IS THE ECONOMIST ALWAYS WRONG?
Scandalously, in some circles @TheEconomist has a reputation as a contrarian indicator. This week we fessed up to getting a big call on oil prices from April wrong.
Obviously our goal is not perfectly-hedged (and perfectly boring) predictive accuracy: often it is to stimulate, provoke, and challenge. But I did want to test that wider allegation, so I ran a series of LLM scorers across our full leader database since 2000 (7,000 leaders in all.)
You can see the results in the chart below: each dot is one of the 1,400 leaders where we identified concrete and falsifiable predictions that were central to the argument. Higher = more accurate, further to the right = more contrarian.
We do well, unsurprisingly, when aligned with conventional wisdom. We often do worse when truly out on a limb. But actually, on average, we are a bit likelier to be right than wrong on our somewhat-out-of-consensus calls. All round, a respectable performance.
And as @ecurrnomics points out an accompanying leader, there is no shame at all in being beaten by the market: as good free-marketers we believe deeply in the aggregated wisdom of prices.
Take a look at my piece here, which includes a canter through our best and worst calls of the last quarter-century: https://t.co/WyKqangFrE
Bila ia masih hidup, 10 Juni 2026, Asrul Sani akan berumur seratus tahun. Angka yang bulat. Nyaris seperti penanda. Seolah waktu ingin memberi jeda, meminta kita berhenti sejenak, lalu menoleh ke belakang.
Bagi banyak orang, Asrul adalah penyair Angkatan ’45, penulis, penerjemah, dan salah satu penanda penting kebudayaan Indonesia pascakemerdekaan.
Bagi saya, ia adalah Pak Cun—adik kandung ayah saya, paman yang tinggal di rumah kami di Menteng ketika saya masih kecil, dan yang lewat percakapan-percakapan sederhana membentuk cara saya melihat dunia.
Dari sanalah saya berkenalan dengan Albert Camus dan Anton Chekhov. Dua nama yang, pada usia saya yang masih kecil saat itu, terasa jauh. Tidak sepenuhnya saya pahami. Tetapi buku-buku itu tidak hilang. Mereka menunggu.
Dan bertahun-tahun kemudian, ketika saya membacanya kembali dengan mata yang sudah lebih banyak melihat hidup, saya menyadari apa yang sebetulnya ingin Pak Cun sampaikan: bahwa hidup tidak selalu harus dijelaskan.
Camus menolak karena ia tahu penjelasan yang tersedia tidak memadai untuk menampung absurditas keberadaan.
Chekhov menolak karena ia tahu penjelasan akan mengkhianati tekstur sebenarnya dari pengalaman manusia. Dan Asrul, meski tidak pernah secara eksplisit berdialog dengan keduanya, sampai pada posisi yang serupa lewat jalannya sendiri.
Saya masih terlalu kecil untuk memahami cara pikirnya. Kata-katanya mungkin lewat begitu saja, tidak sempat tinggal.
Yang tersisa justru yang lain: potongan-potongan keseharian, hal-hal kecil yang tidak penting, tapi bertahan. Saya masih ingat, kamarnya yang remang. Bau rokok yang menyengat, bukan sekadar asap, tapi semacam jejak yang menetap di udara. Debu di sana sini, obat nyamuk bakar hijau melingkar di lantai, pelan-pelan habis, menyisakan abu yang rapuh. Buku-buku berserakan, seperti tak pernah selesai dibaca atau mungkin tak ingin disusun. Di atas meja kerja, ada sebuah mesin tik tua. Diam, tapi terasa hidup, seolah setiap saat bisa kembali berbunyi, memecah sunyi dengan ritme yang teratur.
Lalu tikus itu.
Ia tidak diusir. Tidak dijebak. Pak Cun justru memberinya makan sedikit, secukupnya. Seolah ada kesepakatan yang sederhana: tikus itu tidak mengganggu buku-bukunya, dan sebagai gantinya, ia diberi ruang untuk hidup. Dalam logika sehari-hari, ini mungkin tampak ganjil. Tapi di situ ada sesuatu yang lain: cara melihat dunia yang tidak selalu ingin mengalahkan.
Tetapi yang paling saya ingat adalah pertanyaan dan nasihat yang ia tinggalkan.
“Mengapa seseorang masuk universitas?”
Bertahun-tahun kemudian, ketika saya akan berangkat ke Australian National University untuk studi pascasarjana, ia berkata:
“Yang paling penting dalam sekolah bukanlah buku teks. Buku teks di setiap universitas akan sama saja. Yang penting adalah bagaimana kamu mengembangkan pemikiran, berdiskusi, bertukar gagasan, dan belajar dari lingkungan di sekitarmu.”
Pesan itu mengubah cara saya melihat pendidikan. Pendidikan bukan sekadar soal memperoleh pengetahuan atau gelar. Ia juga tentang memelihara rasa ingin tahu dan membuka diri terhadap gagasan-gagasan baru.
Puluhan tahun kemudian, saya masih memikirkan pertanyaan dan nasihat itu. Barangkali memang begitu cara seorang guru bertahan hidup: bukan dalam jawaban yang ia berikan, melainkan dalam pertanyaan yang terus menemani kita.
Disarikan dari tulisan saya untuk buku peringatan 100 tahun Asrul Sani.
Sepakat dgn pendapat: Indonesia mengalami "HYPER REGULATION"
Look at the stats. Jml aturan yg ada:
>Per-undang2-an Pusat : 13.628
>Per-undang2-an K/L : 15.685
>Perundang2-an Daerah : 242.808
Problemnya bukan KETIADAAN aturan
Tapi KETIADAAN PENEGAKKAN aturan
🙅🙂↔️
Forget the $100,000 investing courses.
In 1998, Warren Buffett gave a one-hour masterclass on how to never lose money.
The company built on that thinking is now worth nearly $1 trillion.
Save this before it disappears from your feed.
Goldman Sachs on AI Agents stealing jobs from humans:
"Our analysis implies that AI substitution has reduced monthly payroll growth by roughly 25k and raised the unemployment rate by 0.16 percentage points over the past year, while augmentation has added about 9k to monthly payroll growth and lowered the unemployment rate by 0.06pp.[3] This implies a net drag of 16k per month on payroll growth and a 0.1pp boost to the unemployment rate. These negative effects fall largely on less experienced workers, widening the entry-level-to-experienced wage gap by 1.3% and the unemployment rate gap by 0.6pp from their pre-pandemic averages."
There are two possible outcomes:
• If the result confirms the hypothesis, then you've made a measurement.
• If the result is contrary to the hypothesis, then you've made a discovery.
-- Enrico Fermi
Life is very short to worry about stupid things. Have fun. Fall in love. Regret nothing, and don't let people bring you down. Study, think, create, and grow. Teach yourself and teach others.
We miss out on opportunities when we only ask what could go wrong. It's also worth asking what could go right.
Change carries risk: we might fail. But sticking to the status quo also brings risk: we might fail to grow.
It's better to test and learn than to never test at all.
"Becoming less reactive is a huge part of growth and decreasing stress. If you let everything get you worked up, you're damaging your mind, body, and spirit."