No jokes today. Please keep Andri Yunus from KontraS in your prayers.
He was attacked with acid last night and suffered burns covering about 24% of his body, including his eyes, hands, and chest. 🤲
Warga sipil biasa, tak bersenjata, nerobos hotel mewah memprotes pembahasan diam-diam UU TNI.
Warga sipil biasa, tak bersenjata, jadi saksi judicial review UU TNI di MK.
Warga sipil biasa, tak bersenjata, mengungkap pelaku kerusuhan Agustus 2025.
Kita menyebutnya: NYALI
Dini hari ini, temanku Andrie Yunus disiram air keras ketika sedang mengendarai motor. Dia mengalami luka yang cukup parah.
Andrie adalah pemberani yang terus melawan kejahatan HAM, militerisme dan ketidakadilan. Dia tidak pernah bisa dibungkam.
Mengerikan sekali negara ini.
Temen gue kena PHK.
HR kasih dokumen "Perjanjian Bersama Pengakhiran Hubungan Kerja."
Suruh tanda tangan hari itu juga. "Ini formalitas aja, Pak."
Dia sign. Di dokumen tertulis pesangon Rp 25 juta.
Seminggu kemudian dia ngobrol sama temen yang pernah di-PHK. Masa kerja hampir sama, gaji hampir sama. Temennya dapat Rp 73 juta.
Bedanya Rp 48 juta. Hilang karena dia sign tanpa ngitung.
Lo kena PHK? Jangan sign sebelum cek 3 hal ini:
di jkt, lebih murah masak sendiri atau warteg?
Jawabannya, warteg.
Warteg itu:
- Ngambil profit margin tipis bgt
- Punya supplier yg jauh yg lebih murah dari supermarket / pasar di kota
- mereka nggak gaji pegawainya terlalu tinggi
- imej usaha rakyat "kecil": bisa jual derita
Considering harga dan effort nya, memang jauh lebih baik makan di warteg. they're basically cooking it for free
hitungannya lebih menarik once kita lihat makanan luar negeri kyk makanan jepang dan italia.
di restoran mid-high untuk makanan negara tersebut yg bahan bahan per porsi nya 15 ribuan, mereka jual bisa sampe 70-150 ribuan. apalagi makanan itali, apaan anjing pasta sama tomat kaga pake protein lu jual 110 ribuan. ini karena:
- mereka pake supplier yg harganya lebih mahal, export quality ingredient
- organisasi nya kebanyakan lumayan mahal gaji karyawannya
- masuk makanan scr image "mewah" -> ormas, orang pajak narget, sbg kelas menengah yg kudu diperas sekering mungkin
Intinya, beli warteg, belajar masakan itali
@cursedkidd mmaf itu transfir nysar dari akun prusahan ku yg brgerak di bidang preservasi musang luwak pandan trenggalek, 🤾♂️, tdi gk sngaja dibjak sma budhe,,
Marty Supreme mestinya jadi tontonan sport movie from zero to hero yang aman, inspiratif dan bersahabat tentang sepak terjang atlet pingpong berbakat, kan? Nyatanya, ia gak seramah itu. Saya gak pernah liat film olahraga macam ini, yang nyeret penontonnya ikutan masuk ke mode anxiety penuh, bikin capek mental, tapi anehya, adiktif, terutama ngeliat kelakuannya Timothée Chalamet yang kacau sebagai Marty Mauser, atlet ping-pong berbakat yang harus kejepit antara ambisi dan kenyataan hidup ketimbang pertandingan tenis mejanya sendiri.
Bukan karena pertandingannya kurang intens, malah sebaliknya, adegan pingpong-nya dibikin brutal, cepat, keras, bikin napas ikut sesak tiap liat Marty adu bola. Tapi kadar stressnya lebih tinggi datang dari karakter Marty sendiri: cowok ini punya ego sebesar meja pingpong internasional, begitu percaya diri kalau ia ditakdirin jadi yang terbaik, sampe rela ‘ngebakar’ semuanya demi mencapai "supremacy" itu.
Chalamet gila! Ini jelas penampilan terbaiknya. Dia udah bikin Marty itu charming tapi juga ngeselin! tipe-tipe orang yang pengen kita dukung penuh tapi sekaligus juga pengen kita tabok keras biar kapok! Tiap kali dia senyum lebar sambil bilang "I have a purpose" atau ketika ngelakuin manipulasi dingin terhadap orang-orang di sekitarnya. Rachel (Odessa A’zion), teman masa kecil yang dia buat hamil lalu ditinggal; Kay Stone (Gwyneth Paltrow), aktris tua yang dia rayu demi duit dan status; bahkan ibunya sendiri (Fran Drescher) dan pamannya—semua jadi korban ambisinya. Marty nggak cuma main pingpong; dia mainin orang, dan Safdie bikin kita saksikan itu tanpa filter dengan ngasih kita konsekuensi buruk lewat kejadian-kejadian gak terduga.
Bukan cuma tentang menang atau kalah di meja pertandingan, tapi juga tentang obsesi toxic yang ngerusak. Pingpong cuma mediumnya, real fight-nya ada di kepala Marty. Marty Supreme juga punya lapisan kritik sosial tajam. Berlatar 1950-an New York, Marty adalah simbol "American hustle" yang ekstrem, siapa yang paling keras kerja, paling pintar curang, paling bisa jual mimpi. Ide bola pingpong warna oranye bertuliskan "Marty Supreme: Made in America" itu lucu sekaligus tragis, karena nunjukkin kalau betapa desperate-nya Marty buat ngebranding dirinya sebagai yang paling hebat. Tapi di akhirnya, film ini nggak kasih redemption arc yang mudah. Gak ada momen "dia belajar dari kesalahan" atau "semua berubah jadi baik". Malah ending-nya ambigu, bikin kita mikir: apakah Marty benar-benar menang, atau supremacy itu cuma ilusi yang dia kejar sampai habis segalanya?
Marty Supreme adalah film yang adiktif karena kita nggak bisa berhenti nonton, meski capek, meski kesel, meski pengen tampar Marty berkali-kali. Ini bukan sport movie yang menginspirasi dengan cara konvensional. Sebuah drama hidup-mati penuh kegilaan, teriakan, full chaotic dan anxiety, seperti yang pernah dikasih Josh Safdie sebelumnya bareng saudaranya: Benny lewat The Uncut Games dan Good Time. Ini film ngingetin kita bahwa ambisi tanpa batas bisa jadi racun mematikan. Dan Chalamet? Dia bikin kita percaya kalau si Marty bisa jadi legenda... sekaligus monster. Supremacy-nya emang datang, tapi dengan harga mahal yang bikin kita bertanya: worth it gak sih?
4,5/5
If you want real horror without monsters, watch : Chernobyl
If you want crime that slowly eats the soul, watch : Ozark
If you want mystery that never lets go, watch : Lost
If you want characters over plot, watch : Mad Men
If you want a dystopian tech paranoia, watch Black Mirror
If you want war told honestly, watch : Band of Brothers
If you want surreal mystery and nightmares, watch : Twin Peaks
If you want comfort that never fades, watch : The Office
If you want power without morals, watch : Succession