When Albert Einstein met Charlie Chaplin in 1931, Einstein said, "What I admire most about your art is its universality.
You do not say a word, and yet the world understands you." "It's true." Replied Chaplin, "But your fame is even greater. The world admires you, when no one understands you."
@indepenSumatera Bahasa Melayu hanya salah satu bagian dari rumpun bahasa pembentuk Bahasa Indonesia.
Bahasa Melayu sama posisinya dengan bahasa daerah dalam rumpun bahasa di Indonesia. Bahasa Indonesia menyerap berbagai bahasa daerah dari Melayu, Sunda, Jawa dan lain2 menjadi Bahasa Indonesia.
@ajiwar Aji, kurs USD terhadap IDR berdasarkan Purchasing Power Parity (PPP) tidak sama dengan kurs pasar. PPP mengukur daya beli produk & jasa lokal terhadap yang setara di Amerika.
Dalam PPP, daya beli Rupiah adalah sekitar Rp. 4700-4800 per USD.
Jadi USD 8,3 = Rp. 39000 per hari.
📨 Kalau punya akun Gmail, wajib baca ini
AI Google sekarang memindai email dan lampiran, rekening koran, dokumen pajak, surat medis, semuanya. Fitur ini aktif secara default.
5 langkah ini cara untuk mematikannya, tombolnya tersembunyi di dua tempat:
Pada 1983, Soeharto memulai operasi pembasmian premanisme di seluruh Indonesia yang disebut Petrus.
Pada 1983 juga, Deng Xiaoping juga memulai operasi pembasmian premanisme di seluruh China yang disebut Strike Hard Campaign.
Apa bedanya?
Sederhananya, Soeharto tidak berniat membasmi preman.
Soeharto malah melestarikan dan melembagakan premanisme. Ia ingin menjadi bos preman se-Indonesia, seperti Don Corleone dalam film mafia "The Godfather".
Dengan kata lain, Soeharto sendiri adalah preman. Petrus hanyalah konflik antar preman, yaitu gerombolan mafia Soeharto vs gerombolan-gerombolan kecil anarkis dan tak teratur.
Berkat Petrus, Soeharto, istri, dan anak-anaknya pun berhasil menjadi the Lord of Crime. Barangsiapa tidak mau tunduk dan setor pada hierarki mafia preman se-Indonesia yang diketuai dinasti Soeharto, ia akan dibantai di jalanan.
Berapa yang mati? Sekitar ribuan. Hmm. Cuma segitu?
Berapa yang ditangkap? Sebenarnya tidak banyak-banyak amat. Hmm.
Ternyata, yang penting para preman tidak boleh ribut dan harus patuh pada Soeharto. Boleh memalak, boleh merampok, boleh memungli selama diawasi oleh rezim Orde Baru yang sangat memprioritaskan harmoni ala Jawa. Dan tentunya, selama setoran pungli dibayar.
Karena tujuannya hanya ini doang, yang dibunuh dan ditangkap selama Petrus tidak usah terlalu banyak. Yang penting para preman menjadi takut dan patuh dengan rezim.
Sistem ini masih berlangsung hingga hari ini. Premanisme masih merajalela di Indonesia.
Ayo kita bandingkan dengan pemberantasan preman di China di bawah rezim Deng Xiaoping.
Mirip seperti di Indonesia, saat itu China sangat penuh sesak dengan kriminalitas, pencurian, pembunuhan, pemalakan, dan pemerkosaan oleh preman dan bandit di jalanan, sebagaimana dapat dilihat di film-film kungfu zaman dahulu.
Kota-kota besar China dikuasai triad, mafia, preman, bandit, dan rampok yang melimpah gila-gilaan dan saling tawuran. Mereka sangat merajalela sejak kekosongan kekuasaan daerah akibat anarki Teror Revolusi Kebudayaan.
Bagaimana Strike Hard Campaign menghadapi masalah ini?
Deng Xiaoping menurunkan tentara dan polisi untuk membantai massal preman, kriminal, mafia, triad, begal, dan gerombolan rampok yang meresahkan kota-kota di China. Markas-markas mafia dikepung tentara, diserang, dan seluruh isinya dibantai.
Puluhan ribu preman dan rampok diciduk aparat bersenjata dari gang dan kos-kos kumuh China, diseret ke jalan, dan ditembak mati bergelimpangan di tempat. Eksekusinya tidak sok misterius, melainkan diumumkan, terbuka, terang-terangan, dan ditonton penduduk setempat.
Petrus tidak pernah diumumkan. Tiba-tiba saja mayat sudah bergelimpangan di jalanan, entah siapa mereka. Strike Hard Policy diumumkan, dikaji, dan dievaluasi.
Itu saja? Ternyata tidak. Pembeda terbesar Strike Hard Campaign dengan Petrus bukan di jumlah kematian, melainkan jumlah penangkapan.
Ternyata, 1.7 juta orang preman dan bandit berhasil diburu dan ditangkap aparat China pada 3 tahun pertama operasi.
Inilah perbedaan terbesar antara Strike Hard Campaign dan Petrus: penangkapan.
Kalau anti-premanisme Indonesia disetarakan dengan China dalam rasio populasi, seharusnya Indonesia saat itu minimum menangkap 200.000 orang preman dan bandit.
Sayangnya, Soeharto bukan menangkap, melainkan hanya meneror dan melembagakan.
Kalau preman bisa dikaryakan untuk mencari setoran pungli, kenapa harus ditangkap? Kalau ormas bandit bisa disewa untuk memukuli aktivis dan melindungi aset-aset keluarga Cendana, kenapa harus ditangkap?
Meanwhile, rezim Deng Xiaoping mendata, menangkap, dan menumpas sekitar 200.000 kelompok ormas rampok dan gerombolan kriminal yang berbeda dari kota-kota. Padahal jika ditotal, jumlah anggota mereka mencapai jutaan. Tapi tetap ditumpas.
Tidak seperti Soeharto, Deng Xiaoping tidak ingin menjadi the Lord of Crime di China. Yang ia inginkan adalah menumpas, memusnahkan, membersihkan total. Ia tidak mau hanya membunuh segelintir kecil, tetapi harus langsung membasmi seluruh jutaan populasi preman dan bandit di seluruh China sampai kosong.
Petrus selesai begitu saja tahun 1985 dengan tidak jelas. Preman di Indonesia tetap merampok dengan buas, tetapi kali ini dengan teratur dan dengan setoran pungli.
Preman-preman yang sudah dijinakkan ini bahkan direkrut dan menjadi bagian inti dari rezim di Indonesia, seperti dalam Peristiwa Kudatuli 1996 dan Kerusuhan Mei 1998. Pada Mei 1998, Asia Week mengabarkan bahwa beberapa jenderal membawa ratusan preman dengan pesawat dan kereta dari Timor Timur dan ke Jakarta. Indonesia masih menjadi Negara Preman sampai hari ini.
Meanwhile, Strike Hard Campaign ternyata tidak selesai tahun 1985, tetapi terus berlanjut secara rutin selama 20 tahun kemudian sampai premanisme liar di jalanan China benar-benar habis dan kosong.
Hari ini kota-kota besar China teratur, sangat aman, dan relatif bersih dari binatang ormas dan preman jalanan liar yang useless dan tak terkontrol seperti tumbuhan hama Indonesia.
Di Indonesia, sejak kejatuhan keluarga Cendana dan fragmentasi struktur premanisme nasional, banyak binatang ormas preman itu yang berpindah majikan ke dinasti politik daerah dan berbagai institusi. Di China, potensi ini tidak ada karena pentolan-pentolan semacam ini sudah dibasmi selama program antikorupsi yang dimulai sejak 2011.
Dalam program antikorupsi itu, 4 juta orang pejabat ditangkap. Lebih banyak pejabat yang ditangkap daripada preman. Pentolan-pentolan pejabat yang paling korup dan bodoh dihukum mati dan ditembak di kepala. Benefit program anti korupsi ini banyak, salah satunya adalah bahwa preman yang tersisa takkan punya calon majikan korup untuk melindungi.
Tidak heran reformasi industrialisasi pabrik China sangat berhasil dan sangat maju. Ketika kita bikin pabrik di Shenzen, kita takkan didatangi 40 kelompok preman buas rampok yang berbeda. Cukup hubungi 12345, maka para binatang preman belagu dan berliur akan segera dicari dan ditumpas habis.
Hari ini pertumbuhan industri dan pabrik di China sangat maju.
---
Deng Xiaoping membasmi preman. Soeharto adalah preman.
81 tahun merdeka, semoga kita bisa terus belajar bahwa negara tidak cukup hanya dikelola dengan niat baik, tapi juga butuh bertindak dengan data dan pengetahuan, bukan wangsit. Berbasis kebutuhan masyarakat, bukan usulan segelintir pejabat.
"Tuhan Tidak Membutuhkan Pengacara"
Ada sesuatu yang cukup mengagumkan dalam sejarah agama: manusia berhasil menemukan Tuhan yang mahakuasa, mahatahu, dan sempurna, lalu segera menyimpulkan bahwa Tuhan tersebut membutuhkan mereka untuk membela reputasinya.
Tuhan menciptakan alam semesta.
Manusia kemudian membuat akun media sosial untuk menjelaskan mengapa Tuhan tidak salah.
Sebuah pembagian kerja yang menarik. Tuhan mengatur kosmos. Manusia mengatur kolom komentar.
• Tuhan dan departemen humas
Bayangkan seorang manusia berkata: "Allah Maha Tahu."
Lalu ketika seseorang menemukan kontradiksi dalam suatu tafsir:
"Jangan begitu. Maksud ayatnya harus dipahami secara kontekstual."
Seseorang menemukan persoalan moral:
"Jangan menilai dengan standar moral modern."
Seseorang mempertanyakan mukjizat:
"Itu wilayah iman."
Seseorang meminta bukti:
"Iman tidak membutuhkan bukti seperti sains."
Seseorang menunjukkan problem historis:
"Kita harus memahami konteks abad ke-7."
Seseorang mengajukan keberatan filosofis:
"Jangan terlalu banyak menggunakan logika."
Akhirnya Tuhan yang Maha Kuasa tampak memiliki departemen hukum, departemen komunikasi, departemen sejarah, dan tim crisis management.
Sungguh beruntung Tuhan memiliki manusia. Kalau tidak, reputasi-Nya mungkin sudah hancur 🤡 Maha Tahu, tetapi harus dijelaskan
Ada ironi yang lebih dalam. Jika Tuhan memang Maha Tahu, tentu Dia mengetahui sejak awal bahwa manusia akan mengalami kesulitan memahami pesan-Nya. Jika Dia Maha Kuasa, Dia tentu mampu menyampaikan pesan secara lebih jelas. Jika Dia menginginkan semua manusia mengetahui kebenaran yang sama, tentu Dia mampu membuat bukti yang tidak bergantung pada lokasi geografis, bahasa, budaya, dan periode sejarah tertentu.
Tetapi kenyataannya manusia menerima berbagai klaim wahyu melalui bahasa manusia, disampaikan dalam konteks sejarah tertentu, diwariskan melalui komunitas, ditafsirkan oleh ulama, diperdebatkan oleh mazhab, dan kemudian dipertahankan melalui ribuan halaman literatur.
Setelah itu, ketika muncul ketidakjelasan, manusia berkata:
"Ini adalah ujian."
Memang praktis. Kalau pesan jelas, Tuhan yang berbicara. Kalau pesan membingungkan, manusia yang kurang memahami 🤡 Sebuah sistem komunikasi yang hampir mustahil kalah.
• Tuhan selalu menang dalam interpretasi
Ada permainan intelektual yang sangat menarik dalam apologetika. Jika sebuah teks tampak sesuai dengan pengetahuan modern:
"Subhanallah! Ini bukti bahwa Al-Qur'an mendahului sains."
Jika teks tampak bertentangan dengan pengetahuan modern:
"Itu bukan makna sebenarnya."
Jika sebuah ayat tampak ambigu:
"Bahasanya sangat dalam."
Jika maknanya jelas tetapi bermasalah:
"Konteksnya harus diperhatikan."
Jika konteksnya tetap bermasalah:
"Jangan menerapkan standar moral modern kepada masyarakat abad ke-7."
Jika masih belum selesai:
"Allah lebih tahu."
Tuhan selalu keluar sebagai pemenang.
Bukan karena argumennya selalu kuat.
Tetapi karena aturan permainannya dirancang sedemikian rupa sehingga setiap hasil dapat ditafsirkan sebagai kemenangan.
Ini bukan lagi pencarian kebenaran. Ini pertandingan yang wasitnya juga menjadi pemain 🤡
• Ketika ayat membutuhkan laboratorium
Kemudian datang fenomena yang lebih menghibur: mukjizat ilmiah.
Ayat yang selama berabad-abad tidak dibaca sebagai buku teks fisika tiba-tiba menjadi "bukti ilmiah" setelah ilmuwan menemukan sesuatu.
Sebuah istilah yang sebelumnya memiliki makna linguistik dan historis tertentu tiba-tiba dibaca ulang agar cocok dengan kosmologi modern.
Kemudian muncul deklarasi:
"Bagaimana mungkin seorang manusia abad ke-7 mengetahui ini?"
Pertanyaan yang bagus. Tetapi ada pertanyaan yang lebih penting:
Apakah teks tersebut memang mengatakan hal itu sebelum pengetahuan modern tersedia?
Karena jika sebuah teks baru terlihat ilmiah setelah sains memberikan jawabannya, kita mungkin sedang melihat bukan prediksi, melainkan reinterpretasi retrospektif.
Kalau saya menulis:
"Langit mengembang."
Lalu seribu tahun kemudian seseorang menemukan ekspansi alam semesta dan berkata:
"Lihat! Buku ini mengetahui kosmologi modern."
Saya mungkin akan senang. Tetapi saya tidak akan buru-buru menyebut diri saya fisikawan.
• Tuhan yang membutuhkan konteks
Ada satu pola lagi. Ketika teks menguntungkan:
"Ini firman Tuhan yang universal."
Ketika teks bermasalah:
"Jangan lupa konteks abad ke-7."
Menarik.
Universal ketika ingin menjadi hukum. Historis ketika ingin menghindari kritik. Modern ketika ingin mengklaim mukjizat ilmiah. Kontekstual ketika berhadapan dengan problem moral. Teks yang sama ternyata memiliki kemampuan metamorfosis yang luar biasa. Ia dapat menjadi apa saja yang diperlukan oleh argumen pada saat itu. Universalitas ketika dibutuhkan. Historisitas ketika terpojok 🤡 Metafora ketika literalitas bermasalah. Literalitas ketika metafora tidak menguntungkan 🤡 Mungkin bukan teksnya yang berubah. Yang berubah adalah kebutuhan pembelanya.
• Dan kemudian datang moralitas
Persoalan menjadi lebih serius ketika manusia mulai berkata:
"Karena ini berasal dari Tuhan, maka ini pasti baik."
Di sini kita memasuki salah satu problem filsafat moral tertua.
Apakah sesuatu menjadi baik karena Tuhan memerintahkannya?
Atau Tuhan memerintahkannya karena sesuatu itu baik?
Jika yang pertama, maka moralitas tampak bergantung pada kehendak.
Jika yang kedua, maka standar kebaikan tampaknya tidak sepenuhnya identik dengan kehendak Tuhan.
Tetapi dalam banyak diskusi agama, pertanyaan tersebut sering dianggap kurang sopan.
Padahal pertanyaan tidak menjadi salah hanya karena jawabannya membuat metafisika kita tidak nyaman.
• Kesucian sebagai tameng
Ada teknik lain yang sangat efektif:
Sakralkan pertanyaannya sebelum pertanyaan itu diajukan.
"Jangan mempertanyakan Tuhan."
"Jangan menghina wahyu."
"Jangan meragukan Nabi."
"Jangan menilai moralitas masa lalu dengan standar sekarang."
"Jangan membaca teks secara kritis."
Akhirnya tersisa sebuah sistem yang ingin disebut sebagai kebenaran universal, tetapi meminta pengecualian dari metode pemeriksaan universal 🤡
Ironisnya, semakin sakral sebuah klaim, semakin besar perlindungan yang dimintanya dari kritik. Padahal kalau sebuah klaim benar, kritik seharusnya menjadi ancaman yang relatif kecil. Kebenaran tidak membutuhkan imunisasi terhadap pertanyaan.
• Tuhan tidak membutuhkan kita
Dan mungkin inilah bagian yang paling lucu.
Jika Tuhan BENAR-BENAR Maha Kuasa, Dia TIDAK MEMBUTUHKAN saya. Tidak MEMBUTUHKAN ente. Tidak membutuhkan ustadz. Tidak membutuhkan apologet. Tidak membutuhkan influencer Muslim. Tidak membutuhkan thread Twitter sepanjang 37 unggahan. Tidak membutuhkan video satu jam berjudul:
"JAWABAN TELAK UNTUK PARA ATEIS!!!" 🤡
Dan tentu tidak membutuhkan seseorang yang marah-marah sampai kelojotan di kolom komentar karena ada orang mempertanyakan satu ayat.
Kalau Tuhan memang Tuhan, eksistensi-Nya tidak bergantung pada performa debat umat-Nya.
Tetapi jika sebuah keyakinan hanya dapat bertahan ketika semua kritik dibungkam, semua keberatan direinterpretasi, dan semua pertanyaan diberi status dosa, mungkin yang sedang dilindungi bukan Tuhan.
Mungkin yang sedang dilindungi adalah sistem keyakinan manusia tentang Tuhan.
Dan itu dua hal yang sangat berbeda.
• Penutup
Saya tidak keberatan seseorang percaya kepada Allah.
Silakan.
Saya juga tidak keberatan seseorang menjadikan Al-Qur'an sebagai kitab suci dan Islam sebagai jalan hidup.
Silakan.
Yang menarik adalah ketika manusia mulai berbicara seolah-olah mereka memiliki akses langsung ke pikiran Tuhan, lalu marah ketika orang lain tidak menerima interpretasi mereka.
Di situ muncul paradoks yang indah:
Tuhan diklaim Maha Tahu, tetapi pengikut-Nya sering bertengkar seolah-olah mereka yang memegang hak cipta atas pikiran-Nya.
Mereka berdebat tentang apa yang Tuhan maksud. Berperang tentang apa yang Tuhan inginkan. Mengutuk orang atas nama Tuhan. Menghakimi orang atas nama Tuhan. Membela Tuhan dari kritik. Seolah-olah Tuhan adalah selebritas yang reputasinya sedang terancam.
Mungkin sesekali manusia perlu mundur dan bertanya:
Jika Tuhan memang Maha Kuasa, mengapa kita begitu sibuk menjadi pengacara-Nya?
Barangkali karena manusia memang memiliki kelemahan yang sangat khas: MEREKA MENCIPTAKAN Tuhan yang Maha Kuasa, LALU MERASA Tuhan membutuhkan mereka.
Tuhan tidak membutuhkan pengacara. Tetapi ego manusia tampaknya sangat membutuhkan Tuhan untuk dibela.
🤡🤡🤡
‼️ THEY HAVE BEEN LYING TO YOU ABOUT OIL FOR 150 YEARS. 🛢️
Oil is not rare. It is not made from dead dinosaurs. It is the second most common liquid on Earth after water and it is literally the planet’s lifeblood.
The entire “fossil fuel” scam was invented by the Rockefellers and the Smithsonian in the late 1800s to create artificial scarcity and jack up prices to insane levels. They fed you the biotic lie so you would believe oil is some finite dinosaur soup that is about to run dry. Total fabrication.
Oil is abiotic. It is a liquid mineral cooked deep in the Earth’s mantle under crushing pressure and scorching heat. It is the natural lubricant for tectonic plates and the grease that keeps the planet’s massive gears turning smoothly.
That is why wells drilled dry in the 1970s are filling back up again today. The Earth is pumping fresh oil from below and regenerating it nonstop. It does not run out. We are sucking the lubricant out of the planet’s engine and now the whole machine is starting to shake.
More earthquakes. Creaking faults. Grinding plates. Coincidence? No. We are stripping the oil that keeps the Earth’s crust sliding properly and the system is literally seizing up.
The so-called “fossil theory” is the greatest economic hack in human history. Real crude oil has almost zero biological markers. No nitrogen, no phosphorus, nothing that would survive if it came from dead organisms. It is pure polymeric hydrocarbons, primordial stuff from the Earth’s own formation.
Thomas Gold tried to warn the world. He proved hydrocarbons like methane and oil rise from the deep mantle, not from ancient swamps. The establishment destroyed his reputation because the truth would collapse their entire control grid.
If people knew oil is basically tap water for the planet, endlessly generated from below, the entire parasitic geopolitics of wars, sanctions, and price manipulation would evaporate overnight.
They do not want you to know the Earth makes its own oil.
They need you scared, dependent, and paying through the nose while they bleed the planet dry.
Wake up. The dinosaurs had nothing to do with it. This is the biggest lie they ever sold us and it is killing the engine of the world.
@SternDrewCrypto@CaptKylePatriot