Hai, aku tiap hari open live shopee jam 11.30-13.00 dan 19.30-00.00. Yg mau bisa langsung DM ya. Kalau bisa sebelum aku mulai live biar pas live bisa langsung CO 🤗
NB : Kalo lg libur ada info libur di pinned twit ya
https://t.co/cKUPlDob8r
jahat jahat bgt komennya. back then di jaman high school atau kuliah ya ini normal banget, ketemu ketemu lucu. also the honesty is the cherry on top, knowing that he gives his "everything" at that time
realistically, yes. but love doesn’t work that way. cinta itu UNCONSCIOUS……. PURE……. SPONTANEOUS……… jangan biarkan kapitalisme merusak cinta yang tumbuh di sela-sela selokan negara!!!!!!!!!
I honestly dont get why some people are hating on this... kalau ada orang yang mau ngobrol sama aku berjamjam without any distraction aku mah seneng ya :// romance is dead omg
"This isnt sweet" mungkin kamu terbiasa melihat act of love sebatas bentuk benda doang??
Halo, Netizen. Assalamualaikum. Btw, ini pertama kalinya aku bikin utas. Aku bukan siapa-siapa, tapi aku merasa perlu meluruskan ini. Semoga siapa pun yang baca, gak akan lagi nyampe menghujat si perempuan maupun alm. Aku cuma berempati kepada mereka. Mohon disimak ya🙏
Sebelum punya opini ttg gaji guru mending orang-orang pada beneran ‘napak tanah’, ngobrol sm guru, baca banyak berita, dll daripada nanya AI.
Guru plg banyak gajinya pun masih ga layak, gapok di bawah UMR. Peralihan dari PNS ke PPPK pun problematik, apalagi yg paruh waktu.
Guys, ada screenshot yang beredar diduga dari akun anak Purbaya yang merespons komentar soal Sri Mulyani.
Komentarnya: "Srimulyani ga segininya dulu hmm
Jawaban yang diduga dari akun tersebut:
Ya jelas, dulu nurut sama asing. Sekarang mah kita harus mandiri.
Toh koreksi cuma bentar terus balik lagi.
Atau lo mau naikin pajak biar makin ancur?
Dan gue mau bedah narasi ini secara jujur karena ada beberapa hal yang sangat tidak konsisten di sini.
Klaim "dulu nurut sama asing, sekarang harus mandiri" mari kita cek faktanya:
Kalau yang dimaksud mandiri adalah tidak bergantung pada rekomendasi asing lalu bagaimana kita menjelaskan bahwa:
Presiden Prabowo adalah kepala negara yang paling sering keluar negeri dalam beberapa bulan pertama jabatannya ke Eropa, Amerika, Timur Tengah, Asia mencari investasi asing, meminta kerjasama asing, menawarkan proyek ke investor asing.
Kalau itu bukan "nurut sama asing" lalu apa namanya?
BYD masuk Indonesia — perusahaan China. Diminta investasi. Diterima dengan tangan terbuka. Lalu regulasi pajaknya berubah mendadak yang membuat BYD sendiri harus angkat bicara minta kepastian regulasi.
Danantara — lembaga investasi yang salah satu tujuan utamanya adalah menarik investasi asing masuk ke Indonesia.
Pinjaman luar negeri — jatuh tempo utang tahun ini saja sekitar Rp888 triliun. Semuanya kepada kreditor asing.
Jadi "mandiri" yang dimaksud itu mandiri versi apa?
Soal "koreksi cuma bentar terus balik lagi" ini klaim yang sangat perlu diverifikasi:
Rupiah sekarang di Rp17.300 per dolar.
Dari Rp15.000-an di awal 2024.
Modal asing keluar Rp28 triliun di Q1 2026.
Moody's dan Fitch sudah downgrade outlook Indonesia dari stable ke negatif.
Prof. Feri Latuhihin ekonom yang setahun lalu sudah prediksi dolar tembus Rp17.000 sekarang memperingatkan potensi resesi dan dolar bisa ke Rp25.000.
Kalau "koreksi cuma bentar" data ekonominya belum memperlihatkan itu.
Yang terlihat adalah tekanan yang terus meningkat bukan koreksi sementara.
Dan ini yang paling ironi soal Purbaya sendiri yang bilang mandiri:
Purbaya adalah Menkeu yang mengakui sendiri di forum publik:
Dua Dirjennya dicopot karena dianggap sabotase internal.
Dokumen perpajakan beredar tanpa sepengetahuannya.
40 perusahaan asing tidak bayar pajak semestinya — ada indikasi dilindungi oknum dari dalam Kemenkeu.
Pegawainya bilang "siap pak" tapi tidak dikerjakan tiga bulan.
Dan yang paling telak dokumen kebijakan MBG yang menyebutkan aliran dana keluar dari Kemenkeu tanpa Purbaya tahu.
Kalau Menkeu sendiri tidak tahu ada dana sebesar itu yang keluar dari institusinya narasi "mandiri dan tidak nurut asing" itu mandiri dari siapa dan untuk siapa?
Soal "atau lo mau naikin pajak biar makin ancur" ini argumen yang sangat lemah:
Tidak ada yang bilang solusinya hanya naikkan pajak. Itu strawman argument membuat argumen palsu lawan untuk lebih mudah dibantah.
Yang ditanyakan bukan soal pajak naik atau turun. Yang ditanyakan adalah soal konsistensi kebijakan, transparansi fiskal, dan kemampuan pemerintah menjaga kepercayaan investor.
Sri Mulyani di eranya dikenal sebagai Menkeu yang konsisten, transparan komunikasinya dengan pasar global, dan punya kredibilitas yang diakui lembaga-lembaga internasional.
Bukan karena dia "nurut sama asing." Tapi karena kebijakan yang dia keluarkan bisa diprediksi, bisa diverifikasi, dan punya dasar yang bisa dipertanggungjawabkan.
Kepercayaan investor baik lokal maupun asing dibangun dari konsistensi itu. Bukan dari slogan mandiri.
Dan soal siapakah yang sebenarnya "nurut sama asing":
Sri Mulyani memang bekerja dengan IMF dan World Bank. Dia ikuti banyak rekomendasi mereka soal kebijakan fiskal.
Tapi Purbaya sendiri marah-marah ke World Bank ketika mereka memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya 4,7%.
Feri Latuhihin bahkan berkata: "4,7% sudah bagus. Saya khawatir bisa 0%."
Menolak data dari lembaga internasional bukan berarti mandiri. Itu bisa juga berarti menolak cermin yang memperlihatkan kondisi yang tidak nyaman.
Mandiri yang sesungguhnya adalah kemampuan mengelola ekonomi sendiri tanpa bergantung pada utang luar negeri yang terus bertambah bukan hanya menolak kritik dari luar.
Narasi "dulu nurut sama asing, sekarang harus mandiri" adalah narasi yang kedengarannya gagah tapi tidak konsisten dengan fakta di lapangan.
Presiden ke luar negeri minta investasi asing itu bukan mandiri. Utang luar negeri ratusan triliun jatuh tempo tahun ini itu bukan mandiri.
Rupiah di Rp17.300 dengan modal asing terus keluar itu bukan tanda kemandirian yang berhasil.
Dan Menkeu yang tidak tahu ada dana besar keluar dari institusinya itu bukan tanda pengelolaan fiskal yang mandiri dan kuat.
Mandiri yang sesungguhnya diukur dari hasil bukan dari narasi.
Di suatu negara yang aneh
Negara tropis = buah mahal
Negara maritim = ikan mahal
Negara CPO = migor mahal
Negara SDA = listrik dan BBM mahal
Negara hukum = tunggu viral
Swasembada pangan = beras mahal
Bebas aktif = ikut BOP
Negara religius = korupsi nya banyak, sampai kitab Tuhannya dikorupsi
Semuanya karena sistem yang buruk dan political will yang tidak berpihak rakyat tapi berpihak cepat balik modal dan nambah kekayaan pribadi hehe