Baca reply nya banyak yang nyaranin klo HP diservis, daripada ngasih PIN, lebih baik pake maintenance mode/repair mode, sehingga teknisi cuma bisa akses bagian yg penting dan bukan bagian privasi.
Bisa jg pasang FR di app2 privasi (pesan, galeri, dll)
Dicatat 📝
Warga BoDeBek yang kesel, silahkan menekan Pemdanya, karena Jakarta udah ngajak Jawa Barat urunan buat Subsidi Transjabodetabek
Sama coba teken ke Bapak Aing, karena pas koordinasi Forum Kerja Sama Daerah Mitra Praja Utama (FKD-MPU) di Hotel Borobudur, Jakarta Pusat, 17 Juni 2025. Dalam forum itu, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung memang mengusulkan/minta dukungan (ikut patungan subsidi) Transjabodetabek untuk warga daerah penyangga (termasuk Jabar). KDM jawab bahwa Pemprov Jabar belum siap ikut urunan karena masih mempertimbangkan urgensi subsidi angkutan umum tersebut (prioritasnya lebih ke transportasi desa/pedesaan yang lebih mendasar).
Begitu
Saat masih kuliah di UGM, saya mendengar kabar seorang diplomat muda Indonesia di London berani tampil di BBC World Debate, berhadapan dgn diplomat senior Ramos Horta, di saat atmosfer internasional sedang menyudutkan Indonesia. Diplomat muda Indonesia itu tampil gemilang menjaga nama Indonesia tegak berwibawa. Di situlah pertama kali saya mendengar namanya: @dinopattidjalal.
Beberapa tahun kemudian, saat sedang menempuh progam PhD di Illinois, kami berjumpa langsung. Dino datang ke Chicago menjelaskan keadaan mahasiswa dan diaspora Indonesia pasca-9/11. Yg kami temui adalah diplomat muda yg cerdas, artikulatif, dan mampu menangani persoalan rumit dgn ketenangan diplomatik yg sulit ditiru.
Tahun 2012, sebagai Dubes di AS, Dino menggagas Kongres Diaspora Indonesia pertama di Los Angeles, mempertemukan diaspora dari seluruh dunia. Saya termasuk yg ia undang. Ia lalu mendirikan FPCI, komunitas kebijakan luar negeri terbesar dan berpengaruh, yg ikut melahirkan generasi diplomat baru, ujung tombak kita di panggung global.
Menguasai substansi, rekam jejaknya teruji, dan pengalaman memimpinnya luas. Itulah Dino. Karier diplomatiknya panjang dan ajeg, kecintaannya pada politik luar negeri Indonesia begitu dalam. Dino Patti Djalal, bukan karbitan jadi diplomat, bukan pula karbitan jadi pejabat.
Poin pertama saja sudah sangat problematik. Belum lagi poin2 selanjutnya.
Orang ini nggak paham soal bahwa narasi biaya pribadi presiden itu justru menabrak prinsip tata kelola negara.
Klaim bahwa kelebihan biaya ditanggung oleh dana pribadi presiden itu secara etika birokrasi dan hukum tata negara adalah hal yg sangat problematis.
Ini blurs the line. Dalam administrasi publik modern, harus ada batas yang mutlak antara kekayaan pribadi pejabat (private wealth) dan operasional negara (public fund).
Saat presiden memakai duit pribadi untuk urusan kedinasan, hal ini justru merusak standarisasi penganggaran dan akuntabilitas.
Lalu bagaimana biaya2 dicatatkan dalam LKPP?
Apakah ini dikategorikan sebagai hibah pribadi kepada negara?
Jika iya, apakah sudah melalui prosedur penerimaan hibah yang sah agar tidak menimbulkan conflict of interest di kemudian hari?
"Salah satu cerita favorit saya terjadi saat menghadiri sesi latihan terakhir menjelang final Liga Champions melawan Liverpool di Athena pada tahun 2007.
Saat itu, Pippo Inzaghi yang menjadi striker utama Milan tampil sangat buruk di latihan. Dia kesulitan mengontrol bola dan hampir selalu kehilangan bola. Di sisi lain, kami memiliki striker hebat lainnya, Alberto Gilardino, yang baru saja mencetak gol di semifinal melawan Manchester United.
Ketika saya berdiri di pinggir lapangan bersama Carlo Ancelotti dan melihat Inzaghi terus kehilangan bola, saya berkata kepadanya:
"Kenapa tidak memainkan Gilardino saja? Kondisinya terlihat jauh lebih baik daripada Inzaghi."
Carlo hanya menjawab:
"Inzaghi itu pemain yang unik. Bisa jadi besok adalah malamnya."
Dan benar saja, keesokan harinya Inzaghi mencetak dua gol di final.
Pelatih lain mungkin akan memilih Gilardino setelah melihat performanya di semifinal dan penampilannya yang lebih baik di latihan. Apalagi Gilardino bukan pemain sembarangan, dia adalah pemain penting bagi tim.
Carlo juga mengakui bahwa Inzaghi memang sedang tidak bermain bagus. Namun, dia merasa bahwa semuanya bisa berubah dalam satu pertandingan. Dia punya firasat.
Beberapa waktu kemudian, Ancelotti berkata kepada saya: "Setelah 30 tahun berkecimpung di dunia sepak bola, saya sudah mengembangkan insting untuk hal-hal seperti ini, dan saya belajar untuk mempercayainya."
— Adriano Galliani, mantan wakil presiden AC Milan.
📖Quiet Leadership karya Ancelotti.
Udah bener Como fokus jd entitas bisnis profesional yg sustain dan profitable. Bukan jadi "panti asuhan" dan hobi melakukan gimmick2 berkedok pembinaan.
Lagian saran kok disuruh komunikasi dgn salah satu pemilik paling dibenci oleh fans sendiri krn merusak struktur klub.
Aneh banget.
PAOLO bin CESARE MALDINI dianggap sebagai kapten terhebat sepanjang masa. selama 12 tahun ia memimpin Milan yang dipenuhi oleh para pemain kelas dunia berego besar dan ia mampu menyatukan mereka menjadi tim juara.
saat ditunjuk sebagai direktur olahraga oleh Elliott, Maldini memanggil Boban, Massara dan Leonardo untuk 'membimbingnya' karena ia sadar diri sebagai pemula. ia juga menyerahkan kendali teknis tim sepenuhnya kepada Pioli. hasilnya, proyek berjalan bagus dan berujung Scudetto.
dengan fakta ini Cardinale bisa-bisanya menyindir Maldini sebagai one-man show, sementara itu ajaibnya dia sendiri mempercayakan Milan saat ini di tangan Ibrahimovic, seorang mercenary egomaniak yang menyebut dirinya sendiri 'god', yang musim lalu dengan sengaja menyabotase Milan agar gagal mencapai target hanya karena ia berseteru dengan Allegri.
Paolo Maldini seorang yang elegan dan terhormat. sekalipun ia diperlakukan buruk oleh Cardinale/Furlani ia meninggalkan Milan dengan senyap, tanpa banyak bicara yang menimbulkan polemik. ia menikmati waktu bersama keluarga dan menjalani kegiatan dan hobinya dengan tenang. ia bahkan mampu menahan diri untuk gak menyerang atau meyindir Cardinale/Furlani saat Milan terpuruk di posisi ke-8 setahun lalu dan gagal secara tragis musim ini. malah Cardinale duluan yang menyindirnya.
benci sekali rasanya melihat klub kesayangan dikuasai oleh orang-orang 'asing' inkompeten dan gak terhormat seperti mereka. anehnya mereka juga ada pendukungnya di kalangan milanisti, yang bahkan ikut menyerang Maldini, legenda terbesar mereka sendiri. betapa gobloknya. jujur, dan gw yakin gw gak sendiri, di satu sisi, ingin melihat Milan membaik dan kembali berjaya, tapi di sisi lain juga ingin sekali melihat orang-orang yang gak punya rasa hormat terhadap sejarah Milan ini gagal total sehingga mereka segera meninggalkan Milan. 💔🖤
Jadi semalem aku lg makan ni sm bocils trs suami dateng minta
Suami : kok krupuknya sekarang dikit?
Aq : inflasi gais sembarang mundhak, dollar mundhak... Salahe kw milih gemoy
Bocil genzi : hah??? Apa??? Papa dulu milih gemoy???
Aq : 🤣🤣🤣🤣
Saya ada cerita seorang bapak.
Dia kerja 20 tahun buat biayain anaknya kuliah S1.
Lembur.
Utang.
Sampai jual tanah warisan.
Anaknya lulus. IPK bagus.
Wisuda lengkap dengan toga.
Sekarang anaknya kerja serabutan. Gaji di bawah UMR.
Dan si bapak masih senyum bilang,
"Mungkin belum rezekinya."
Yang bikin saya merenung bukan cerita anaknya.
Tapi cerita si bapak.
Dia lahir tahun 70-an.
Gak tamat SMA pun bisa buka toko,
punya rumah,
besarin anak dengan layak.
Logikanya simpel dan masuk akal:
"Dulu gw gak sekolah tinggi aja bisa. Kalau anak gw kuliah,
hidupnya pasti jauh lebih baik dari bapaknya."
Logika itu benar. Di zamannya.
Masalahnya bukan orang tua yang salah didik.
Bukan juga anaknya yang kurang usaha.
Tapi janji yang mereka pegang sudah kedaluwarsa.
Ijazah dulu adalah tiket.
Sekarang ijazah adalah syarat minimum.
Yang bahkan kadang pun masih belum cukup.
Dua hal yang kelihatannya sama, tapi sebetulnya beda jauh.
Bayangin ya.
Tahun 1995,
fresh graduate langsung diperebutkan perusahaan.
Sekarang,
lowongan entry level minta pengalaman 2 tahun,
skill digital, bisa multitasking, dan siap ditempatkan di mana saja.
Gajinya?
UMR aja belum tentu.
Hampir sama kalau dikonversi ke harga waktu itu.
Tapi harga rumah, kontrakan, dan beras sudah tidak ikut berdiam di angka yang sama.
Generasi 90-an pasti hafal nasihat ini:
"Rajin sekolah, biar dapat kerja bagus."
"Kuliah dulu, baru enak hidupnya."
"Investasi terbaik itu pendidikan."
Nasihat itu bukan bohong.
Di zamannya, itu benar dan terbukti.
Tapi zamannya sudah ganti.
Nasihatnya tidak ikut ganti.
Dan anak-anak kita tumbuh sambil pegang peta zaman dulu
yang sudah tidak cocok sama jalanan yang mereka hadapi sekarang.
Saya pernah ngobrol panjang sama seorang teman.
Dia cerita,
"Bokap gw sampai jual motor buat bayar UKT semester terakhir gw."
Saya tanya, "Sekarang kerjanya apa?"
"Freelance desain. Kadang ada job, kadang enggak."
"Bokap lu tau?"
"Tau. Dia bilang sabar, rezeki ada aja. Tapi gw liat matanya... dia bingung."
Si bapak bingung bukan karena anaknya gagal.
Tapi karena cara yang dulu berhasil sekarang tidak lagi bekerja.
Dan dia tidak punya peta baru untuk dikasih ke anaknya.
Kalau anakmu masih sekolah atau mau kuliah,
jangan cuma pikirin jurusannya.
Tapi ajarin juga:
1. Ajarin dia cara kerja uang sejak kecil.
2. Bekali satu skill konkret yang bisa langsung menghasilkan.
Sebelum dia lulus dan bingung mau mulai dari mana.
3. Kasih ruang buat gagal kecil sekarang.
Biar dia gak gagal besar pertama kali justru di dunia nyata.
4. Jangan cuma bekali ijazah. Bekali juga kemampuan bertahan.
Bukan berarti kuliah tidak penting. Tapi kuliah saja sudah tidak cukup.
Soalnya begini.
Orang tua yang paling menyiapkan anaknya bukan yang paling banyak bayar biaya kuliah.
Tapi yang paling jujur bisa ngomong ke anaknya:
"Dunia yang kamu masuki berbeda dari dunia yang Ayah dan Ibu kenal.
Kita harus cari tau bareng-bareng."
Kejujuran itu lebih berharga dari SPP mana pun.
Dan seperti biasa, selalu ada dua kubu.
Kubu pertama bilang,
"Orang tua salah. Harusnya ajarin skill, bukan kejar gelar."
Kubu kedua bilang,
"Orang tua sudah benar. Anaknya yang kurang mau usaha."
Tapi ada kemungkinan ketiga yang jarang ada yang mau nyebut:
Dua-duanya sudah berusaha sebaik yang mereka bisa dengan informasi yang mereka punya.
Tapi sistemnya yang tidak pernah jujur ke keduanya.
Generasi kita mungkin adalah generasi pertama yang hidupnya lebih susah dari orang tuanya.
Bukan karena malas. Bukan karena manja.
Tapi karena peta yang diajarkan ternyata sudah tidak relevan saat mereka datang.
Dan orang tua mereka masih dengan tulus menunjuk ke peta yang didapat dulu.
Menarik melihat langkah SMAN 1 Pontianak. Secara komunikasi publik, mereka sedang melakukan 'Moral High Ground'. Mereka menolak narasi 'ulang lomba' yang justru berisiko merusak mental siswa dan sportivitas. Mereka tidak menyerang MPR, tapi mengunci argumen pada transparansi poin. Sebuah contoh manajemen krisis yang sangat dewasa di level sekolah menengah. Pendidikan bukan cuma soal menang, tapi soal kejujuran sistem
BUKAN, bukan Sheva atau Kaka, bukan juga paketan Ibra dan Thiago Silva, apalagi Donnarumma. buat aku pribadi kepergian paling menyakitkan adalah transfer Sandro Tonali. bukan diukur dari kehebatan dan jasa mereka bagi Milan melainkan konteks kondisi Milan saat Sandrino pergi yang membuat dampaknya lebih menghancurkan.
Shevchenko pergi karena permintaan istri dan undangan kawan dekatnya Abramovich. Kaka pindah ke klub idamannya Real Madrid setelah sebelumnya menolak Manchester City. keduanya pergi setelah berkontribusi besar ke Milan dan saat itu, melihat kondisi Milan, ada keyakinan bahwa setelah kepergian mereka Milan masih akan baik-baik saja. sementara itu Zlatan dan Thiago Silva terpaksa dijual karena Milan terlilit krisis keuangan. sehingga masih lebih mudah merelakan kepergian mereka.
Sandro Tonali berbeda. ia datang tepat setelah Milan mulai lepas dari kegelapan banter era dan perlahan bangkit kembali menuju kemapanan. seorang anak muda yang gak pernah segan menunjukkan kecintaannya pada Milan sejak ia kecil - ia adalah bagian dari kita fans fanatik Milan. kedatangannya ke Milan diberitakan bagai sebuah dongeng, mimpi masa kecil yang jadi kenyataan.
bukan cuma bermodal cinta, Tonali juga datang dengan potensi dan kemampuan bermain yang dapat diandalkan. dan jika bicara soal 'grinta', Sandrino dengan fasih meniru kegarangan sang idola Gennaro Gattuso. dan tak kalah pentingnya, ia datang dibawa oleh Paolo Maldini, simbol dan legenda terbesar Milan.
tahun pertama Sandrino gak berjalan mulus - inkonsistensi, kecerobohan, dan masih banyak pelajaran dan penyesuaian yang perlu ia jalani. tahun berikutnya, dongeng dan mimpi itu menjadi sempurna - Milan meraih Scudetto dan Tonali menjadi berperan besar di dalamnya, termasuk gol penting ke gawang Lazio. semua milanisti bersuka cita, ekspektasi masa depan membumbung tinggi dan harapan terbang ke awang-awang. hari itu, 22 Mei 2022, pikiran semua milanisti saling terkait dalam satu kalimat, lantang dan yakin "WE ARE FINALLY BACK!!"
hari-hari berikutnya kita telah membayangkan dengan hati gegap gempita: bersama beberapa pemain andalan lainnya, Tonali dan Paolo Maldini akan stay di Milan selama mungkin, Tonali akan menjadi kapten Milan, menjadi bandiera baru Milan, di bawah asuhan sang kapten abadi, dan mereka akan membawa Milan kembali ke puncak kejayaan. menegaskan kembali identitas Milan ke hadapan dunia - Milanismo.
namun kemudian, nasib buruk tak mampu dihalau, dengan tangan cepat Magic Mike sekalipun - Redbird dan Cardinale terjadi. belum genap setahun kehadirannya, orang USA ini, atas pengaruh Furlani, memecat Maldini dengan cara yang sangat kurang ajar. belum cukup, dua bulan kemudian mereka juga menjual Tonali ke Newcastle United. Tuhan, dongeng indah itu ternyata punya plot twist super mengejutkan. tak pernah sepahit ini aku menerima penjualan pemain Milan. patah hati itu nyata.
saat itu aku pribadi berusaha menanggapi langkah absurd itu dengan khusnuzon seperti layaknya fan yang baik dan setia. kalau sebelumnya aku bisa ber-positive thinking terhadap Yonghong Li, kenapa gak bisa bereaksi sama terhadap Cardinale pikirku. namun, tiga tahun berlalu semenjak musim panas 2023 yang gila itu petunjuk semakin terang bahwa mimpi dan harapan itu sepertinya benar-benar pudar, dongeng indah itu berubah menjadi cerita horror. sementara di sini, di sudut kamar, di depan laptop ini, aku dengan sisa-sisa cinta dan gairah ini masih menantikan mereka kembali - Sandrino dan Paolo kami.
Buon Compleanno, Sandro Tonali. 🖤❤️