โgak menjustifikasi tindakan pelaku, CUMAN...โ
โpelaku salah, TAPI....โ
โgak dukung pelaku, TAPI...โ
y'all sound STUPID AS FUCK. like knp fokusnya ke โwhat SHE didโ instead of โwhat HE DIDโ ??? i hope none of y'all have to go thru all of that shit the femicide victims went thru.
perfect victim ini juga yg sering dipake polisi ketika ada laporan pemerkosaan, pencabulan & tindak asusila lain
"ya kan itu berdua pacaran, ya wajar lah"
"kamu saat diperkosa menikmati ga?"
benci polisi tp bermental polisi, ya sama aja bengisnya
di indo lu tuh harus perfect pure virgin, nggak pernah sentuh lawan jenis, nggak pernah alkohol, nggak pernah drugs, selalu ibadah non-stop, baik hati, rajin menabung, & tidak sombong baru bisa orang simpati sama lo kalau lo DIBACOK PAKE KAPAK alias ANJING LU SEMUA NGENTOT
Mitos Korban yang Sempurna - Pembacokan Mahasiswi Riau
The Perfect Victim Theory: konsep kriminologi & feminisme yang menjelaskan bagaimana masyarakat (termasuk sistem hukum, media, & opini publik) cenderung percaya atau memberikan simpati penuh kepada korban kekerasan/kriminalitas yang memenuhi kriteria sempurna atau ideal. Konsep ini diperkenalkan oleh sosiolog Norwegia, Nils Christie pada 1986 dalam esainya "The Ideal Victim".
Teori ini menjadi mitos karena konsep ini bukan aturan ilmiah mutlak, melainkan konstruksi sosial yang kaku, subjektif, & berbahaya yang sering digunakan untuk membenarkan penyalahan korban serta membatasi simpati & dukungan hanya pada korban yang ideal.
Mitos bahwa korban harus memenuhi standar ideal tertentu, seperti lemah, rentan, miskin, pakaian sopan, tidak punya relasi dengan pelaku, perempuan, melawan secara fisik, melapor segera, ingatan jelas, tidak mabuk, dll agar dianggap sah sebagai korban dan mendapat dukungan masyarakat/hukum. Jika yang terjadi sebaliknya, maka tidak dianggap sebagai korban atau ikut berkontribusi atas kekerasan yang terjadi. Ini mitos berbahaya karena kaku, subjektif, & tidak berpihak pada korban.
Kasus pembacokan mahasiswi di Riau kemarin menjadi salah satu contoh bagaimana teori/mitos ini bekerja dalam masyarakat Indonesia ketika muncul rumor/fakta tentang hubungan spesial antara pelaku & korban.
Korban sempurna harus tidak bersalah sama sekali. Rumor/fakta hubungan spesial, selingkuhan, dll langsung memicu victim blaming. Membuat korban tidak dianggap ideal sehingga simpati berkurang, cerita korban diragukan, & fokus bergeser ke kesalahan korban daripada perbuatan pelaku.
Mitos ini melanggengkan budaya patriarki, di mana korban non-ideal mengalami viktimisasi sekunder, trauma tambahan dari gosip, julid, viral medsos, atau aparat yang ragu saat proses hukum nanti. Kasus dengan narasi cinta buta atau plot twist selingkuhan bisa mengaburkan fakta kekerasan berbasis gender, bahkan percobaan femisida sadis & brutal kemarin.
Sumber @konde_co@_perEMPUan_ :
- https://t.co/nRlgiwxmY1
- https://t.co/ZY4UO1vFUO