@hanifproduktif Sungai2 Kalimantan kekeringan, membuat sumbatan2 logistik persawitan, sehingga kondisi skrg supply langka. Kelangkaan pasokan global n kekhawatiran penurunan produksi akibat El Niño mendorong harga CPO berjangka menyentuh level tertinggi baru. Alhasil emiten sawit pasti naik
#SahamUntukBayi - Balance Sheet (Neraca)
Bayangin kamu punya usaha warung bakso. Suatu hari, kamu ingin tahu kondisi keuangan warungmu.
Berapa total asetnya, utangnya, dan berapa yang sebenarnya jadi milikmu sendiri?
Nah, semua itu bisa dilihat dari neraca
🚨 Perusahaan TAMBANG EMAS Salah Satu yang Terbesar Mau IPO! Tapi Mayoritas Dana Untuk Bayar Utang, Valuasi nya Mahal! Tapi Ternyata Murah…😱
$EMAS – PT Merdeka Gold Resources Tbk:
Semua yang wajib kamu tahu sebelum ikut pesan IPO!
• Histori Underwriter-nya
• Ringkasan Prospektusnya
• Bisnisnya Apa Sih?
• Valuasi Mahal atau Murah?
• Risiko dan Potensinya
Yuk kita bahas👇
#BahasSaham #EMAS
$CUAN: Semua yang perlu kamu tahu, sebelum memutuskan investasi dalam satu thread!
• Siapa Pemilik CUAN
• Lini Bisnis Utama
• Sumber Pendapatan
• Red Flags & Risiko
• Katalis & Prospek
Yuk, kita mulai! 👇
1. Apa sih sebenarnya PER itu?
Bayangin kamu mau beli warung bakso.
Pemiliknya bilang usaha bakso itu menghasilkan untung bersih Rp5 juta setiap tahun.
Sekarang, pemilik warung menawarkan untuk menjual warung bakso itu dengan harga Rp50 juta.
Artinya kamu harus bayar Rp50 juta untuk mendapat usaha yang tiap tahun menghasilkan untung Rp5 juta setiap tahun.
Nah, PER itu adalah:
"Harga yang kamu bayar dibagi keuntungan tahunan yang didapat".
Kalau di contoh tadi:
Harga warung (Rp50 juta) ÷ Untung setahun (Rp5 juta) = PER 10
Angka PER ini artinya: "Kamu butuh waktu berapa tahun agar uang belimu kembali kalau untung per tahun tetap sama."
Tadi kan kamu bayar Rp50 juta, untung per tahun Rp5 juta.
Berarti dalam 10 tahun modalmu kembali (50 ÷ 5 = 10).
• Kalau PER kecil: Cepat balik modalnya (murah).
• Kalau PER besar: Lama balik modalnya (mahal). Gampang kan?
2. Lalu gimana sih PER yang sebenarnya digunakan di saham?
Kalau dalam dunia saham, kita tidak langsung membagi harga saham dengan laba bersih total perusahaan begitu saja.
Kita harus melihat keuntungan per lembar saham yang disebut EPS (Earnings per Share).
Apa itu EPS?
EPS adalah laba bersih perusahaan dibagi jumlah seluruh lembar saham perusahaan yang beredar di pasar.
Gampangnya begini:
• Kalau perusahaan punya keuntungan Rp100 juta setahun
• Saham yang beredar ada 1 juta lembar
Maka laba per sahamnya (EPS) adalah
Rp100 juta(keuntungan) ÷ 1 juta lembar(jumlah saham beredar) = Rp100 per lembar saham EPS nya.
Setelah dapat EPS tadi, barulah kita hitung PER-nya. Misalnya harga sahamnya saat ini Rp1.000 per lembar, sementara EPS-nya Rp100 per lembar, maka PER-nya adalah
Rp1.000 ÷ Rp100 = PER 10.
Artinya, investor akan balik modal dalam waktu 10 tahun.
3. Terus PER yang ideal berapa? Mahal itu berapa? Murah itu berapa?
• PER di bawah 10
Murah atau dianggap murah.
Pasar nggak berharap banyak sama perusahaan ini. Bisa jadi saham lagi diskon, tapi bisa juga karena ada masalah di perusahaannya.
• PER antara 10–20
Ini paling umum. Artinya harga wajar, nggak murah-murah banget, tapi nggak mahal juga.
Perusahaannya biasanya stabil.
• PER di atas 20–30
Ini mahal. Pasar berharap banget perusahaan tumbuh pesat di masa depan.
Contohnya saham teknologi biasanya PER-nya tinggi. Warren Buffett suka cari saham bagus dengan PER wajar atau rendah supaya nggak kemahalan belinya.
4. Tapi hati-hati! PER rendah nggak selalu bagus.
Misalnya, PER sebuah saham cuma 5 (murah banget).
Kamu pikir bagus kan?
Tapi ternyata laba perusahaan itu turun terus tiap tahun.
Awalnya laba tinggi, makin lama makin turun.
Tentu pasar nggak mau bayar mahal.
Makanya PER jadi rendah.
Ini jebakan kalau kamu nggak teliti(value trap).
Ibarat barang diskon tapi kualitasnya jelek.
Murah tapi murahan.
5. PER tinggi juga belum tentu buruk!
Misalnya saham teknologi terkenal seperti Apple.
Kadang PER-nya bisa 30 kali atau lebih.
Mahal banget, Tapi karena investor yakin Apple akan terus untung besar di masa depan, mereka rela bayar harga mahal.
Ini seperti beli barang mahal tapi kualitasnya bagus banget.
Akhirnya, investasi tetap menguntungkan walaupun harganya tinggi.
6. Cara gunakan PER saat memilih saham:
• Jangan lihat PER sendirian
Cek juga apakah laba perusahaan naik atau turun tiap tahun.
Kalau laba naik terus, PER tinggi bisa diterima.
• Bandingkan PER antar perusahaan yang sejenis
Bandingkan bank dengan bank, perusahaan teknologi dengan teknologi.
Kalau bank lain PER-nya 10 tapi saham ini PER-nya 25, kamu harus tanya dulu: “Kenapa kok mahal banget?”
• Hati-hati dengan PER rendah karena ada masalah di perusahaan.
Kalau PER rendah banget (di bawah 5) cek dulu apakah perusahaan punya masalah keuangan, atau bisnisnya lagi tertimpa musibah.
Karena kalau bisnis nya sudah tamat, akan sangat sulit untuk naik kembali sahamnya.
• PER tinggi boleh saja, asal pertumbuhan laba juga tinggi.
PER mahal harus dibarengi dengan pertumbuhan laba yang besar.
Atau adanya "future value" atau laba masa depan.
Kalau nggak, kamu bakal rugi karena beli mahal.
EV/EBITDA ini sebenarnya untuk apa sih?
Kalau kamu mau beli sebuah usaha atau bisnis, tentu kamu perlu tahu apakah harga belinya masuk akal atau kemahalan.
Nah, EV/EBITDA itu seperti hitungan sederhana yang digunakan investor untuk menilai apakah harga beli sebuah perusahaan mahal atau murah dibanding uang yang bisa dihasilkan tiap tahun.
Tapi tunggu dulu, kita jangan langsung bicara EV/EBITDA dulu.
Kita coba lihat contoh yang paling sederhana dulu aja ya.
Bayangin misalnya kamu mau beli sebuah warung madura kecil.
Penjual bilang begini:
• Harga jual warung madura ini: Rp100 juta.
• Tapi, warung madura ini masih punya utang sebesar Rp20 juta ke bank.
• Di dalam laci meja warung ini ada uang tunai sebesar Rp10 juta.
Nah, kalau kamu mau beli warung ini secara penuh, kamu nggak cuma bayar Rp100 juta aja, tapi kamu juga harus bayar utangnya yang Rp20 juta itu.
Jadi totalnya Rp120 juta.
Tapi jangan lupa, kamu juga bakal dapat uang tunai Rp10 juta yang sudah ada di kas warung itu.
Jadi uang tunai itu bisa langsung kamu pakai lagi, kan?
Jadi harga lengkapnya kalau kamu beli warung ini adalah:
• Harga warung (Rp100 juta) + Utang (Rp20 juta) – uang tunai yang sudah ada (Rp10 juta)
• Jadi total yang kamu bayar benar-benar dari kantongmu sendiri = Rp110 juta
Harga lengkap Rp110 juta ini dalam dunia saham disebut dengan istilah Enterprise Value (EV).
EV = Harga saham + Utang – Uang kas
Jadi, kalau dengar "EV", inget aja: "Harga lengkap perusahaan kalau dibeli termasuk utangnya dan dikurangi uang tunai di dalamnya."
Lalu EBITDA itu apa?
Setelah tahu harga beli warung tadi Rp110 juta, tentu kamu bakal tanya ke pemilik warungnya lagi:
"Warung ini bisa dapat untung berapa per tahun sih?" Katakanlah pemilik warung bilang begini:
"Warung ini tiap tahun menghasilkan uang bersih sekitar Rp10 juta, tapi angka Rp10 juta ini masih belum dikurangi biaya bunga utang ke bank, belum dikurangi biaya pajak, dan belum dihitung biaya penyusutan peralatan warung."
Nah, uang bersih Rp10 juta per tahun sebelum dikurangi bunga utang, pajak, dan penyusutan ini, dalam dunia saham disebut dengan istilah EBITDA(Earnings before interest, taxes, depreciation, and amortization).
Jadi kalau dengar "EBITDA", inget aja: "Uang operasional bersih yang dihasilkan perusahaan dalam setahun sebelum bayar bunga utang, pajak, dan penyusutan."
Sekarang, EV dibagi EBITDA itu apa sih artinya?
Ingat tadi harga beli warungnya kan Rp110 juta.
EBITDA atau uang bersih per tahun yang dihasilkan warung itu Rp10 juta.
Sekarang, kamu coba hitung pelan-pelan:
• Harga warung (EV) Rp110 juta, uang bersih per tahun (EBITDA) Rp10 juta.
• Rp110 juta dibagi Rp10 juta = 11 kali.
Artinya begini sederhana banget:
Kalau warung ini terus menghasilkan uang Rp10 juta tiap tahun, maka kamu butuh waktu sekitar 11 tahun supaya modal beli warungmu (yang Rp110 juta tadi) kembali sepenuhnya.
Gampangnya, EV/EBITDA = "berapa tahun modalmu akan balik lagi."
Lalu, EV/EBITDA yang bagus itu berapa?
• Kalau angka EV/EBITDA rendah (misalnya di bawah 6 tahun)
Itu seperti beli barang murah banget. Cepat balik modalnya.
Tapi hati-hati juga, jangan-jangan murah karena bisnisnya nggak sehat atau malah lagi turun terus untungnya tiap tahun.
• Kalau angka EV/EBITDA sedang atau normal (antara 6 sampai 10 tahun)
Ini wajar dan normal. Biasanya bisnisnya stabil dan sehat.
• Kalau angka EV/EBITDA tinggi (misalnya di atas 10 tahun)
Mahal sih. Tapi biasanya investor mau beli karena percaya bisnis ini bakal berkembang cepat, keuntungannya akan bertambah besar di masa depan.
Tapi ingat, EV/EBITDA rendah belum tentu bagus ya! Misalnya ada warung lain yang EV/EBITDA-nya 3 tahun aja.
Kelihatannya murah banget, kan?
Tapi setelah dicek lebih detail, ternyata warung ini pelanggannya makin berkurang, barang dagangannya nggak laku kalah saing sama warung modern sebelah, atau ada peralatan rusak yang harus diperbaiki dengan biaya cukup mahal.
Ini kayak beli barang diskon besar-besaran tapi ternyata kualitasnya jelek banget.
Sebaliknya, EV/EBITDA tinggi juga nggak selalu buruk!
Misalnya bisnis terkenal kayak Starbucks.
EV/EBITDA-nya tinggi banget.
Mahal ya?
Tapi investor rela bayar mahal karena percaya Starbucks akan tetap ramai, terus buka cabang baru, pelanggannya bertambah, dan uang yang dihasilkan bakal meningkat terus.
Ini kayak beli barang mahal, tapi kualitasnya emang terbukti bagus banget.
Gimana kalo kita kumpulkan Social Media Strategist se-Indonesia buat bikin pergerakan masif terstruktur dan terencana buat mengorganisir suara masyarakat biar real ubah keadaan
Krn cuma bacot di Twitter doang takutnya ga cukup besar, real case: pemilu kemarin di Twitter bubble