di sosmed itu lebih baik terlihat gak punya aja. Keinget banyak yang bangga2in itu akun karena orang kaya. Skrg kena dikulitin.
Merendah itu, membuat orang lain udah gak bisa rendahin kita. Kalau dikulik ternyata orang kaya, kan malah enak.
Izin menambahkan sedikit 🙏
Banyak yang sekarang terlalu fokus ke “bentuk pola”, sampai lupa inti sebenarnya dari VCP.
Sedikit melengkung → dibilang VCP.
Bentuk mangkuk → langsung dianggap setup ala Minervini.
Padahal VCP itu bukan soal gambar.
VCP = Volatility Contraction Pattern.
Intinya adalah:
- range harga makin menyempit
- volatilitas makin mengecil
- volume makin turun
- supply makin tipis
lalu terjadi expansion saat demand masuk
Jadi yang dilihat bukan sekadar “chart cantik”, tapi proses kontraksinya.
Dan menurut saya, ini juga berlaku untuk banyak pendekatan lain di market.
Tidak semua:
- bid offer
- tape reading
- breakout
- support resistance
- moving average
- Wyckoff
- Smart Money Concept
atau indikator teknikal lainnya…bisa diterapkan mentah di semua saham.
Karena tiap saham punya karakter berbeda:
- likuiditas
- market cap
- fase siklus
- volatilitas
- sampai gaya pergerakan bandar
Big caps beda.
Second liner beda.
Saham gorengan beda lagi.
Makanya kadang ada yang bilang: “bid tebal = akumulasi”
Padahal bisa saja layering.
Atau: “breakout valid”
Padahal volume tidak mendukung.
Atau: “VCP cantik”
Padahal distribusi belum selesai dan volatilitas masih liar.
Teknikal itu soal konteks.
Bukan sekadar template.
Yang sulit di market bukan menghafal pola.
Tapi memahami:
- kapan setup itu valid
- cocok dipakai di saham seperti apa
- efektif di fase market yang mana
- dan siapa "pelaku" dominannya
Semakin lama di market, biasanya orang semakin sadar:
Setup bagus ≠ probabilitas tinggi.
Karena kualitas setup juga dipengaruhi:
- liquidity
- sentiment
- momentum sektor
- kondisi market dan psikologi pelaku pasar
Makanya trader yang sudah matang biasanya lebih fleksibel.
Tidak terlalu fanatik pada satu metode.
Market itu dinamis, kalau semua pola selalu berhasil, semua orang pasti sudah kaya hanya dari screenshot chart 😄
#salamsusahnyaham
Kalo harus lewat badan khusus negara,maka kemungkinannya:
- margin keteken
- pricing power hilang
- birokrasi naik
- political intervention naik
- transaction cost naik (?) — ada approval,dokumen dan teka-teki bengek Sagala rupa nu ngarurudet.
Not good for business.
Kalau lu profesional gak punya beking atau afiliasi politik, sebaiknya jangan masuk ke proyek pemerintahan. Kalaupun masuk, main yang kecil2 aja.
Angka 3 digit M ke atas itu mainannya udah ekstrim.
Ada dua kondisi WNI:
Yang satu ngk paham Finansial :
⇒ Duit 10jt kehilangan nilainya -5% gara2 kurs.
Sementara itu,
Yang melek finansial nyoba invest saham :
⇒ Duit 10jt minus -25% gara2 invest di IHSG.
Moral of the Story:
"Terima nasib kalo jadi WNI.. 😂😂"
Dikatain buka kelas, ya terima aja kan emang buka kelas.
"worst investment lu apa?"
- jangan percaya inluencer -
Termasuk saya.
Kalau gak harus percaya kenapa buka kelas?
Yang Percaya Percaya Aja.
Terima kasih, @lynk_id
Bursa Efek Indonesia baru2 ini mengumumkan Saham Terkonsentrasi Tinggi atau High Concentration List - HCL
Spontan pasar heboh, karena ternyata tidak sesuai juga dengan data kepemilikan di atas 1%
Seperti apa HCL di mata Global Index Provider seperti MSCI dan FTSE?
Salah satu project yang lagi gw kembangin: IDX Flow
🔗 https://t.co/7U3eVDaRlq
Awalnya iseng reverse-engineer transaksi saham IDX. "Coba liat siapa yang beli siapa yang jual." Makin dalem, makin banyak rabbit hole.
Masalahnya: kebanyakan orang analisa transaksi itu cuma sebatas di "Broker X net buy sekian lot, kita beli. Broker Y net sell sekian lot, kita jual." Maka dari itu, gw decide untuk ngebuat beberapa layer untuk analisa:
📊 Flow-Price Correlation
Bukan asal "wah flownya naik, pasti bullish". Pakai ridge regression + walk-forward cross-validation buat ukur seberapa kuat flow beneran gerakin harga. Kalau korelasinya lemah ya ga bisa dipaksa jadi sinyal
🔄 Wyckoff Phase Detection
Lagi di fase akumulasi, markup, distribusi, atau markdown? Bukan nebak pakai feeling, tapi pake two-layer classifier yang combine broker score sama price action.
🕵️ Smart Money Tracker
Ada pergerakan yang kaga kelihatan dari angka mentah. Pola akumulasi/distribusi yang tipis, yang baru keliatan kalau dirangkai menjadi beberapa sinyal sekaligus.
🎛️ Regime-Adaptive Analysis
Ini yang paling penting: blue-chip dan gorengan nggak bisa dianalisis pakai ruler yang sama. Sistemnya auto-detect tipe saham (blue-chip, mid-cap, high-vol) dan adjust semua threshold sesuai karakter masing-masing.
📈 Gaussian HMM Regime Detection
Deteksi kapan korelasi flow-harga lagi di regime kuat vs lemah supaya bisa tau kapan sinyal flow bisa dipercaya, dan kapan cuma noise.
🏦 Broker Distribution
Siapa yang lagi dominan? Aliran dana dari broker ke broker divisualisasi supaya keliatan polanya.
Kagak ada satu sinyal ajaib. Tapi, banyak layer analisis yang harus dirangkai untuk menjadi sesuatu yang (mudah-mudahan) lebih solid dari sekadar liat net buy/sell.
App nya sendiri masih RAW dalam tahap alpha. Masih dikembangin tiap hari. Gw rilis sekarang untuk dapetin feedback dari kalian-kalian yang terjun ke pasar juga.
Akses nya masih ratis buat sekarang. Kemungkinan jadi subscription-based karena jujur aja waktu dan effort yang dikeluarin nggak sedikit 😭✌️
Monggo dicoba kalau penasaran. Untuk segala feedback atau apapun itu bisa DM ke aku lewat X atau tele (https://t.co/c6EGvg9HoH). Feedback form otw disematkan di website.
Pas market lagi ijo semua merasa jago.
Celap-celup sana sini, risk management tiba-tiba hilang dari kamus kehidupan.
Dikasih stockpick, dikasih insight, dikasih ilmu, dibales dengan 2M. "Makasih mas🙏”
Begitu market merah diare, dimana-mana langsung berubah jadi ruang keluh kesah.
Yang keluar bukan refleksi, tapi sumpah serapah.
Lucunya, ini fenomena klasik yang bahkan ada istilah psikologinya: self-attribution bias.
Untung → karena skill sendiri.
Rugi → pasti salah orang lain.
Market hijau: “Aku jago banget baca market.”
Market merah: “Ini siapa sih yang rekomendasiin saham beginian?”
Padahal realitanya sederhana. Trading itu bukan beli barang di toko. Ini bukan kek beli nasi goreng gerobakan yang kalau rasanya aneh bisa komplain ke abang nya.
Market itu kan probability game juga ya
Orang boleh kasih strategi, boleh kasih insight, boleh kasih kartu as yang kelihatan bagus.
Duit ya tetap duit pribadi. Yang masang bid offer di market itu kan juga ujung jari mu sendiri. Kagak ada yang maksa tekan tombol buy/sell.
Kalau komplain karena ketidakpuasana mah menurut gw wajar. Tapi kalau sampai levelnya blackmail,
itu bukan lagi soal rugi trading. Tandanya cuman satu:
belum siap secara mental untuk play the game in the same field dengan orang-orang yang berhasil.
Orang2 pengen profit pribadi, tapi ketika rugi ingin tanggung jawab kolektif.
Di dunia market, orang yang benar-benar brerhasil biasanya punya satu kebiasaan sederhana:
Kalau salah posisi, dia tidak cari kambing hitam.
Dia cuman perlu mengakui kesalahan dan berkata:
“My mistake. Life goes on, let's move on to the next trade”
1% ownership dashboard based on KSEI data
Feel free to check it here:
https://t.co/nozufQC75t
Thanks to @AskPerplexity for the amazing Perplexity Computer
Gue barusan minta Openclaw buat nawar listing property di Jogja
Openclaw ini bisa kerja sendiri. Dia punya akses ke device dan browser gue
Jadi dia bisa login, cari listing, chat dan bales langsung. Sama kayak manusia yang punya akses ke laptop lo
Gue deploy dia di Mac Mini M4
Mari kita lihat hasilnya gimana semoga gue ga kena report wkwk
Ada yang bisa dijelaskan dengan penelusuran fundamental - laporan keuangan - accounting trickery.
Ada yang bisa dijelaskan dari pertanda chart teknikal yang selalu bergerak ke kanan, indikator volume dsb.
Ada yang bisa dijelaskan dari analisa transaksi, kondisi lapangan.
Ada yang bisa dijelaskan dari kacamata buyside.
Ada yang bisa dijelaskan dari kacamata sellside.
Pada intinya, tidak ada yang benar absolut.
Hanya keberhasilan yang berbanding lurus dengan usaha, doa, karma baik, probabilitas tinggi.
Respect everyone in the market.
Lu tau gak si rasanya orang miskin bisa naik tingkat, nah itu gua lagi alamin 🤣
Kalau tau dari dulu ada cari uang macem begini mah, udah gua seriusin.
Bener deh, lingkungan punya peran penting thdp pola pikir.
Di pasar modal tuh nyari duit.
Gw gak mau jadi si paling bener, gw mau nyari cuan doang.
Tugas kita ya adaptasi, klo market lagi waras ya gw bakal pake itung2an waras. Klo market lagi gak waras ya gw jg pake itung2an gak waras.
Dan gak jarang gw cuan karena alasan yang SALAH.
Komut trader is back.
Perusahaan Huang Yeping lagi-lagi ngebackdoor perusahaan indo.
pasar indo jadi ladang cuan bagi mereka hahaha,
tinggal omon-omon soal project sahamnya naik mereka tinggal jualan wkwk.
ntahlah, toh ritel kita mana peduli wkwk
“HAPSORO - THE CAPITALISM OLDEST FLYWHEEL”
Jauh sebelum kita mengenal saham,startup dan tek-tek bengek-nya,manusia purba sudah memakai kapitalisme “purba”.
Dari Mesopotamia kuno hingga VOC.
Dan sadar atau tidak happy Hapsoro memakai kapitalisme “purba” ini di era “modern”.