Bali memang jarang demo, males ribut, dan cinta damai (katanya). Apakah ini bagian dari budaya "Koh Ngomong", "Nak Mule Keto", dan "Kanggoang kene" atau hanya malas untuk membawa aspirasi ini ke pemerintah pusat?
Setelah belajar menyelam ke dunia yang sebelumnya tidak pernah ada di rencana, saya mulai mempertanyakan tentang status Bali. Dengan segala karakteristik dan keistimewaannya, agak aneh bali tidak meminta hak "asymmetric decentralization" seperti halnya Aceh, Papua, dan DIY
Tarlton (1965) dan Isra et al (2019) menyebutkan bahwa treatment asymmetric decentralisation ini memang biasanya diawali dengan protest, kerusuhan, atau perdebatan sengit jangka panjang.
Saat masih kuliah di UGM, saya mendengar kabar seorang diplomat muda Indonesia di London berani tampil di BBC World Debate, berhadapan dgn diplomat senior Ramos Horta, di saat atmosfer internasional sedang menyudutkan Indonesia. Diplomat muda Indonesia itu tampil gemilang menjaga nama Indonesia tegak berwibawa. Di situlah pertama kali saya mendengar namanya: @dinopattidjalal.
Beberapa tahun kemudian, saat sedang menempuh progam PhD di Illinois, kami berjumpa langsung. Dino datang ke Chicago menjelaskan keadaan mahasiswa dan diaspora Indonesia pasca-9/11. Yg kami temui adalah diplomat muda yg cerdas, artikulatif, dan mampu menangani persoalan rumit dgn ketenangan diplomatik yg sulit ditiru.
Tahun 2012, sebagai Dubes di AS, Dino menggagas Kongres Diaspora Indonesia pertama di Los Angeles, mempertemukan diaspora dari seluruh dunia. Saya termasuk yg ia undang. Ia lalu mendirikan FPCI, komunitas kebijakan luar negeri terbesar dan berpengaruh, yg ikut melahirkan generasi diplomat baru, ujung tombak kita di panggung global.
Menguasai substansi, rekam jejaknya teruji, dan pengalaman memimpinnya luas. Itulah Dino. Karier diplomatiknya panjang dan ajeg, kecintaannya pada politik luar negeri Indonesia begitu dalam. Dino Patti Djalal, bukan karbitan jadi diplomat, bukan pula karbitan jadi pejabat.
Akhir-akhir ini, setiap baca kutipan pernyataan pejabat di tanah kelahiran, hampir selalu berujung, "Hadeh, bacot"
Antara marah, kecewa, dan pengen nyumpahin.
Hari ini kurs USD to IDR sudah menyentuh 17.500, sementara EUR to IDR mencapai 20.500, paling lemah sepanjang sejarah. Berapa lama kondisi ini akan bertahan?
Kekhawatiran lain yang juga muncul adalah pembiayaan beasiswa luar negeri yang terus dihitung dalam mata uang asing. Saya yakin pembiayaan kami sudah dihitung secara optimal beserta dengan deviasi terkait nilai tukar rupiah.
Unfunded mandates: pemerintah pusat "memeruntahkan" pemda untuk menjalankan fungsi/program tanpa dukungab fiskal yang memadai.
Contohnya adalah sistem penggajian guru sekolah negeri sampai level SMP yang secara peraturan merupakan kewenangan pemda.
Kesimpulannya sederhana sekali, saudara-saudara. Tiket pesawat mahal bukan karena Indonesia memang susah. Bukan karena avtur. Bukan karena geografi kepulauan. Semua itu adalah narasi yang sangat berguna bagi mereka yang diuntungkan kalau lo percaya bahwa ini adalah takdir yang tidak bisa diubah.
Yang sebetulnya terjadi adalah: Ada dua grup maskapai yang menguasai 96 persen langit Indonesia, dilindungi oleh regulasi yang mempersulit pesaing baru masuk, dibantu tarif batas bawah yang mengunci harga tinggi, dan didukung oleh struktur pajak yang justru memukul penumpang domestik lebih keras dari penumpang internasional.
Dan setiap kali ada krisis baru seperti lonjakan avtur April 2026, narasi "ya wajar lah" itu semakin mudah dijual. Padahal krisis itu hanya mengekspos lebih telanjang betapa rapuhnya industri yang dari dulu memang tidak pernah dibangun di atas kompetisi yang sehat.
Langit Indonesia milik seluruh rakyat Indonesia. Bukan milik dua grup konglomerat.
Sumber: LPEM FEB UI Working Paper 041 (2019), https://t.co/bfPsVb3LFe (Apr 2026), GoodStats (Apr 2026), CNBC Indonesia dan Media Indonesia (Jan 2026), DPR RI (Jan 2026), Databoks/Traveloka (Mei 2026).
Di kabinet? Banyak
Di lembaga sipil? Ada
Di SPPG MBG? Melimpah
Di (calon) koperasi merah putih? Bejibun
Bahkan, konon katanya,kini di persiapan keberangkatan LPDP pun mereka campur tangan dengan dalih kedisiplinan.
Sebegitu jauhkah kita mundur dari agenda reformasi?
#akankemana
Saat reformasi baru dimulai, dwi fungsi ABRI dihapuskan untuk memfokuskan fungsi TNI sebagai kekuatan pertahanan.
Kini, bukan lagi dwi fungsi, TNI telah bertransformasi (atau ditransformasi) menjadi multifungsi.
#akankemana
Not really. It always depends on the conditions and regional characteristics and the cooperation (check and balance, in this case) between central and local gov
When exploring the relationship between governance and regional resilience, I found that currently some of regions are facing the situation called "unfunded mandates": gaps between devolved responsibilities and funding
When the gaps are quite high, the "disaster" happened. We can see the disparity in TPP pemda, teacher compensation (yes, this is a part of local gov'responsibility).
So, is decentralization always that bas for us?
Meneliti resiliensi wilayah sembari belajar untuk menjadi pribadi yang lebih resilient. Percakapan dengan kolega saat makan siang kali ini seperti mengingatkanku: it is okay for feeling dumb and make mistakes (even a looot of mistakes). They are normal parts in Phd journey
Seperti meeting mendadak pagi ini yg sekalian konsul tentang agenda konferensi tahun depan.
Sarannya bukan lagi tentang konten konferensi (karena keduanya konferensi bagus), tapi tentang lokasi yg mana yang lebih turistik 🤣🤣🤣
101 hari di UG. Awalnya bingung, kepala terasa penuh. Seiring waktu, mulai beradaptasi. Bersyukur dengan para supervisor (di ITB dan UG) yang supportif.
Di UG, supervision meeting hampir pasti diawali dengan pertanyaan semacam: how was your day? Are U happy to be here? dsb
Kemudian bahas progress, komentar, apresiasi, revisi, dan hal serius lainnya. Meeting ini biasanya juga diakhiri dengan ngingetin biar ga stres, ngingetin buat libur kalo perlu. Lagi-lagi mental health 😁