Orang yang belajar dibantu ChatGPT ternyata memiliki kemampuan mengingat yang lebih rendah dibandingkan dengan yang belajar secara tradisional
Penelitian ini menunjukkan bahwa menggunakan ChatGPT untuk belajar tanpa batasan, ternyata dapat mengganggu kemampuan memori jangka panjang akibat berkurangnya latihan kognitif yang membantu pembentukan memori yang lebih baik.
Sumber Ilmiah:
ChatGPT as a cognitive crutch: Evidence from a randomized controlled trial on knowledge retention
Meeting lo sepi bukan karena tim ga punya pendapat, tapi karena mereka belajar diam itu lebih aman.
Tiap kali ada yang berani ngomong terus lo potong di depan umum, sembilan orang lain nyatet: mending diem.
Mau reshare lg aah
Beberapa bulan lalu, di twitter juga, gw nemu 1 google drive isinya ilmu semuaaa.
Nih langsung aja https://t.co/qEvuMTjGAP
Silakan belajar sepuasnya yaaa. Semoga bermanfaat
Silakan bookmark dan bantu repost yaa!
Honor narsum ini harusnya dilihat dari berapa orang narsumnya + berapa lama waktunya + berapa banyak kegiatannya.
Angka 812 juta bisa jadi “kecil” jika dilihat dari pagu anggaran narasumber per jamnya. Belum lagi skalanya yang sudah pasti besar dan banyak. Enggak mungkin juga selesai sehari.
Ngaku deh, sekarang buka search engine pasti udah jarang klik link apalagi geser halaman.
Mandhek di ringkasan yg dibuat AI.
Mesin pencari udah jadi mesin penjawab dan mesin pengambil kesimpulan.
Dan itu "berbahaya".
https://t.co/8TR0WkJFTx
Pas banget abis baca kalau di Selandia Baru ada pendekatan CS Unplugged
Mungkin kelasnya Bu Inge yang pakai kertas folio fokus murni ke logika algoritma tanpa distraksi syntax atau IDE, insight yang saya baca ini justru mengajarkan algoritma (termasuk sorting) lewat aktivitas fisik kelompok
Siswa berdiri di jalur jaringan raksasa yang digambar di lantai, pegang kertas angka, lalu bergerak sesuai aturan untuk “men-sort” data secara paralel
Lebih kinestetik, kolaboratif, dan fun — semacam “coding tanpa komputer & tanpa kertas coding”. Mirip semangat Bu Inge (fokus logika), tapi dieksekusi dengan gerak tubuh
Banyak negara lain juga pakai pendekatan tangible/unplugged buat bangun intuisi algoritma sebelum masuk ke komputer
Di Indonesia ada semacam pendekatan ini atau yang lebih unik lainnya tidak yaa?
Tulisan ini buat bapak yang enggak hadir secara emosional dalam hidup anaknya.
Ini buku merangkum teori, temuan riset, bukan cuma satu studi tunggal, serta dampak kehadiran bapak terhadap tumbuh kembang anak.
Sebuah utas 🧶
Udah ngecek keabsahan beritanya. Beritanya valid. Lebih tepatnya pssi-nya Norway mendonasikan seluruh hasil penjualan tiket pertandingan vs. Israel waktu itu kpd sebuah organisasi kemanusiaan yg mendukung bantuan medis di Gaza dan wilayah terdampak di Palestina.
Not exaggerating when I say the future depends on this catching on en masse. Kids, adults. Book clubs, silent reading groups. For the past twenty-five years tech has corroded our attention, intelligence and basic pleasure in living, and books are the key to winning them back.
"Lo tuh mikirnya kurang strategis"
Feedback yang dulu bikin gue kesel, sampai gue sadar bos gue bener.
Gue jago eksekusi. Pas diminta mikir beberapa langkah ke depan, gue blank.
Berpikir strategis bukan bakat. Itu latihan. 6 yang gue pakai 👇
There’s more to the youth mental health crisis than social media. A key culprit is perfectionism.
307 studies, 35 years, 83k students: Young adults feel growing pressure to be flawless.
It's a risk factor for depression and anxiety—and it began a generation before smartphones.
Tepat sekali bahwa pola asuh keluarga (orang tua) akan berpengaruh pada karakter anak, meski bukan faktor tunggal
Di Kriminologi, ada teori Social Bond (Ikatan Sosial) yang menyebut 4 elemen pencegah kejahatan/penyimpangan
- attachment (kasih sayang orang tua)
- commitment (tanggung jawab atas suatu kelompok/organisasi)
- involvement (keterlibatan kegiatan positif)
- belief (keyakinan/kepercayaan atas hukum)