Kita ini sadar nggak sih….?
Narasi yg dijual Trump ke Prabowo memang terdengar begitu manis dan penuh sanjungan, “Palestina butuh kehadiran Indonesia sebagai saudara muslim yg mereka percaya.” Namun jauh dari sorotan kamera pers, peta Gaza tidak ditandai dengan zona aman untuk pengungsi, melainkan zona penyangga strategis.
Israel walau tidak peduli, tapi lelah juga dengan kecaman global dari banyak negara yg mengutuk aksi kejahatan kemanusiaannya. Belum lagi ancaman serangan dari negara pendukung Palestina yg tak berkesudahan, mereka membutuhkan “tameng pelindung” baru.
Tembok beton bisa diledakkan, dan Iron Dome bisa ditembus, tetapi ada satu penghalang yg jauh lebih sulit untuk diserang oleh pejuang Palestina atau para sekutunya, yakni saudara muslim yg mendukung mereka sendiri.
Rencana itu bukanlah tentang memberdayakan tentara Indonesia sebagai Penjaga Perdamaian, melainkan menempatkan mereka sebagai pion di papan catur yg paling mematikan.
Mengingat watak Zionist Israel dan liciknya Trump, hampir dapat dipastikan posisi-posisi pos penjagaan Indonesia tidak akan dirancang untuk melindungi warga sipil Gaza, melainkan diletakkan secara presisi mengelilingi titik-titik operasi klandestin Israel.
Ini adalah jebakan psikologis yg sempurna. Ketika unit-unit khusus Israel melancarkan serangan “bersih-bersih” atau provokasi senyap dari balik garis pertahanan koalisi, setiap balasan roket atau serbuan dari faksi perlawanan Palestina akan dipaksa melewati pos penjagaan Indonesia terlebih dahulu.
Dilema itu dirancang untuk mencekik para pejuang Palestina. Menembak berarti membunuh tentara dari negara sahabat yg selama ini mendukung mereka (sebuah bunuh diri diplomatik yg akan mengucilkan Palestina dari pendukung terbesarnya). Namun jika tidak membalas berarti membiarkan Israel menyerang tanpa hukuman dari balik punggung “Garuda” yg tidak sadar sedang diperdaya.
Bagi Trump di Gedung Putih, ini adalah kemenangan mutlak. Jika tentara Indonesia gugur terkena serangan balasan, narasi global akan bergeser, “Lihat, teroris bahkan membunuh penjaga perdamaian Muslim”, tapi jika serangan balasan terhenti karena keraguan, Israel bebas beroperasi, menembaki penduduk sipil, bahkan wanita dan anak-anak.
Tentara kita tidak dikirim untuk menjadi wasit. Dalam skenario gelap ini, besar kemungkinan mereka dikirim untuk menjadi tameng hidup. Daging dan darah yg dipaksa berdiri di antara pelatuk dan sasaran, sementara dalang sesungguhnya tersenyum aman dari kejauhan, terlindungi oleh “niat baik”yg palsu.
Sejatinya Trump ini mewakili wajah moyang kulit putih Amerika yg dulu membantai penduduk asli negara yg kini dipimpinnya itu. Ia kembar identik non biologis Netanyahu.
Mempercayai apa yg keluar dari mulut keduanya persis seperti mempercayai Iblis dengan Da’jal, yg satu tegas menyatakan akan menjadikan penduduk Palestina terbakar api genosida, dan yg satunya berpura-pura menjadi sahabat agar mudah menikam bangsa Palestina dan para pendukungnya dari belakang.
Aneh dan bodohnya, kok kita dengan begitu na’if menyumbangkan uang dan nyawa tentara sendiri pada keduanya.
@cabiiuuu@takberotak@rushourbae Kalaupun jadi ke Bogor, itu posisi udh jam 11 malem, otomatis sampe Bogor lebih malem, dan pasti nginep2 juga gak sih???
Lagian nih ya, jam 11 malem kenapa mau2 aja dijemput, kalau otw nya malem ya otomatis pasti nginep lah apalagi pergi ke luar kota pake motor.
Smh
@cabiiuuu@takberotak@rushourbae Iya gw ge gereget, kenapa mau aja diajak main jauh yang udah pasti nginep. Kalau nge iyain berarti emg udh nerima segala konsekuensi itu.
Apakah gak kepikiran sejauh itu ya?