Pelajaran hidup:
KALAU PUNYA ANAK NANTI GW AKAN RAJIN BAWA DIA KE DOKTER GIGI APAPUN KONDISINYA. KALAU GAK MAU, AKAN GW SERET. GIGI RAPI SEJAK DINI ITU PINTU KESUKSESAN JIR TERNYATA. 🤕 💚
@rararatigakali@dzbaiwin HEH LO JANGAN ASAL NYEPLOS, MANA BUKTI LO KALO MEREKA BISA BAGI BAGIIN SATU KEMASAN DIBAGI BEBERAPA. MINIMAL MALU MBA KETIKAN LO UDAH DI SHARE DI IG NYA BELIA JUGA
Manusia akan beneran belajar berempati kalau dia ada di titik terendah hidupnya. Dihajar realita, dikasih penyakit serius, ekonomi runtuh, gak ada jalan lain, and many more. Life doesn’t humble you at your highest, but at your lowest.
Dulu jaman Gojek baru2 mulai dan banyak promo free ongkir, adik saya pesen 1 porsi roti kukus dari Tubagus dikirim ke Setiabudi Regensi. Ibu saya ngamuk menyerapah, mengajarkan bahwa ini gak etis, dan gak menghargai orang lain.
Hanya karena kita bisa, gak berarti itu etis.
Menstruasi tiap bulan, kehamilan beberapa kali, lalu diakhiri menopause.
Sementara kita laki-laki, secara biologi, ya hidup lurus-lurus aja.
Ayo kita sadari sebentar.
Perempuan itu setiap bulan berhadapan dengan biologinya sendiri.
Dengan nyeri datang rutin sekali.
Dengan emosi naik turun tanpa diingini.
Dengan darah yang keluar, tanpa permisi.
Lalu di satu fase hidup, perempuan mengandung.
Menumbuhkan manusia hidup dalam dirinya.
Membagi nutrisi tubuhnya, energinya, tidurnya, napasnya.
Rahim membesar puluhan kali lipat. Organ-organ perutnya bergeser. Trus hormonnya loncat-loncat menari tanpa henti.
Dan ketika semua itu selesai, di dekade ke 5 tubuh berkata,
Haha belum selesai.
Tiba-tiba Menopause datang.
Badan rasa jadi tungku panas, lelah, gelisah, tubuh terasa asing, tapi tetap harus menjalani semua fungsi dan perannya sebagai Ibu.
Sementara biologi kita laki-laki?
Bangun tidur.
Tarik napas.
Minum air.
Kerja seharian.
Lalu merasa wah hari ini produktif sekali.
Kadang kita demam tinggi sedikit saja,
Nada bicara langsung melemah.
Rasanya ingin nulis pidato perpisahan
Setelah memahami ini, aku sering bertanya dalam hati, bagaimana bisa perempuan setangguh ini.
Bayangkan kita laki-laki yang mengalami menstruasi.
Mungkin sebulan sekali kantor akan tutup.
Grup WhatsApp penuh keluhan.
Rumah sakit penuh drama.
Satu kram kecil, sudah minta dipijat se-RT.
Kehamilan?
Laki-laki lapar satu jam saja sudah gelisah.
Jadi kalau hari ini kita melihat perempuan tetap tersenyum,
tetap bekerja,
tetap mengurus keluarga,
tetap peduli orang lain,
Kita menyadari kekuatan versi berbeda.
Dan kita, para laki-laki,
Sudah selayaknya lebih menghargai dan menyayanginya. 🩷