Dan kayaknya, ini jg lumrah terjadi di kementrian2 lain, kantor2 pemerintahan lah in general. I dont know, to me, terlalu banyak kemubaziran dalam sistem pemerintahan kenegaraan kita. Terlalu banyak cost keluar untuk mengkompensasi porsi kerja yang supposedly udah kecover gaji
Jadi inget dulu pernah kerja di salah satu kementrian sebagai admin perbantuan di bagian Biro Keuangan. Bukan kerja di kementriannya sih, tepatnya di tim konsultan yang ngurus dana hibah luar negeri yang penyalurannya ke pelosok2 provinsi.
dan sepatutnya ga perlu dipancing amplop biar pada mau hadir. BUT, it’s has become THE culture now. Rooted all the way back to decades ago, where our early governance people started this bad culture
Selama gw kerja di situ, only sebulan dua bulan, gw notice banyak hal. Tentang PNS2 yang kerja di sana, cara kerja mereka, dan cara birokrasi kementrian itu bekerja
aw, but grieve occurs only towards something with deeper greater meaning and ‘loved’ is a past tense and the way it easily misses? grieve easily misses too 😉