Ceweknya Heo Nam Jun nambah sejuta tiap My Royal Nemesis tayang, tapi NAMBAH LAGI SEJUTA TIAP KEPOIN SOAL DOI SJSHSH
Beliau ini ternyata bisa segalanya, dari nyetir mobil sampe truk buat motong rumput juga bisa 😭😭😭
Buat yang lagi belajar bahasa Jepang (terutama kanji), pasti sudah tau ada yang namanya 部首 (bushu) radikal, yang berperan memberi makna secara garis besar pada sebuah kanji
Berikut, beberapa 部首 "hewan" yang berguna dalam belajar kanji:
beli barang buat diri sendiri mikirnya berminggu-minggu, tapi buat ngajak keluarga makan enak di luar mikirnya cuma 2 menit. semoga Allah lancarkan rejeki kita semua biar bisa membahagiakan orang-orang yang kita sayang, aamiin.
lancarkan rezekiku Ya Allah, sehingga orang di sekitarku juga bisa menikmati rezekiku. aku tak ingin jadi beban untuk siapapun, izinkanlah aku untuk bisa menjadi salah satu perantara rezeki bagi mereka.
Aamiin
Bagian tersulit dari menjadi dewasa adalah melihat orang tua kita menua.
Melihat daya dari sang waktu menyentuh dua orang yang paling mencintai kita, dua orang yang paling awal mengasihi, dan paling lama.
Semua yang mereka korbankan supaya kita bisa sampai di titik ini, pelan pelan berubah jadi keriput yang menempel abadi di wajah mereka, berubah jadi rambut yang memutih, dan kantung mata yang makin terlihat.
Katanya, setiap tahap hidup punya keindahan. Itu benar. Tapi hampir tidak ada yang menyiapkan kita untuk rasanya duduk di meja makan, melihat mereka makan, lalu sadar, senyum mereka tidak semuda dulu.
Ya dan kita juga.
Kita masih anak bagi mereka, tapi kita bukan anak kecil lagi. Aneh rasanya. Kita dan orang tua kita sama-sama orang dewasa, tapi dipisahkan beberapa puluh tahun jarak usia.
Tumbuh besar tidak pernah sempurna. Memang begitu. Karena kita juga cobaan pertama mereka menjadi orang tua. Mereka belum pernah menjadi orang tua sebelumnya.
Walaupun begitu, aku tidak akan menukarnya dengan versi apapun walau katanya lebih baik.
Aku baru mengerti, aku dan orang tuaku tumbuh besar bersama, dan ada sesuatu yang indah di sana.
Tapi yang kadang membuat haru adalah aku sadar aku punya kehidupan ini karena mereka pernah mengalah, pernah menepi, pernah memberi ruang.
Hidup yang aku jalani hari ini, dibangun dari hidup yang dulu mereka sisihkan untukku.
Dan sekarang aku menyaksikannya langsung di depan mata.
melihat mereka mulai lebih sering istirahat karena lelah yang ia simpan rapi.
melihat mereka lebih pelan saat berdiri, lebih hati hati saat melangkah, seolah sedang belajar menerima dahsyatnya kekuatan waktu pada tubuhnya.
Aku melihat tangan mereka. Tangan yang dulu kuat mengangkatku, menuntunku menyeberang, merapikan seragamku, mengusap-usap kepalaku, kini punya garis garis halus yang tidak pernah ada di masa kecilku.
Kadang aku menangkap momen kecil yang menghenyakkan.
Mereka mulai sering mengulang cerita yang sama, mulai sering lupa untuk hal-hal memori jangka pendek. Mulai menunjukkan semua hal yang aku baca di buku ajar geriatri, ilmu kesehatan usia lanjut.
Mereka bertanya hal yang sama dua kali, dan aku dulu tergesa menjawab, Sekarang aku memilih menatap mata mereka dengan senyum, menjawab pelan, karena aku sadar, yang mereka cari bukan sekadar jawaban, tapi kehadiran.
Aku mulai paham, ada doa yang tidak diucapkan lewat kata, tapi lewat kebiasaan mereka.
Mereka masih mencintaiku dengan cara yang sama, hanya saja tubuh mereka tidak lagi secepat hati mereka.
Di masa kecil, aku merasa waktu berjalan lambat. Aku ingin cepat besar. Aku ingin cepat punya kebebasan. Aku ingin cepat menjadi siapa pun yang aku impikan.
Sekarang, ketika aku sudah sampai, aku justru ingin waktu melambat.
Aku ingin satu makan malam lagi tanpa buru buru. Satu perjalanan lagi dengan tangan mereka di sebelahku. Satu pagi lagi mendengar suara mereka memanggil namaku dari ruang tengah. Satu kesempatan lagi untuk bilang, terima kasih untuk segalanya. Satu kesempatan lagi untuk memeluk lebih lama, tanpa alasan.
Karena aku sangat mengerti.
Orang tua tidak pernah meminta kita membalas semua pengorbanannya. Mereka hanya ingin kita hadir, sesering yang kita bisa. Mereka hanya ingin kita pulang, meski sebentar. Mereka hanya ingin kita baik baik saja menjalani kehidupan, meski mereka sendiri sedang belajar menua.
Sedikit lebih lambat. Sedikit lebih tua. Tapi tetap sama, dicintai, sepenuh itu.
Dan kalau suatu hari nanti garis garis itu makin banyak, langkah mereka makin pelan dan terbatas, aku ingin mereka tahu satu hal.
Aku tidak pernah benar benar pergi dari rumahnya. Aku sadar, cinta paling murni yang pernah kita terima, sedang berjalan menuju senja.
Dan tugas kita sederhana.
Menemani mereka sampai matahari benar benar turun, dengan hati yang lembut, dengan waktu yang kita sisihkan, dengan pelukan yang jangan kita tunda, dengan kata kata indah yang jangan kamu hemat.
Karena mereka tidak pernah hemat mencintaimu.