sekabupaten tapi 6 jam perjalanan.
Tau ga kalo ternyata "boring business" yang ga keren, ga perlu banyak ide, dan ga bisa dicantumin di linkedin, TAPI justru bisnis yg jelas pasarnya, jelas barangnya, dan jelas untungnya.
Ada yang bisa nebak bisnis apa?
Clue: Bukan nyawit
Fenomena baru di daerah yg kutemui:
Banyak perangkat desa beralih jadi pegawai SPPG.
Masalahnya urusan administrasi sebelumnya banyak belum beres lalu dilimpahkan ke orang baru belum kompeten.
Kemarin habis dateng kondangan temen SMP, kebetulan ada salah satu temen yg sekarang jadi Kepala SPPG.
Dari awal ketemu, dia antusias buat nanyain kondisi masing2.
"Eh, kalian sekarang lagi kerja dmn?"
"Kalo kerja kaya gitu, gajinya brp sih?"
Pada akhirnya dia pengen nunjukin, kalo sekarang jadi kepala SPPG, gaji pokoknya 7 jt/bulan. Belum lagi tunjangan dan benefit lainnya.
😊😊😊
Turut berduka cita untuk TS yang meninggal ..
Karena sudah mulai ada korban lagi dari campak ini mau edukasi tentang campak
Kenapa campak dibilang berbahaya ?
Karena campak = patogen airborne paling menular yang pernah diketahui manusia
Satu orang dengan COVID bisa menularkan ke 2–3 orang
Satu orang dengan cacar air bisa menularkan ke 10 orang
Satu orang dengan campak? DELAPAN BELAS ORANG ❗️❗️
Dan yang lebih menakutkan dari penularannya bukan ruamnya aja
....
Kampus2 top di amerika itu selalu punya Dana Abadi yg jumlahnya nggilani. Harvard misalnya punya dana abadi setara Rp 900 triliun; sementara Yale punya Rp 700 triliun.
Dana abadi UI baru sekitar Rp 250M; ITB Rp 300anM, dan UGM sekitar Rp 175M.
Kalau misal UI punya dana abadi Rp 10 triliun, maka dengan return 6%, bisa dapat Rp 600 milyar per tahun. Lumayan bisa buat bantuan UKT agar gak terlalu mahal.
Karena punya dana abadi yg melimpah, kampus2 top amerika selalu punya team fund manager kelas dunia. Bahkan team investasi Yale dianggap sebagai salah satu team investasi terbaik dunia.
Rata-rata return Yale investment selama 10 tahun sekitar 9,2% per tahun. Angka return yg bagus dan di atas rata-rata.
Dengan dana abadi Rp 700 triliun, Yale Investment bisa dapat cuan hampir Rp 70 triliun per tahun. Angka yg amat signifikan.
Melalui return dana abadi itu, kampus top amerika bisa melakukan bantuan beasiswa kepada ribuan mahasiswnya; dan juga membiaya aneka kegiatan akademik.
Kampus2 top amerika selalu punya dana abadi besar karena TRADISI ALUMNUSnya yang selalu mau sumbang dana dengan angka fantastis.
Alumnus di hampir semua kampus amerika, selalu berlomba menyumbang paling banyak bagi almamaternya, utamanya saat acara reuni.
Di RI, tradisi menyumbang almamater itu kayaknya masih kurang.
Misal total lulusan ITB selama ini ada 120 ribu.
Kalau misal ada 34% lulusan ITB yang sudah sangat sukses (probabilitas yg amat masuk akal), dan masing2 mau sumbang ke ITB Rp 50 juta, maka akan terkumpul dana abadi Rp 2 TRILIUN.
Faktanya, amat sedikit alumuns ITB atau UI yg mau sumbang almamaternya dengan jumlah yg memadai.
Jumlah total lulusan UI jauh lebih banyak : 500 ribu.
Kalau 10%nya saja mau sumbang Rp 25 juta, maka akan terkumpul Rp 1,25 triliun.
Faktanya amat sedikit yg mau sumbang.
Di RI, kebanggaan thd almamater baru sebatas retorika dan emosi. Belum dapat diwujdukan dalam bentuk bantuan finansial nyata dan berdampak riil.
Keliling ke tetangga buat maaf-maafan itu ga selamanya buruk.
Salah satunya adalah bisa tau kondisi kesehatan tetangga yg udah sepuh.
Kemaren waktu keliling ke salah satu tetangga yg kondisinya menurun, ibuk tanya2 tentang kondisinya, trs sebelum pamit ibuk ngomong,
"sehat-sehat terus ya mbahh"
Tetanggaku yg sepuh tsb kyk langsung ngusap air mata yg keluar, seolah jarang ada yg tanya bagaimana kesehatannya saat ini.
Ucapan tsb mungkin sepele bagi sebagian orang, tapi bagi beliau rasanya seolah ada yang memeluknya dengan erat di tengah perjuangannya melawan sakit sejauh ini.
Perbandingan konsentrasi belanja kementerian/lembaga pada pemerintahan SBY (2006), Jokowi (2016), dan Prabowo (2026) serta perkembangan anggaran Transfer ke Daerah (TKD) dan Dana Desa
Sumber: Kompas, 2-3-2026
Boikot Elsevier.
Ini bukan hanya ajakan, melainkan sudah terjadi di universitas-universitas besar di negara Barat.
MIT, yang dulu menyebabkan kematian aktivis open access Aaron Swartz, sudah memutus kontrak dengan Elsevier sejak 2020. MIT pindah pakai ekosistem sendiri yang terbuka dan gratis.
UC, yang menyumbang 10% publikasi paper Amerika per tahun, juga memboikot.
Di Eropa juga sama. Max Planck Institute di Jerman juga sudah memutus hubungan dengan Elsevier sejak 2018.
Kasusnya kebanyakan sama. Elsevier diboikot bukan karena zionis atau Israel, melainkan sesederhana karena luar biasa sangat rampok, control freak, dan mengekang sampai tidak masuk akal.
Misal, ada praktik jahat bernama paket bundel jurnal, yaitu universitas dipaksa beli akses ke jurnal-jurnal yang sebenarnya tidak ia butuhkan. Praktik belagu seperti inilah yang membuat universitas-universitas Barat sangat kesal dan memutus kontrak.
Indonesia?
Sistem hak cipta Elsevier, yang dirancang mata-mata Mossad bernama Robert Maxwell 🇮🇱, telah merusak ekosistem ilmiah sebumi.
Bayangkan, tiap publish paper harus bayar pungli.
Berarti, semakin banyak paper yang dipublish, semakin banyak pungli yang disetor ke Elsevier.
Misal, waktu gw disuruh publish 1 paper, gw harus setor uang pungli ke jurnal sebesar Rp 3 juta.
Kalikan uang ini dengan seluruh populasi peneliti, mahasiswa, dan dosen di seluruh universitas di planet bumi, tiap tahun, selama puluhan tahun. Semua uang cash pungli itu masuk ke kantong Elsevier dkk.
Komersialisasi ekstrem, ngawur, dan ugal yang diterapkan sistem kolonialisme jurnal Elsevier ini menghasilkan profit bisnis yang sangat fantastis.
Di Indonesia, yang untung bukan hanya para pemilik modal Elsevier, melainkan juga seluruh antek-antek Zionisnya di akademia Indonesia. Musuh-musuh negara yang jahat ini menyabotase dan mencekik kemajuan IPTEK bangsa Indonesia, karena mereka berliur menginginkan sebagian jatah uang pungli hak cipta jurnal.
Keuntungan fantastis memunculkan insentif fantastis.
Insentif fantastis memunculkan sistem fantastis.
Peneliti dan dosen di seluruh dunia termasuk di Indonesia dipaksa terus-terusan bikin paper oleh Sistem akademia yang jadi fantastis.
Publish or perish.
Akibatnya, sebagian besar paper ilmiah yang dibikin ngawur dan ngasal, bahkan dipalsukan.
Misal, hampir separuh paper di bidang psikologi di muka bumi tidak bisa direplikasi.
Gimana caranya bikin paper yang benar kalau penelitinya diperas jadi pabrik produksi paper?
Bukan hanya peneliti, mahasiswa di bawah para peneliti nya pun ikut gepeng diperas. "Tahun ini bapak harus tembus Q2, kamu tolong bikinkan."
Setelah papernya dipublikasi, tidak ada yang baca, karena terlalu banyak spam paper yang dipublikasi. Risetnya pun sia-sia dan terlupakan.
Yang diinginkan Elsevier bukan paper, melainkan uang cash yang dipungli bersama dengan submisi paper itu. Oleh Elsevier, uangnya diambil dan papernya dibuang.
Meanwhile, dosen dan penelitinya dan mahasiswanya depresi dan kena gangguan psikologis karena hanya ditipu dan diperas menjadi pabrik sumber uang komersial Elsevier.
Bakti hidup mereka terhadap ilmu pengetahuan diinjak-injak begitu saja.
Ekosistem IPTEK dunia, termasuk dunia ketiga dan negara-negara Muslim, rusak dan kacau karena racun "Publish of Perish" yang ditebar sekelompok pebisnis dan konglomerat Yahudi serakah seperti Robert Maxwell. Replication Crisis merajalela.