Padahal untuk case perempuan, latihan angkat beban intensitas rendah kaya pake dumbbell 1-3kg dan cuma bicep curl itu udah bagus loh.
Your lean muscle is a key to the longevity.
Kamu gaperlu ke gym yang bayar 400k/mo, kamu cuma perlu dumbbell di e-commerce yang 1-3kg, lalu angkat bebannya dengan nonton youtube.
Salah? mungkin bukan perfect form.
Ga kerasa? wajar, beban rendah.
Tapi cukup untuk longevity, asal dilakuin rutin 3x seminggu misalnya.
Ilmu menarik ini. Mau nambahin… Pernah gak, banyak hal positif kamu alami, tapi kamu lebih fokusnya ke negatif, yg lebih kamu inget yg negatif?
Kenapa ya kita lebih inget yg negatif daripada positif?
Ternyata ini disebut negativity bias. Manusia emang cenderung lebih ingat hal negatif daripada positif.
Maksudnya gimana? Yuk kita bahas.
Studi lintas negara oleh Soroka et al. (2019) menemukan bahwa manusia secara fisiologis lebih reaktif terhadap berita negatif dibandingkan berita positif.
Atau istilahnya: “Bad is stronger than good.”
Ini sejalan sama temuan bahwa bagian otak yang jadi pusat emosi, yaitu amigdala, lebih reaktif terhadap ancaman dibanding kabar menyenangkan.
Kalo dari sisi evolusi, itu karena mengenali ancaman lebih meningkatkan peluang bertahan hidup.
Dulu itu berguna untuk menghindari hewan buas, kini juga bereaksi terhadap email kantor, komentar online, atau ekspresi muka orang lain.
Jadi, kenapa kita lebih inget yang negatif?
Karena memang default sistemnya gitu.
Maka bukan lalu kita mesti berusaha melawan ingatan negatif. Melainkan menyadarinya: Memang begitulah pikiran.
Dengan kesadaran itu, kita mulai punya jarak dengan pikiran. Sehingga kita nggak tenggelam dalam ingatan negatif itu. Akibatnya, ada ruang buat menyadari hal yang positif.
Bukan berusaha ngilangin yang negatif, tapi sadar… hidup ini selalu tersusun bukan cuma negatif, tapi juga ada positifnya, hanya saja sering kita lupakan.
Referensi: Soroka, S., Fournier, P., & Nir, L. (2019). Cross-National Evidence of a Negativity Bias in Psychophysiological Reactions to News. PNAS.
genuine advice, from spiritual side:
banyak yang saranin mirroring, tapi ada konsep mirroring yang menurut gue menarik. Dulu gw punya hubungan kaya gini & gue mirroring chat pendeknya, ketidakpeduliannya, etc, lalu gue ditegurlah oleh mentor gue
(cont)
kali ini mau jawab serius,
mungkin akan menimbulkan pro dan kontra.
kami bukan alergi sama pria miskin, tapi kami tidak suka pria yang enggan berusaha.
karena "miskin" itu kondisi,
tapi "tidak mau berkembang" itu pilihan.
malas, pasrah, dan gak punya ambisi ~ itu yang bikin kita mikir dua kali.
" yaudah sih nanti kalo rejeki juga dateng " halahhhhh, skipp!
kalo gk diusahakan, mau dateng dari mana? jatoh dari langit?!
pernah menemani pria yang kekurangan, tapi justru terlena dengan keadaan. tidak punya arah, tidak punya usaha. bukan masalah dia gak punya apa-apa, tapi karna emang dia gak berusaha jadi apa-apa.
kemudian aku paham, oh jadi ini arti dari kalimat,
"kita harus mikir realistis."
realistis bukan berarti matre,
tapi sadar bahwa hubungan butuh usaha dari dua arah.
bukan cuma satu yang terus jalan sementara yang lain diam di tempat.
usaha untuk saling melengkapi, saling mengisi,
bukan saling menuntut tanpa kontribusi.
yang satu bisa menunjukkan arah,
yang satu lagi mengeksekusi, saling dukung dan saling jaga saat dirasa mulai goyah atau sedikit kehilangan arah.
dan faktanya,
banyak juga wanita yang mau menerima pria dari nol,
asal dia punya niat, tanggung jawab, dan kemauan untuk berubah.
karena yang dicari bukan sekadar "punya apa",
tapi "mau jadi apa" atau "ingin singgah dan berlabuh kemana".
Waktunya bales serius lagi..
Kalau kamu lihat dari luar, hubungan ini nggak masuk akal. Si cewek sukses, punya karier cemerlang, pendidikan tinggi, mungkin bahkan secara fisik juga lebih menarik. Sementara si cowok, secara objektif dia downgrade total.
Yang bikin lucu kan, kenapa cewek-cewek pintar ini justru bertahan, bahkan merasa bahagia dalam hubungan kayak gini? Jawabannya ada di ujung langit.. gak deh.. jawabannya ada di psikologi manusia sih..
SUMATERA IS PART OF INDONESIA. Korban meninggal sudah banyak and still counting. Thousands lost their homes, their belongings, even their families. The economy is paralyzed, the damage is everywhere, yet a national disaster status is still not declared. How much more suffering is needed before it becomes “urgent”?
SEGERA TETAPKAN JADI BENCANA NASIONAL‼️
#AllEyesOnSumatera
#PrayForSumatera
#PrayForTapanuli
#PrayForSibolga
#PrayForAceh
#PrayForPadang
temen temen tolong bantu share ini yaa ‼️
ada salah satu temen kita army di daerah langkat ( perbatasan aceh sama medan ) info disana listrik di padamin karna air masih naik terus dan sinyal jadi susah. daerah langkat ini masih belum banyak yang tau dan minim perbantuan 🙏🏻
💚 ti ti pan
guys, tolong bantu up daerah sender ini ya, mereka juga sedang kebanjiran. tingginya sudah sedada & mereka belum dapat bantuan apapun. stay safe utk semuanya, kalau ada yang bisa reach out mohon dibantu yaa 🥹🥹
🌟TWITTER DO YOUR MAGIC🌟
Mau cerita, jadi aku dapat orderan shopee food antar makanan ke rumah Abang ini.
Setelah sampai lokasi aku terkejut dapat Customer (Maaf Disabilitas).
Namanya Nurhadi, beliau hidup sendiri diatas kasur yg penuh dengan wadah bekas sisa makanan.