Anak laki2 yg fatherless sering terlihat kurang maskulin.
Tapi anak perempuan yg fatherless justru sering terlihat lebih maskulin.
Yg satu kehilangan figur laki2 utk ditiru.
Yg satu terpaksa mengambil peran yg ditinggalkan.
Menurut gue, kekuatan terbesar The Convenience Store bukan cuma di hantunya tapi di cara film ini ngebangun atmosfer
Film ini ngikutin kehidupan seorang gadis remaja yang kerja shift malam di toko kelontong buat membantu biaya studinya. Karena cuma malam hari dia bisa kerja, penonton jadi sering diajak menikmati suasana toko yang sepi, lorong-lorong rak yang kosong, suara pintu otomatis, dan rasa sunyi yang perlahan berubah jadi rasa takut
Semuanya mulai berubah pas dia menemukan sebuah kartu memori misterius yang berisi rekaman mengerikan
Dari momen itu, rasa penasaran langsung naik. Misterinya terus berkembang, hantu-hantu mulai bermunculan sedikit demi sedikit, dan filmnya gak buru-buru ngasih jawaban. Justru karena ritmenya pelan, tiap kejadian terasa lebih mencekam. Sampe akhirnya film ini ditutup dengan plot twist yang bikin banyak potongan ceritanya nyambung.
Dan sekali lagi, jangan pernah nilai film ini dari posternya
Nonton podcast Shireen Sungkar sm Dewi Sandra, seketika ambyar waktu Dewi Sandra bilang:
"Everytime kita bisa sholat on time aja, itu Allah yg mengizinkan hidayah pada kita untuk ambil wudhu lalu sholat. Kita pake hijab bukan karna diri kita keren, tapi atas kebaikan Allah yg mengizinkan kita untuk pake". Jadi ketaatan yg kita lakukan itu bukan karna diri kita sendiri, tapi Allah yg baik kasi kita hidayah untuk melakukan itu. Dan hidayah itu mahal, tidak Allah beri untuk semua orang 😭😭😭