Jangan membenci siapa tau kita butuh pertolongannya, jangan menghina siapa tau dia kekasih-Nya ...dan jangan mudah sakit hati siapa tau itu cara-Nya menaikkan derajat kita ...
Ya Allah, siapa pun yang membaca tulisan ini, lapangkan rezekinya, mudahkan urusannya, dan panggil ia menjadi tamu-Mu ke Makkah dan Madinah. Jika belum saat ini, maka tetapkan hatinya tetap rindu dan istiqamah sampai Engkau undang ia ke rumah-Mu. Aamiin.
#celahawan 🕊
Tak semua yang indah harus mewah
Kadang cukup hangat, sederhana, dan tanpa buru-buru
Nikmati yang lagi dijalani, gak perlu mikir kapan ini kapan itu, karena semua ada waktunya
Terkadang, solusi untuk masalah besar kita justru tersimpan pada bantuan kecil yang kita berikan kepada orang lain. Keajaiban tidak datang dari perhitungan angka di atas kertas, tapi dari ketulusan yang melampaui logika manusia
Istrinya lumpuh akibat kanker otak. Dang menghabiskan tabungan 7 miliar lebih untuk pengobatan dan perawatan istrinya.
Melihat pengorbanan suaminya , istri Dang selalu mengatakan : "Biarkan aku pergi".
Apa jawaban Dang ketika istrinya mengatakan hal yang sama berulang kali..??
Dang menari.
Setiap pagi , sore dan malam Dang menari di hadapan istrinya sambil memberi dorongan semangat hidup.
Perhatian , Cinta , kasih sayang Dang berikan tanpa kenal lelah....pengorbanan Dang tak sia-sia , istrinya perlahan pulih secara ajaib.
Bila Tuhan sudah berkehendak ..mukjizat itu ada.
#celahawan 🕊
Gembiralah, bukan karena hidup tanpa ujian, tapi karena hatimu masih mampu melihat keindahan
Dalam duka ada hikmah tersembunyi, dalam kesulitan ada rahmat Ilahi
Bahagia bukan milik yang sempurna, tapi milik hati yang senantiasa bersyukur
#celahawan 🕊
Pesan pada hati
Tak semua orang menyukai kita
Tak semua orang ikhlas, dan tak semua orang jujur dengan kita
Manusia sentiasa berubah, kadang menjadi rapuh, kadang menjadi kuat
Belajarlah menerima...
Karena hati yang tenang tidak mudah goyah oleh sikap orang lain
#celahawan 🕊
Apa yang kita minta belum tentu yang terbaik
Tapi apa yang Allah beri, sudah pasti yang terbaik
Sekecil apapun kebahagiaan yang didapat, bersyukur adalah cara sederhana untuk berterima kasih pada Sang Pencipta
Suatu hari, Umar bin Khattab melihat Jabir ibn Abdullah pulang dari pasar dengan membawa sesuatu di tangannya.
Umar bertanya, “Apa yang engkau bawa itu, wahai Jabir?”
Jabir menjawab, “Ini sepotong daging. Aku membelinya karena aku ingin memakannya.”
Umar menatapnya, lalu berkata pelan namun menggetarkan, “Apakah setiap kali engkau menginginkan sesuatu, engkau langsung membelinya?”
Dialog itu sekilas mungkin terasa berlebihan. Apa salahnya makan enak? Apa salahnya membeli sesuatu yang kita inginkan? Jika kita yang ditegur, barangkali kita akan tersinggung dan berkata, “Kenapa ikut campur urusan orang lain? Suka-suka aku dong, mau makan apa saja, kan ini uangku."
Namun Jabir bukanlah orang yang hatinya sempit. Ia tidak marah. Ia justru diam, merenung, mencoba memahami maksud teguran itu. Umar tidak sedang melarang daging, dan tidak pula mengharamkan kenikmatan dunia. Ia hanya sedang mengajarkan prinsip besar: tidak semua keinginan harus dipenuhi. Manusia harus mampu mengelola hasratnya, bukan diperbudak olehnya. Sebab ketika keinginan selalu dituruti, perlahan ia berubah menjadi penguasa yang mengendalikan hidup.
Di sinilah letak pelajaran yang relevan sepanjang zaman, termasuk saat ini. Betapa banyak orang bukan hancur karena kekurangan, melainkan karena tidak pernah belajar menahan keinginan. Gaji dua digit bahkan tiga digit pun ternyata tak cukup, karena gaya hidupnya terus mengikuti keinginan yang mahal.
Atas nama gengsi, nafsu yang dibiarkan tumbuh liar akan mengikis ketahanan jiwa, melemahkan disiplin, dan menumpulkan empati. Orang yang terbiasa berkata “iya” pada semua keinginannya akan kesulitan berkata “tidak” saat hidup menuntut pengorbanan.
Puasa hadir sebagai latihan nyata untuk menaklukkan diri. Kita lapar, kita haus, sementara makanan dan minuman tersedia di depan mata, bahkan kini cukup satu sentuhan layar untuk memesannya.
Uang mungkin ada, kesempatan terbuka, tapi kita memilih menahan diri. Bukan karena tidak mampu membeli, bukan tak punya uang, tapi karena sedang belajar menguasai diri.
Puasa mendidik kita untuk menyadari bahwa kebebasan sejati bukanlah melakukan semua yang kita mau, akan tetapi ketika kita mampu menahan apa yang kita mau.
Teguran singkat Umar kepada Jabir menjadi pelajaran panjang bagi siapa pun yang mau berpikir: kendalikan keinginanmu sebelum keinginan itu mengendalikanmu.