Sangar Spain mengulangi tradisi menjuarai Euro dulu sebelum World Cup keren Euro-2008 World Cup-2010 Euro-2012 akankah Euro-2024 ✅ World Cup-2026 ✅ selanjutnya apakah bisa Euro-2028 ?.
Kemajuan teknologi harusnya dinikmati dalam bentuk rasa syukur, konteksnya adalah “Rahmatan lil ‘Alamiin”, bukan superioritas satu kelompok atas kelompok lain.
Gagasan mengenai kalender Islam tunggal berbasis teknologi satelit adalah sebuah visi besar yg berpotensi menyatukan umat.
Namun, agar visi ini tidak menjadi pemicu perpecahan baru, kita perlu melihatnya melalui kacamata yg lebih jernih dan bijaksana bahwa kemajuan ilmu pengetahuan merupakan hidayah yg mengintegrasikan penentuan kalender hijriah melalui kemajuan teknologi mutakhir.
Kemajuan teknologi satelit bukanlah alat untuk memenangkan satu metode di atas metode lainnya. Sebaliknya, teknologi ini adalah titik temu (kalimatun sawa) yg menyempurnakan kekurangan manusiawi pada kedua metode tradisional.
Bagi penganut Rukyat (NU), Satelit sejatinya adalah “mata” yg diletakkan di luar atmosfer. Jika selama ini rukyat terbatas oleh gumpalan awan, lengkung bumi, dan keterbatasan optik mata, maka kamera resolusi tinggi pada satelit adalah bentuk “Rukyat Kontemporer” yg ribuan kali lebih presisi.
Jadi ini bukan meninggalkan sunnah melihat hilal (rukyat), sebaliknya memuliakan sunnah tersebut dengan penglihatan yg paling jernih.
Dan bagi penganut Hisab yg selama ini dipedomani oleh kelompok Muhammadiyah, data posisi bulan yg dihasilkan oleh satelit adalah validasi empiris bagi perhitungan matematika.
Teknologi ini mengubah derajat ketelitian dari estimasi menjadi kepastian mutlak. Ini adalah ”Hisab Terverifikasi”, di mana angka-angka di atas kertas mendapatkan bukti fisiknya secara real-time.
Jadi jelas bahwa “Sains” (pengetahuan) sebagai Rahmatan lil 'Alamiin, bukanlah milik organisasi atau kelompok tertentu.
Sains yg melahirkan Teknologi adalah bahasa universal yg di anugerahkan Allah kepada manusia. Dalam konteks Islam, kemajuan teknologi adalah perwujudan dari sifat Rahmatan lil 'Alamin (rahmat bagi semesta alam).
Jika teknologi ini berhasil menyatukan kalender Islam, maka manfaatnya dirasakan oleh seluruh umat manusia, karena akan tercipta keteraturan sosial, kepastian ekonomi, dan kedamaian ibadah.
Mengklaim teknologi sebagai “Kemenangan” satu kelompok adalah “bocah banget”, sebab itu bentuk penyempitan makna rahmat Tuhan yg sangat luas.
Sains hadir untuk melayani tuntutan kemanusiaan (seperti pesawat, hp, laser, dll), bukan untuk memvalidasi ego kelompok.
Jika ada anggapan bahwa penggunaan teknologi satelit berarti satu kelompok “menyerah” kepada kelompok lain, itu merupakan klaim eksklusivitas yg sangat keliru.
Karena logikanya NU tidak kehilangan identitas rukyat-nya, karena satelit pada dasarnya melakukan observasi visual (melihat), dan Muhammadiyah tidak kehilangan identitas hisab-nya, karena sistem satelit bekerja berdasarkan algoritma perhitungan yg sangat rumit.
Satelit adalah harmoni antara akal (hisab) dan penginderaan (rukyat). Ketika keduanya menyatu dalam teknologi, perbedaan antara “melihat” dan “menghitung” menjadi tidak relevan lagi, karena keduanya memberikan hasil di satu titik persamaan kebenaran ilmiah.
Jadi clear ya, menerima Satu Kalender Tunggal berbasis teknologi adalah bentuk kedewasaan beragama. Ini adalah langkah maju di mana umat Islam berhenti berdebat tentang “cara melihat” dan “cara menghitung”, tetapi mulai fokus pada “makna dari apa yg dihitung dari teknologi penglihatan.”
Note:
Penjelasan Literasi Rakyat ini hanya mencoba merujuk pada metode dan cara berpikir “Islam Rahmatan lil ‘Alamiin”.
Wallahu’alam bishawab..🙏
Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir, menegaskan bahwa Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) adalah keniscayaan bagi umat Islam di tengah arus globalisasi.
Haedar Nashir menjelaskan bahwa KHGT merupakan respons terhadap keniscayaan globalisasi, yang ia gambarkan sebagai “kereta raksasa” yang dapat menggilas siapa saja yang tidak siap, namun menjadi kendaraan penting bagi mereka yang mampu menghadapinya.
Dalam perspektif universum, Islam disebut sebagai agama kosmopolit yang mengandung nilai-nilai universal, sebagaimana termaktub dalam Al-Qur’an, “Wama arsalnaka illa rahmatan lil alamin” (QS. Al-Anbiya: 107), yang menegaskan bahwa risalah Islam ditujukan untuk seluruh alam dengan nilai-nilai rahmat.
Haedar menyoroti sejarah Islam yang telah menunjukkan sifat globalnya sejak dulu. Islam menyebar dari Jazirah Arab hingga ke Magribi, Eropa (Andalusia, Balkan), Rusia, Asia Timur, dan Asia Tenggara, meskipun dengan keterbatasan transportasi pada masa itu. “Ini bukti nyata bahwa Islam telah mengglobal sejak awal, sebagai wujud rahmatan lil alamin,” ujarnya.
Oleh karena itu, di era globalisasi yang menghapus sekat administratif, kehadiran kalender hijriah global menjadi mutlak untuk menyatukan umat Islam dengan satu tanggal dan satu hari di seluruh dunia.
Ia menegaskan bahwa Muhammadiyah tetap berpijak pada identitas kebangsaan Indonesia, sebagaimana diwujudkan dalam dokumen resmi Pancasila dan Darul Ahdi Wasyahadah. Namun, untuk kepentingan universal, kalender global ini dianggap sebagai langkah strategis yang tidak dapat dihindari.
“Kita tidak lagi bisa hanya berbasis kalender lokal, kecuali untuk keperluan tertentu. Kalender global adalah jihad akbar dan ijtihad umat Islam menghadapi perkembangan global,” tegas Haedar.
Dari perspektif kesatuan, Haedar menekankan pentingnya ukhuwah (persaudaraan) sebagai keniscayaan untuk menjaga keutuhan umat Islam, baik di Indonesia maupun dunia. Ia merujuk pada Al-Qur’an, “Innamal mukminuna ikhwah” (QS. Al-Hujarat: 10), yang memerintahkan umat Islam untuk bersaudara, serta perintah untuk berpegang teguh pada tali Allah dan tidak berpecah belah (QS. Ali Imran: 103).
Namun, ia mengakui bahwa ukhuwah sering sulit dipraktikkan dalam dua isu besar: konflik Palestina dan penentuan kalender hijriah.
Haedar menyebut penentuan kalender hijriah sebagai “jalan terjal” bagi Muhammadiyah, terutama karena perbedaan pandangan di tingkat lokal dan global. Ia mencontohkan kebingungan umat awam ketika tanggal penting seperti 1 Ramadan, 1 Syawal, atau 10 Zulhijah berbeda-beda, bahkan hingga dua atau tiga hari, padahal peredaran bulan, matahari, dan bumi bersifat eksak.
Meski demikian, Haedar menegaskan bahwa Muhammadiyah terbuka untuk dialog dan musyawarah demi mencapai mufakat. “Prosesnya mungkin lama, bisa 10, 50, atau 100 tahun, tapi Muhammadiyah akan sabar menanti,” ujarnya.
Ia juga mengapresiasi inisiatif individu dan organisasi lain yang telah merintis gagasan serupa, serta mengajak semua pihak untuk menyisihkan kepentingan pribadi demi persatuan umat. Kalender global tunggal mungkin punya kekurangan, tapi sistem lain juga tidak sempurna. “Mari duduk bersama untuk satu tujuan: satu hari, satu tanggal,” ajaknya.
Dari sisi saintifik, Haedar menjelaskan bahwa Muhammadiyah menggunakan metode hisab sebagai salah satu parameter kalender global, di samping prinsip satu hari satu tanggal untuk seluruh dunia. Ia menegaskan bahwa hisab dan rukyat sama-sama memiliki dasar dalam Al-Qur’an dan hadis, seperti hadis dari Ibnu Umar, “Fain gumma faqdurullahu,” serta ayat yang menyebutkan kepastian peredaran matahari dan bulan (QS. Yunus: 5).
Haedar menekankan bahwa perubahan metode tidak perlu ditakuti, karena metode hanyalah wasilah (sarana) untuk mencapai tujuan. Muhammadiyah sendiri pernah beralih dari rukyat ke hisab hakiki, menunjukkan keterbukaan terhadap pembaruan.
Ia juga merujuk pada konsep falsifikasi dalam ilmu pengetahuan Barat, yang membuka peluang untuk menguji dan memperbarui teori. “Jika kalender global ini dikritik, kami terbuka. Bahkan ijtihad yang salah pun mendapat pahala,” ujarnya, mengutip prinsip bahwa ijtihad adalah kunci peradaban Islam.
Haedar berharap kalender ini tidak hanya menjadi milik Muhammadiyah, tetapi milik umat Islam secara keseluruhan. “Hilangkan nama Muhammadiyah jika perlu, yang penting kita bersatu untuk satu kalender global,” katanya.
Ia juga menyoroti kebutuhan generasi milenial dan Gen Z akan kepastian kalender, serupa dengan kalender Masehi yang telah mapan, seperti perayaan Natal yang selalu jatuh pada 25 Desember di seluruh dunia.
Meski tantangan masih besar, Haedar optimistis bahwa dengan dialog, musyawarah, dan keterbukaan terhadap ilmu pengetahuan, kalender hijriah global tunggal dapat terwujud. “Jika tidak sekarang, mungkin 25, 50, atau 100 tahun ke depan. Tapi jangan terlalu lama, karena generasi muda menanti,” pungkasnya.
Sumber: https://t.co/Ki6OYgVFy8
#SaatnyaKalenderHijriahGlobalTunggal #SiapLebihAwal #Muhammadiyah
Edan obrolan e apik polll.
Satu hal masih ter ingat dari materi pak Hato di Muallimin mungkin 4-6 tahun lalu kalimatnya ±
"jika hidup mu di usia 50 tahun masih bekerja keras maka ada yang salah dalam hidup yang telah kau jalani dari usia 25-50 tahun"
https://t.co/G24UeWYDSj
Genuine greatness should not be judged solely by results and the number of medals and titles won. Style of play, and the ability to make difficult technical skills look easy should also be a factor. So too longevity, not just the ability to win the Olympic or world title, but the ability to maintain the highest-level, tournament after tournament, year after year. Conduct and sportsmanship shown, regardless of success or failure; and legacy, the influence the athlete has on the sport should also all be considerations when defining true greatness.
Any athlete who fulfils all those criteria has a genuine claim to be referred to as GREAT and perhaps even the G.O.A.T.
If ever a badminton player exemplified all these attributes, it’s Hendra Setiawan.
His playing record speaks for itself. Olympic Gold. 4 x World Champion. 2 x Asian Games Gold. 2 x Asian Champion, 2 x All England winner. But perhaps most remarkable of all, he contested at least 1 final every year for 23 consecutive years.
But Setiawan will be remembered for far more than just his outstanding playing record. Obviously adaptable having achieved success with more than one partner, he made the technically complex sport look easy and effortless. A natural and elegant player with amazing anticipation, especially at the net. He had great deception due to his relaxed hitting technique, and astute awareness of where to place the shot, making him tactically clever and wise. He appeared calm and nerveless, yet resilient and reliable when under pressure. And he always displayed great sportsmanship, humble in victory, yet generous in defeat.
In other words, he was
🇭 Humble
🇪 Elegant
🇳 Nerveless
🇩 Deceptive
🇷 Reliable
🇦 Astute
🇸 Sporting
🇪 Effortless
🇹 Tactical
🇮 Inspirational
🇦 Amazing Anticipation
🇼 Wise
🇦 Adaptable
🇳 Natural
I suppose all good things must come to an end, but anyone who’s witnessed Hendra’s ability on a #badminton court will miss him terribly, as it’s finally the end of a remarkable era.
Hendra Setiawan’s outstanding career, and his style of play has inspired a generation. What an amazing legacy.
Happy retirement to a true GREAT of the game.
📷@badmintonphoto
Selalu kagum dengan beliau. Semua persamaan perhitungan dan hal hal yang sulit selalu tersampaikan secara baik lugas dan mudah di fahami.
Selamat purna tugas Prof. Bambang Triatmodjo