FYI PAJAK YANG HARUS DIBAYAR WNI :
• PAJAK PUSAT
• PPh (Pajak Penghasilan)
• PPN (Pajak Pertambahan Nilai)
• PPnBM (Pajak Penjualan Barang Mewah)
• Bea Meterai
• PBB Perkebunan, Perhutanan, dan Pertambangan
• PAJAK DAERAH (PROVINSI)
• PKB (Pajak Kendaraan Bermotor)
• BBNKB (Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor)
• Pajak Air Permukaan
• PAJAK DAERAH (KABUPATEN/KOTA)
• PBB-P2 (Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan/Perkotaan)
• BPHTB (Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan)
• Pajak Hotel
• Pajak Restoran
• Pajak Hiburan
• Pajak Parkir
• YANG DIBAYAR RUTIN OLEH WNI
• PPh (sesuai penghasilan)
• PPN (setiap belanja barang/jasa kena pajak)
• PBB-P2 (setiap tahun)
• PKB (setiap tahun)
• YANG DIBAYAR SEKALI SAJA (SAAT TERJADI TRANSAKSI)
• BBNKB (saat beli/balik nama kendaraan)
• BPHTB (saat memperoleh rumah/tanah)
• PPnBM (saat membeli barang mewah)
• Bea Meterai (per dokumen tertentu)
• YANG OTOMATIS MASUK DALAM TAGIHAN/HARGA
• PPN
• PPnBM (barang mewah)
• Pajak Hotel
• Pajak Restoran
• Pajak Hiburan
• Pajak Parkir
• Belum termasuk berbagai retribusi daerah, iuran, serta pungutan lain yang berlaku sesuai ketentuan di masing-masing daerah.
sunco per april masih di angka 43,500 sekarang juni udah 47.000
beras yang biasanya 74.500
sekarang udah 95.000
jangan kaget bulan depan
kalo minyak goreng udah 50 rb na
ayam 50 ribuan
beras 100 ribuan
anjirr ini mau diem doang kita WNI
kata prabowo udah swasembada pangan
swasembada dari hongkong?
Saat Raja Mesir Ar-Rayyan bin Al-Walid bermimpi tentang masa paceklik, Nabi Yusuf tidak hanya berkata, “Tenang, Allah sudah menjamin rezeki kita.” Beliau justru menyusun strategi, mengelola cadangan pangan, meningkatkan produksi serta melakukan mitigasi risiko selama 7 tahun. Tawakal bukan berarti menafikan ikhtiar. Jaminan Allah itu pasti, namun mengajarkan perencanaan, kehati2an dan pengelolaan yang baik adalah sunnatullah yg harus kita lakukan.
MENGAPA HANYA INDONESIA YANG HANCUR?
Sementara mata uang tetangga berhasil memanfaatkan fundamental ekonomi untuk menahan gejolak global, Rupiah justru anjlok dua digit (-10,84%).
Alasan "Tekanan Global" tidak lagi relevan.
INI SALAH URUS !!!
Guys, ini yang lagi terjadi di Amerika dan skalanya bikin gue dua kali baca.
9 juta orang turun ke jalan.
Serentak.
Di seluruh Amerika.
New York, Washington, Chicago, Boston, Philadelphia semua kota besar jadi lautan manusia dengan satu pesan yang sama.
No to monarchy.
No to extremism.
No to wars.
Our forces are not for sale.
Ini bukan demo biasa.
Yang bikin ini luar biasa pesertanya bukan cuma dari kubu Demokrat.
Sebagian Republikan juga ikut turun.
Artinya ini udah melampaui batas partai.
Ini warga Amerika dari berbagai latar belakang politik yang sama-sama ngerasa ada yang salah dengan arah kebijakan Trump sekarang.
Apa yang mereka protes?
Tiga hal utama yang jadi fokus demonstrasi ini kebijakan perang yang dianggap ceroboh dan sembrono, gaya kepemimpinan yang dinilai semakin otoriter, dan penggunaan kekuatan militer untuk kepentingan yang nggak jelas.
Slogan "our forces are not for sale" itu bukan asal pilih. Ini respons langsung terhadap narasi Trump yang beberapa kali terkesan memperlakukan militer Amerika sebagai alat bargaining politik dan ekonomi.
Dan kenapa ini penting buat kita di Indonesia?
Karena kebijakan Trump tarif dagang, eskalasi konflik Timur Tengah, tekanan ke sekutu semua itu langsung berdampak ke ekonomi global termasuk kita.
IHSG kita turun. Rupiah tertekan. Harga minyak naik. Semua itu sebagian besar dipicu oleh ketidakpastian yang lahir dari kebijakan Washington.
Kalau tekanan dari dalam Amerika sendiri berhasil mengubah arah kebijakan Trump itu artinya ada kemungkinan situasi global sedikit mereda.
Tapi kalau tidak kita harus siap bahwa ketidakpastian ini masih akan berlanjut lama.
Yang menarik dari sisi historis
Demo 9 juta orang ini disebut sebagai tekanan pertama yang terorganisir dan masif dari lawan-lawan Trump untuk memaksa pemerintah berhenti dari kebijakan konflik yang agresif.
Dalam sejarah Amerika, tekanan jalanan skala besar pernah berhasil mengubah kebijakan perang seperti yang terjadi di era Vietnam. Apakah sejarah bisa terulang? Terlalu dini untuk bilang. Tapi skalanya hari ini jelas nggak bisa diabaikan.