Sebuah life hack untuk membeli kacamata + lensa di Jakarta
Gue baru tau kalo harga lensa semurah ini. Padahal kalo beli di optik biasanya 300ribuan atau lebih
Namun, Sadio Mané sungguh berbeda!
Setelah memenangkan gelar bersama Al Nassr, Sadio mengenakan jersey tim nasionalnya dan menggunakan medali Piala Afrika.
Klub mungkin akan mendendanya karena melakukan itu. Tapi dia tidak peduli. Sadio ingin mengingatkan seluruh dunia bahwa Senegal adalah Juara Piala Afrika, terlepas dari upaya apa pun untuk merebut gelar tersebut dari mereka. Sang kapten memimpin negaranya. Sebagaimana seharusnya.
Setelah gue pikir2 ya ..
Kita pernah hidup di era yang aneh...
HP ratusan ribu ini fitur nya ajaib daripada hp sekarang 😹
Sebut aja Nexian, Cross (atau Evercoss), Mito, IMO
"Gadget enthusiast" circa 2009-2012 pasti tau...
Setelah gue riset ya, ada bbrapa fitur HP Cina/lokal era 2009-2012 yang udh punah:
> Dual SIM GSM-GSM (pas itu Nokia/SE masih single SIM)
> Antena TV beneran, bisa nonton RCTI, SCTV, Indosiar di angkot atau nobar timnas Alfred Riedl... duh miss my old memories
> Senter LED yang terang bsia buat nyari kodok
> Keyboard QWERTY ala BB, harga 1/5-nya, dulu mah primadona banget ala ala BB
> Speaker monster buat dangdutan full volume, full bass pokoknya
Harga yaaa kisaran 500-1jtan. Battery awet 3 hari. Jatoh dri motor juga masih nyala bosss 😭😭
Fun fact, khusus fitur TVnya baru bener2 mati 2 November 2022 pas Indonesia resmi matiin siaran analog.
RIP our old memories ✨
Suara renovasi jam 3 pagi... jangan ditengok. Itu bukan kuli yang kerja... tapi mereka yang lagi cari tumbal buat pondasi…
Trauma kepala menggelinding di Semarang bikin Raka nyaris gila. Dia fobia masuk jalan tol yang sepi, akhirnya banting setir ngambil jalur tengah-selatan ngelewatin Wonosobo dan Banjarnegara, dengan niat nyari jalan yang lebih "hidup".
Tapi apesnya, kita kemalaman di Purwokerto.
@bacahorror@IDN_Horor@ceritaht #bacahorror #bacahoror #suduttakkasat #ceritahoror #threadhoror #ceritaserem #asupanhorror #mistis #misteri #horor
Every washed up actress is going to do this.
But give kudos to Maitland Ward - who went into full hardcore pornography 6-7 years ago rather than just splitting her ass to a camera and posting it on the internet because she can’t afford grocery store sparkling wine.
Ini namanya ignis fatuus atau will-o'-the-wisp. Bukan hantu, spirit, atau yg lainnya. Cahaya ini biasanya hasil oksidasi fosfin, metana, difosfin yg dihasilkan oleh pembusukan bahan organik
Sebenernya ada cerita menarik kenapa sekarang CFC lebih sering ditemuin di stasiun, dan ini jadi turning point mereka bisa jadi salah satu F&B terbesar di Indo.
Gini ceritanya: Pas 2019-2021 CFC tutup 19 cabang, tapi revenuenya malah naik 56%++ dgn total revenue tembus 700 Miliar.
Dari data (gambar) di situ jelas keliatan angka kalau dari tahun 2019–2021 total cabang (Num of outlet) CFC terus berkurang. Bisa diasumsiin pas 2020 pengurangan cabang itu efek pandemi.
Lanjut liat bagian Revenuenya, dari 2019 ke 2020 memang berkurang, tapi dari 2020 ke 2021 naiknya dratis dari 300an M ke 700an M. Gokil.
Apa yg dilakuin CFC sampe bisa naikin omzet adalah, karena mereka utilize asetnya & penetrasi pasar yg lebih tepat.
Saya pernah jemput seorang dari apps ini, kebetulan mobil saya ada sunroofnya.
Sepanjang jalan, dia selfie beberapa gaya, baju diturunkan, dan ditutup jaket.
LSS, beberapa hari kemudian kami mutualan di Instagram. Isi story dia banyak sekali di mobil, di mobil saya saja 3 4 foto.
Gue punya tetangga. Sebut aja Pak Hendra.
Dua tahun lalu dia masih naik motor beat butut ke warung.
Belinya eceran kopi sachet, rokok sebatang, mie instan satu bungkus.
Sekarang?
Alphard putih parkir di depan rumah.
Renovasi total.
Pagar besi custom.
Kamera CCTV empat titik.
Usahanya?
Katanya bisnis properti.
Yang gue tahu dia jual tanah warisan bapaknya di pinggir kota yang tiba-tiba nilainya meledak karena ada tol baru lewat sana.
Satu malam kaya.
Bukan proses panjang.
Bukan kerja keras bertahun-tahun.
Rejeki nomplok yang nyata.
Dan yang berubah bukan cuma mobilnya.
Cara dia nyapa orang berubah.
Dulu kalau papasan di gang senyum duluan, tanya kabar, kadang nawarin kopi.
Sekarang?
Jalan lurus.
Tatapan ke depan.
Senyum tipis yang terasa seperti basa-basi yang tidak dia nikmati.
Anaknya yang dulu main bareng anak-anak kampung sekarang sekolah di tempat lain.
Istrinya yang dulu arisan bareng ibu-ibu kompleks sekarang jarang kelihatan katanya sibuk
Bukan jahat.
Bukan sombong yang ngomong kasar.
Tapi ada jarak yang tumbuh perlahan, tanpa drama, tapi nyata.
Dan ini yang bikin gue mikir.
Komentar orang kaya lebih sopan dari orang miskin itu tidak sepenuhnya salah.
Tapi juga tidak sepenuhnya benar.
Yang lebih akurat mungkin ini:
Orang kaya punya lebih banyak ruang untuk terlihat sopan.
Mereka tidak dalam kondisi terdesak.
Tidak rebutan antrian.
Tidak stres soal tagihan yang jatuh tempo besok.
Tidak capek setelah 12 jam kerja berdiri.
Ketika kebutuhan dasar sudah terpenuhi otak punya lebih banyak kapasitas untuk berpikir tentang cara bicara, cara bersikap, cara memilih kata.
Itu bukan moral superiority.
Itu privilege dari rasa aman.
Dan yang terjadi pada Pak Hendra adalah pola yang gue lihat berulang pada OKB Orang Kaya Baru di Indonesia.
Kekayaan datang lebih cepat dari kesiapan mental untuk menghadapinya.
Tiba-tiba ada gap antara dia dan lingkungan lamanya. Dan gap itu tidak nyaman untuk kedua belah pihak. Tetangga lama mulai hitung-hitungan dulu dia biasa aja, sekarang sok.
Pak Hendra sendiri mungkin bingung mau tetap akrab tapi takut dimanfaatkan, mau jaga jarak tapi takut dibilang sombong.
Tidak ada pilihan yang benar.
Apapun yang dia lakukan akan disalahkan oleh satu pihak.
Dan ini yang paling jarang dibahas:
Sopan santun itu bukan produk dari kekayaan.
Tapi kekayaan memberikan kondisi yang lebih kondusif untuk menampilkan sopan santun itu.
Orang yang kelelahan, tertekan, dan tidak punya ruang bernafas secara psikologis memang lebih mudah tersulut.
Bukan karena karakternya buruk. Tapi karena resources mentalnya sudah habis sebelum hari berakhir.
Dan orang kaya yang kelihatan lebih sopan belum tentu lebih baik karakternya.
Mereka hanya punya lebih banyak energi sisa untuk menjaga penampilan sosial mereka.
Jadi kalau ada yang bilang orang kaya lebih sopan:
Mungkin. Tapi tanya dulu sopan karena memang baik karakternya?
Atau sopan karena hidupnya tidak sedang dalam mode survival?
Dua hal yang sangat berbeda.
Dan Pak Hendra?
Gue tidak judge dia.
Gue hanya berharap suatu hari dia sadar bahwa Alphard putih itu tidak akan pernah bisa menggantikan rasa nyaman yang dia punya waktu masih bisa senyum duluan di gang sempit itu.
Mau cerita aja
Ini pernah ge ceritain sih sbnernya.
Pernah ngobrol panjang lebar sama seorang LC di daerah Babad, Lamongan. Gw ga sengaja kenal dia karena dia tinggal di kost2an temen gw (rumah temen gw jadi satu sama kost2an) dan saat itu kebetulan gw lg nginep di tempat temen gw ini. Mbaknya ini punya 5 anak dari 5 laki2 yang berbeda.
Anak pertama dan ke 2 nya lagi di pesantren, anak ke 3 sampe ke 5 tinggal sama mbahnya. Si mbak nya ini full kerja siang malem buat nyekolahin anaknya dan ketika dia tau gw guru (dia kebetulan ngeliat gw ngajar online) dia langsung minta saran terkait pendidikan anaknya.
Ngobrolnya dari jam 11 siang sampe jam 3 sore. Itupun berhanti karena dia mau siap2 berangkat kerja.
Selama ngobrol dia bener2 merhatiin nasehat gw buat pendidikan anak2 nya, sampe dia bawa catetan, si mbaknya ini juga dia secara detail jelasin kekurangan dan kelebihan anaknya. Jadi gw tinggal arahin betternya kemana dan apa yg harus disiapkan.
Sedihnya ketika dia cerita kalau selama ini anak2 nya sekolah, dia ga pernah nemenin anak2nya bagi rapot atau ikut rapat wali murid gitu, karena semuanya dia minta wakilin sama budenya, dianya takut anaknya malu sama dia kalau dia dateng ke sekolah or pesantrennya.
Kata dia
“Biarin saya ibunya aja yang berbuat dosa mas, anak2 saya jangan, kalau misalnya anak saya mau buang saya pas sukses nanti pun saya paham karena saya kerjaannya begini, yang penting hidup mereka enak dan bisa mapan saya sudah ngerasa cukup, semoga Allah mengampuni saya, dan semoga saya bisa menghidupi dan nyekolahin anak2 saya sampai sarjana”
🥹🥹🥹🥹🥹
One Day, One Information:
Di Sumbar ada Tugu Fotokopi yang dibangun masyarakat sekitar.
Tugu berbentuk mesin fotokopi ini dibuat sebagai lambang kesuksesan masyarakat setempat yang sukses merantau dengan membuka usaha di bidang Fotokopi.
FIFA Collection
FIFA - 06: https://t.co/dcPpvDo7Jd
FIFA - 07: https://t.co/xdDwKMQfuv download fix
FIFA - 07 FIX: https://t.co/sKG7fX81TV
FIFA - 08: https://t.co/7hwQqSqZf7
FIFA - 09: https://t.co/SCwTKgp9Ez
FIFA - 10: https://t.co/5UzOheAXKa
FIFA - 11: https://t.co/GTBySWXic0
Anak Soshum tidak dihargai dan dianggap bodoh di Indonesia, karena ketika SD SMP SMA, mata pelajaran IPS terlalu gampang.
Mau Soshum dihargai? Simpel. Persulit ujiannya.
Tidak boleh ada persepsi "IPA pintar, IPS bodoh". Keduanya harus sama-sama horor dan sadis.
Reputasi matpel IPS masih dirasa kurang horor? Persulit lagi ujiannya. Persulit lagi quiz dan PR nya.
Barangkali ini tidak akan sulit-sulit amat untuk diterapkan.
Misal: 1 buku paket biasanya cukup untuk pelajaran eksak, karena ilmu pasti. Soshum harusnya tidak boleh begitu. Ujiannya harus didominasi pemahaman sosio-kontekstual akan hal yang ada di luar buku. Siswa yang survive hanyalah siswa yang banyak baca.
Sastra juga demikian. "Bahasa Indonesia", misalnya, tiba tiba akan jadi sangat sulit apabila siswa hanya bisa lolos ujian jika dan hanya jika sudah sering membaca, menghayati, dan menghargai karya-karya sastra fundamental.
Pada zaman dahulu, semua calon mahasiswa Soshum di Barat diwajibkan bisa bahwa Latin dan bahasa Yunani Kuno *sebelum* masuk kuliah, karena kebanyakan naskah penting ditulis dalam bahasa itu. Kemampuan bahasa ini mereka bangun lewat hobi membaca puisi, sastra, dan karya Latin dan Yunani Kuno.
Menurut gw ini standar kompetensi minimum yang sangat bagus. Hari ini kita tidak literally butuh bahasa Yunani Kuno, tapi kita butuh sesuatu yang sama sulitnya.
---
Kalau mau diseriusin lagi:
- Idealnya, partisi STEM-Soshum-Sastra dalam bentuk apapun di level SMA dihapus.
Di sekolah yang ideal, semuanya diajarkan dan dijelalkan masuk. Sayangnya ini hanya bisa berhasil apabila guru-gurunya elite dan bergaji tinggi.
- Idealnya, akademis SMA sengaja dibikin sangat susah dan sangat sadis dan sangat horor. Alasannya satu, yaitu memaksa lulusan SMP mempertimbangkan opsi masuk SMK dengan serius. Masalahnya, kualitas SMK di Indonesia sangat buruk sehingga ini harus diperbaiki duluan.
- Role edtech yang paling dibutuhkan adalah meringankan beban pekerjaan guru. Memeriksa soal, otomatisasi administrasi, memantau progress tiap siswa, dll. Barangkali siswa tidak perlu melihat atau menyentuh aplikasi edtech sama sekali.
Spekulasi liar:
- Di zaman AI, fungsi utama sekolah di bidang akademis barangkali akan berubah jadi ruang ujian saja. Bayangkan tiap hari ujian intensif, kertas dan pulpen, essay, tidak ada AI dan tidak ada kalkulator. Tapi jam pulang adalah jam 11 pagi. Setelah itu bebas mau ngapain. Pacaran, Valorant, motoran, ekstrakurikuler, belajar mandiri, silakan.
Karena tiap hari ujian, anak terpaksa memiih belajar mandiri. Well, tinggal minta diajarin oleh AI. AI nya ngawur? Akan ketahuan di ujian besoknya dan menjadi shock therapy bagi anaknya. Salah sendiri terlalu percaya sama AI.
- Ini diperkuat dengan sistem Romusha Tutor (atau Sistem Tutor Oxford). Tiap kakak kelas diberikan tanggung jawab terhadap prestasi akademis 1 adik kelas. Kalau adik kelas tidak lulus, kakak kelas tidak lulus.
Asumsi di sini adalah bahwa hanya manusia yang bisa menyelesaikan hal seperti "memotivasi anak untuk belajar" dan bahwa AI tidak bisa melakukan ini. Well, ya sudah, romushakan saja kakak-kakak kelas untuk jadi tutor. Kakak kelas bingung harus ngapain? Tanya AI. AI nya ngaco? Akan ketahuan di ujian besok.
- Spekulasi liar ini mengasumsikan bahwa pemerintah kita sama sekali tidak melakukan apa-apa dan useless dan gabut. Gw jauh lebih percaya bahwa teknologi AI akan bisa sangat murah Rp 2rb / bulan daripada percaya bahwa pemerintah akan peduli untuk "menaikkan gaji guru" atau semacamnya. Untuk isu yang ini, barangkali sebaiknya kita menyerah saja.
As an ex‑masturbator, here's the truth.
· You won't dislike pussy, you'll WORSHIP it. Put it on a pedestal. You'll stop seeing women and start seeing body parts.
· Your erection process gets MESSED UP. You'll find yourself with a woman and not perform because your brain is wired to pixels, not presence.
· Delayed ejaculation you can have sex for an hour but not finish unless you're watching p*rn or using your hand. That's a real sickness.
· Appetite? You won't lose it. You'll be HUNGRY in a sick, twisted way even when you're not hungry.
Don't let anyone tell you masturbation is harmless. I lived the damage.
EH SUMPAHHH PERNAH 😭😭😭😭
jd pas gue ke malaysia mau beli kepala charger sellernya org india trs dia nanya
“Where are u from?”
“Indonesia”
“Holiday or what?”
“Going to concert”
“Alone?”
“Yes”
“Have boyfriend?”
“Yes i have but he works at thailand”
“Oh thailand. Why he doesnt come with u?”
“He is very busy. Very very busy. My boyfriend is gawin caskey”
“Ahh gawin. U better not alone”
Ngaka bgt anjing asli gue😭
Ini beneran terjadi di kantor gue 11 tahun yang lalu. Jadi, Payroll Officer di kantor gue kongkalikong dgn Head of Personalia. Mereka bikin 2 slip gaji pegawai di kantor gue, satu untuk laporan ke bag. keuangan dan satu ke pegawai yang bersangkutan. Tiap slip gaji beda 500rb - 2 juta. Ketauannya pas boss gue bikin acara outing, ada acara feedback dari karyawan ke jajaran pimpinan. Di situ ada karyawan bilang gajinya cuma 6 juta sementara tanggung jawab yang dia kerjakan itu Job desc 2 department. Kagetlah kepala bagian keuangan gue. Akhirnya pulang outing crosscheck semua karyawan harus menyerahkan slip gaji terakhir kemudian dicocokkan sama slip gaji yang dilaporkan Payroll officer di sistem payroll (komputer). Dari total 148 karyawan, ditemukan ada selisih nyaris 250 juta tiap bulannya. Gila kan ? Nih konspirasi 2 orang ya dzholim ke karyawan ya dzholim ke perusahaan 😡😡😡
How risky is a single exposure to HIV? The answer depends entirely on the route.
Here is the breakdown of the estimated risk per 10,000 exposures. 👇
1. Sexual Transmission
Receptive Anal: 138 (~1 in 72)
Insertive Anal: 11 (~1 in 909)
Receptive Vaginal: 8 (~1 in 1,250)
Insertive Vaginal: 4 (~1 in 2,500)
Oral Sex: Extremely low / Negligible
2. Sharing Injection Equipment: 63 (~1 in 159).
3. Needlestick (Healthcare): 23 (~1 in 435).
4. Blood Transfusion: 9,250 (The highest risk, but extremely rare due to modern screening).
Note: You cannot get HIV from spit, sweat, tears, or casual contact like hugging/sharing a toilet seat.
The numbers above assume no protection. However, we have tools today that can bring those risks down to ZERO