#tadabbur
Fyi...
Bahwa Al Qur'an tidak pernah mendefinisikan secara eksplisit apa arti dari 'bahagia' di dunia.
Minimal Al Qur'an hanya menggunakan diksi "sa'ida" untuk menggambarkan sebuah kebagiaan. Itu pun bahagia di akhirat bukan di dunia.
Seperti yang tertera pada ayat berikut:
يَوْمَ يَأْتِ لَا تَكَلَّمُ نَفْسٌ إِلَّا بِإِذْنِهِ ۚ فَمِنْهُمْ شَقِيٌّ وَسَعِيدٌ“
Di kala datang hari itu (Kiamat), tidak ada seorang pun yang berbicara melainkan dengan izin-Nya; maka di antara mereka ada yang celaka dan ada yang bahagia. (QS. Hud: 105)
Lantas, mengapa Al Qur'an tidak mendefinisikan arti sebuah kebahagiaan di dunia?
Mengutip tulisan dari Mark Manson dalam bukunya 'sebuah seni untuk bersikap bodo amat' bahwa kebahagiaan di dunia itu bersifat algoritmik, bisa diutak-atik, dirubah standarnya dan dicapai.
Bahagia itu tidak harus memiliki sebuah rumah besar di PIK 2 dengan kapalnya yang mewah, karena belum tentu orang yang memiliki itu bakal bahagia. Belum tentu juga orang yang setiap hari kerja dengan gaji di bawah UMR, masih ngontrak dan kemana-mana bawa motor astrea dilarang untuk bahagia.
Intinya tuh... Kalau hanya mengejar definisi 'bahagia' di dunia, maka kita tidak akan pernah mencapainya. Betul apa kata Rasul bahwa manusia itu tidak akan pernah merasa puas sampai mulutnya ditutup oleh tanah.
Trus bagaimana, bodo amat aja atas standar bahagia milik orang lain. Kejar bahagia versi kita sendiri. Tapi jangan sampai melupakan kebahagiaan hakiki di akhirat kelak.
Allah berkalam:
"مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً"
Allah beri "kehidupan yang baik/bahagia" di dunia bagi yang beriman dan beramal saleh. (QS. An-Nahl: 97)
Lu pasti akan bersyukur banget kalau bisa sekolah gratis sampai sarjana. Sudut pandang lu akan jauh berubah. Peluang lu buat dapatin gaji 2-3 digit jauh lebih besar.
Gue punya temen, 2 orang yg pas SMA berbanding terbalik. Sebut saja si A dan si Z.
Si A itu selalu ranking 3 besar di kelas selama 3th. Sementara si Z, bisa masuk 25 besar aja udah syukur. Setelah lulus, si A punya keterbatasan buat lanjut kuliah, sementara si Z punya dukungan finansial yg cukup buat lanjutin.
Akhirnya si A berencana kerja dulu selama 3 th buat ngumpulin duit kuliah, si Z langsung kuliah. Nah di sini titik baliknya terjadi. Si A terlena dengan pekerjaan dan keadaan ekonomi mengharuskan dia tetap terus bekerja. Sementara si Z masih terus berproges dan lulus kuliah.
Sekarang 10th berlalu si A masih jadi pegawai dengan gaji UMR dan belum berhasil lanjut kuliah, sementara si Z udah kerja di sg sebagai it enginer dan sedang lanjutin s2.
Itulah kenapa pendidikan sampai sarjana itu penting, ini akan membuka persaingan yg lebih adil dan menghapus sekat si kaya dan si miskin.
Presiden Habibie saat ditanya di hadapan para investor Inggris mengenai keterpurukan ekonomi Indonesia dan bagaimana cara Beliau memulihkan ekonomi.
KIta butuh pemimpin yang cerdas dan punya kemampuan komunikasi yang baik!