Eks Wakil Menteri Luar Negeri RI Dino Patti Djalal, lewat akun IG pribadinya, menyampaikan kritik kepada pemerintah RI yang terkesan menyepelekan udangan Iran ke pemakaman Ayatollah Ali Khameini yang tewas dibunuh Israel pada 28 Februari 2026 lalu.
Pemerintah nggak memenuhi undangan dari Iran dengan mengutus delegasi resmi, dan yang hadir hanya Dubes RI di Teheran. Hal ini, oleh Teheran, dianggap sebagai sikap menyepelekan undangan.
ibu ini cerita kenapa Nadiem Disingkirkan:
- Digitalisasi ancam koruptor= mereka gk bisa korupsi lg
- kebijakan berbasis data bikin penyelewengan ketahuan
- Putus rantai vendor lama
- pindah ke Chrome OS bikin vendor Microsoft & pelatih lama kehilangan income
- Hapus ujian nasional
- hilangkan proyek kertas, buku, soal ujian bernilai miliaran
- hapus jual beli kunci jawaban
- Dana BOS jadi transparan
- laporan terintegrasi, tidak bisa lagi lapor fiktif
- Angkat 700.000 guru PPPK
- ganggu sistem jual beli jabatan yang sudah lama berjalan
- Tidak paham adat
- masuk kolam kotor tapi mau bersih-bersih
- Nadiem disingkirkan karena terlalu banyak pihak kehilangan uang dari pusat sampai daerah
Kekayaan Alam Indonesia di Peringkat Dunia:
- Nikel nomor 1 dunia
- Kelapa sawit (CPO) nomor 1 dunia
- Timah nomor 2 dunia
-Batu bara nomor 2 dunia
- Panas bumi (geothermal) nomor 2 dunia
- Tembaga nomor 7 dunia
- Emas nomor 7 dunia
- Keanekaragaman hayati nomor 2 dunia
- Hutan tropis nomor 3 dunia
- terumbu karang nomor 1 dunia
Kalau dikelola benar, bisa dapat apa?
Total estimasi kasar: Rp1.800 - 2.500 triliun/tahun
- Gaji guru honorer sekarang Rp300-400 ribu/bulan harusnya bisa Rp10-15 juta/bulan
- UMR sekarang rata-rata Rp3-4 juta/bulan harusnya bisa Rp8-12 juta/bulan
- Pendidikan & kesehatan gratis total
- Pajak bisa lebih rendah
من الحج إلى الاقتصاد العالمي.. كيف فكك الراحل أربكان هيمنة "روتشيلد وروكفلر" على حركة العالم؟
يقول الراحل أربكان:
أريد الذهاب إلى الحج؛ فماذا سأفعل لأجل ذلك؟
سأركب خطوط الطيران التركية أو الخطوط السعودية.
وعندما أركبها، أقول في نفسي فرحاً: "يا للروعة، أنا أتعامل مع دول إسلامية".
ولكن!!
لكي تطير الخطوط التركية أو السعودية في المطارات الدولية، فهي مجبرة على أن تكون عضواً في منظمة "إياتا" (IATA).
ومنظمة "إياتا" هي مؤسسة تابعة لعائلة "روكفلر".
ولكي تكون عضواً فيها، فأنت مجبر على دفع 9% من قيمة تذكرة الطيران لـ "روكفلر".
هذا يعني أنني لا أستطيع الذهاب إلى الحج من هنا دون دفع 9% من قيمة التذكرة.
حسناً، لن أذهب بالطائرة، سأذهب بالسفينة!ولكن لكي تبحر السفينة في أعالي البحار، يجب أن تحصل على إذن من هيئة "لويدز" (Lloyd's).
وهيئة لويدز هي مؤسسة تابعة لعائلة "روتشيلد"، وهناك أيضاً يتم دفع 9%.
انظروا إلى حال هذا العالم؛ أريد الذهاب إلى الحج، ولا يمكنني الخروج من بيتي دون دفع 9% من أموال طريقي لليهود.
أي عالم هذا؟
Sia- Tanah
Malaysia
Tunisia
Russia
Land- Tanah
England
Scotland
Ireland
Iceland
Finland
Poland
Switzerland
The Netherlands (Tanah rendah)
Thailand
Stan- Tanah
Afghanistan (Tanah orang Afghan)
Kazakhstan (Tanah orang Kazakh)
Kyrgyzstan (Tanah orang Kyrgyz)
Tajikistan (Tanah orang Tajik)
Turkmenistan (Tanah orang Turkmen)
Uzbekistan (Tanah orang Uzbek)
Nesos/nesia- kepulauan
Indonesia (kepulauan india)
Polynesia (banyak pulau)
Micronesia (pulau-pulau kecil)
Mentemen nanya, daerah mana di Indonesia yang memenuhi kriteria ini?
-Biaya hidup dan sewa rumah relatif murah.
-Akses ke bandara kurang dari 2 jam.
-Ada rumah sakit besar dan pendidikan/sekolah bagus/memadai.
-Tidak macet atau jarang.
-Udara masih bersih.
-Kriminalitas rendah.
Ada nggak??
Guys, gue baru baca sesuatu yang bikin gue mikir keras. Dan semakin gue pikirin semakin gue yakin ini adalah jawaban paling jujur dari pertanyaan yang sudah lama menggantung:
kenapa Indonesia tidak pernah benar-benar maju?
Negara-negara yang berhasil jadi maju hampir semuanya melakukan dua hal yang sama.
Dua hal yang sederhana.
Dua hal yang sebetulnya tidak butuh teknologi canggih atau sumber daya alam melimpah untuk dilakukan.
Fokus ke pendidikan.
Dan berantas korupsi sampai ke akarnya.
Dan dari presiden pertama sampai presiden kedelapan tidak ada satupun yang benar-benar melakukan keduanya sekaligus dengan serius.
Lihat Korea Selatan.
Tahun 1960-an, Korea Selatan adalah negara miskin yang bahkan lebih miskin dari beberapa negara Afrika. GDP per kapitanya di bawah Ghana.
Tidak punya sumber daya alam berarti.
Tidak punya modal besar.
Yang mereka punya hanya satu hal:
keputusan untuk taruh semua energi negara ke pendidikan.
Pemerintahnya menginvestasikan anggaran besar untuk sekolah, guru, dan kurikulum yang relevan dengan kebutuhan industri masa depan.
Bukan sekadar melek huruf tapi mendidik generasi yang bisa berpikir, berinovasi, dan bersaing di level global.
Hasilnya?
Lima puluh tahun kemudian Korea Selatan melahirkan Samsung, Hyundai, LG, BTS dan menjadi salah satu ekonomi terbesar di dunia.
Bukan karena nikel.
Bukan karena batu bara.
Tapi karena manusianya.
Lihat Finlandia.
Negara kecil di ujung utara Eropa yang tidak punya sumber daya alam luar biasa.
Yang mereka lakukan adalah menjadikan guru sebagai profesi paling bergengsi dan paling kompetitif di negara itu.
Untuk jadi guru di Finlandia kamu harus bersaing ketat seperti masuk fakultas kedokteran.
Gajinya layak, penghargaan sosialnya tinggi, dan kepercayaan pada guru sangat besar.
Hasilnya?
Sistem pendidikan Finlandia konsisten masuk peringkat terbaik di dunia.
Dan SDM-nya menjadi fondasi ekonomi yang kuat tanpa bergantung pada ekspor komoditas.
Sekarang lihat China.
Banyak orang membahas China dari sisi ekonomi atau geopolitiknya.
Tapi ada satu hal yang jarang dibahas:
kenapa China bisa tumbuh jadi adidaya dalam waktu yang relatif singkat?
Salah satu jawabannya adalah pemberantasan korupsi yang dilakukan dengan cara yang tidak pernah dilakukan Indonesia.
Di China pejabat yang terbukti korupsi tidak cukup hanya dipecat atau dipenjara beberapa tahun.
Xi Jinping menetapkan bahwa korupsi di atas 3 juta yuan sudah memenuhi syarat untuk hukuman mati.
Dua jenderal senior militer Li Shangfu dan Wei Fenghe dihukum mati.
Bukan karena mereka orang kecil tanpa koneksi.
Mereka adalah orang-orang paling berkuasa di sistem militer China.
Pesannya ke seluruh aparatur negara sangat jelas:
tidak ada yang terlalu tinggi untuk dijatuhkan.
Uang negara bukan uang pribadi.
Dan konsekuensinya nyata bukan basa-basi.
Hasilnya?
Uang negara yang sebelumnya bocor ke kantong pejabat mulai mengalir ke tempat yang seharusnya:
infrastruktur, teknologi, riset, pendidikan.
Dan China tumbuh menjadi kekuatan ekonomi nomor dua di dunia.
Sekarang lihat Singapura.
Lee Kuan Yew membangun negara ini dari titik nol bahkan lebih buruk dari nol, karena Singapura diusir dari Malaysia dan tidak punya sumber daya alam apapun.
Tidak ada air bersih yang cukup.
Tidak ada lahan pertanian.
Tidak ada minyak bumi.
Yang dia lakukan pertama kali bukan membangun jalan tol atau gedung pencakar langit.
Yang dia lakukan pertama adalah membuat korupsi menjadi sangat mahal ongkosnya dan membuat pendidikan menjadi prioritas utama negara.
Pejabat di Singapura digaji tinggi karena Lee Kuan Yew sadar bahwa gaji yang rendah adalah undangan untuk korupsi.
Tapi di sisi lain, hukuman untuk yang tetap korupsi meskipun sudah digaji tinggi luar biasa beratnya.
Tidak ada kompromi.
Tidak ada maaf karena koneksi politik.
Lima puluh tahun kemudian Singapura adalah salah satu negara dengan GDP per kapita tertinggi di dunia. Dari negara yang diusir dan tidak punya apa-apa.
Dan sekarang kembali ke Indonesia.
Kita punya nikel terbesar di dunia.
Kita punya batu bara.
Kita punya sawit.
Kita punya lautan yang luasnya luar biasa.
Kita punya 270 juta manusia salah satu populasi terbesar 3 di dunia.
Tapi kita tidak pernah benar-benar fokus ke pendidikan.
Dan kita tidak pernah benar-benar berantas korupsi sampai ke akarnya.
Anggaran pendidikan 20% yang diamanatkan konstitusi dipotong untuk membiayai program makan siang yang tata kelolanya amburadul.
Guru honorer masih ada yang digaji di bawah UMR. Infrastruktur sekolah di daerah terpencil masih memprihatinkan.
Dan kurikulumnya berubah-ubah tergantung siapa menterinya.
Koruptor di Indonesia rata-rata divonis 3 tahun 3 bulan. Harvey Moeis yang terlibat korupsi tambang timah Rp300 triliun divonis 6,5 tahun di tingkat pertama.
Sementara Nadiem dituntut 18 tahun untuk kasus yang kerugian negaranya bahkan belum terbukti mengalir ke rekeningnya.
Hukum kita bukan soal seberapa besar kerusakan yang kamu buat.
Hukum kita soal seberapa besar ancaman yang kamu buat terhadap kepentingan yang sedang berkuasa.
Dan ini yang menurut gue paling penting untuk diakui dengan jujur:
bukan soal siapa presidennya.
Dari Soekarno sampai Prabowo setiap pergantian presiden selalu ada narasi yang sama.
Narasi perubahan.
Narasi pemberantasan korupsi.
Narasi investasi pada SDM.
Dan setiap kali di balik narasi itu selalu ada kepentingan politik yang lebih besar dari niat untuk memajukan negara.
Bukan karena semua presiden jahat.
Tapi karena sistem yang ada tidak dirancang untuk menghasilkan pemimpin yang benar-benar bebas dari kepentingan di belakangnya.
Setiap presiden naik ke atas dengan bantuan koalisi dan koalisi selalu punya harga yang harus dibayar.
Harga itu dibayar dengan kebijakan, dengan proyek, dengan perlindungan dan ujungnya rakyat yang menanggung.
Selama sistem itu tidak berubah siapapun yang duduk di kursi presiden akan menghadapi tekanan yang sama.
Dan sangat sedikit manusia yang bisa menolak tekanan itu ketika harga politisnya terlalu besar.
dua hal yang membuat negara maju fokus ke pendidikan dan berantas korupsi sampai ke akarnya bukan hal yang sulit dipahami. Semua orang tahu.
Semua presiden pasti tahu.
Tapi mengetahui dan melakukan adalah dua hal yang berbeda ketika sistem politiknya sendiri dibangun di atas fondasi yang membuat keduanya hampir mustahil dilakukan secara bersamaan dengan sungguh-sungguh.
Dan sampai fondasi itu diubah kita akan terus merayakan pertumbuhan ekonomi di atas kertas, sambil terus melihat uang negara bocor, guru honorer digaji tidak layak,
dan orang-orang terbaik kita memilih pergi ke luar negeri karena di sana kepintaran dihargai bukan dihukum.
Guys, Connie Rahakundini Bakri guru besar hubungan internasional yang sekarang mengajar di Rusia baru balik ke Indonesia dan bicara sesuatu yang menurut gue paling jujur dan paling berani yang pernah gue dengar tentang kondisi negeri ini.
Dia tidak bicara dari pinggir.
Dia bicara sebagai orang yang melarikan diri dari Indonesia karena nyawanya terancam.
Sebelum Prabowo dilantik Connie terlalu keras menolak proses Gibran yang menabrak konstitusi.
Dia bahkan turun sendiri ke depan Istana.
Bukan aktivis jalanan tapi ilmuwan pertahanan yang sudah puluhan tahun di bidangnya.
Tengah malam dia dapat peringatan dari FSB intelijen Rusia bahwa dia akan diselesaikan.
Diberi waktu 24 jam untuk keluar dari Indonesia.
Dia menemui Ibu Megawati malam itu.
Dan Ibu hanya bilang satu kalimat sambil memandangi foto lamanya bersama Bung Karno:
"Kalau sudah begini lebih baik ikuti saja."
Connie pergi.
Dalam semalam.
Dengan surat khusus dari Kedutaan Rusia.
"Mungkin mau diAndri Yunuskan.
Mungkin mau dimunirkan.
Saya tidak tahu.
Yang pasti saya harus pergi."
Dari St. Petersburg dia melihat Indonesia dengan mata yang jauh lebih jernih dari siapapun yang masih ada di dalam sistem.
Dan satu hal yang paling dia tekankan tentang Putin — yang menurutnya paling Indonesia tidak punya:
"Kekuatan Putin yang paling saya kagumi adalah:
masyarakat tidak boleh susah.
Semua bahan pokok tidak ada yang naik.
Apapun yang terjadi dengan negara kehidupan mendasar rakyat tidak diganggu."
Rusia kena sanksi terberat dalam sejarah.
McDonald's ditutup.
Chanel angkat kaki.
Semua brand Barat pergi serentak.
Rubel pernah jatuh.
Tapi besok paginya McDonald's sudah buka dengan nama baru.
Coca-Cola sudah diganti merek lokal.
Harga beras, minyak, kebutuhan pokok tidak bergerak.
Rakyat tidak panik.
Tidak mengeluh.
Mereka hadapi bersama dan langsung cari solusi sendiri.
Hasilnya: kepercayaan rakyat pada pemerintah tetap solid. Karena apapun yang terjadi di level geopolitik perut rakyat tidak diganggu.
Bandingkan dengan Indonesia.
Rupiah melemah harga beras naik.
Pertamax naik.
Harga obat naik 10-20%.
Suku bunga naik.
Dan pejabat masih bilang fundamental ekonomi kita baik-baik saja.
Connie langsung tembak kenapa bedanya:
"Di Indonesia para pemimpin diambil dari tanda terima kasih.
Latar belakangnya apapun tidak dilihat."
Putin menunjuk mantan Menteri Ekonomi muda sebagai Prime Minister khusus yang bertanggung jawab atas industri kreatif game, fashion, AI, robot semua dikembangkan masif dan terencana menggantikan yang pergi.
Di Indonesia kepala BGN yang mengelola Rp335 triliun tidak punya kompetensi di bidangnya.
Hasilnya korupsi meledak sebelum setahun program berjalan.
Soal Prabowo yang terlalu sering ke luar negeri Connie tidak basa-basi:
Dalam 15 bulan menjabat 3 bulan di luar negeri.
Biaya rata-rata Rp20 miliar per hari.
"Rp20 miliar sehari you can do a lot.
Sekolah bisa dibangun 10 sekaligus. S
ementara di Aceh anak sekolah masih harus naik tali melewati arus sungai yang deras."
Dan dia banding langsung:
"Saya tidak pernah lihat Putin pergi ke luar negeri setiap dua minggu sekali.
Tidak ada presiden yang melakukan itu.
Kenapa Indonesia terus permisif?"
Soal buzer yang menyerang pengkritik pemerintah Connie paling keras di sini.
Dia tahu mejanya yang mana.
Dia tahu nama yang mengerjakannya.
Dan dia sudah kirim pesan langsung ke mereka:
berhenti atau dia yang ramaikan.
"Siapa yang bisa beli peralatan negara secanggih itu? Rakyat.
Kenapa rakyat dipakai untuk menghantam rakyat yang sedang mencoba mengkoreksi jalannya bernegara?"
Di Rusia orang yang punya pandangan berbeda tetap bisa berdebat.
Yang diserang adalah argumennya bukan orangnya. Yang dikriminalkan bukan pendapatnya.
Di Indonesia yang mengaku demokrasi Saiful Mujani dikriminalkan.
Dino Patti Djalal diserang.
Dokter Tifa dipolisikan.
Hanya karena berbicara.
Dan prediksi Connie soal Indonesia ke depan tidak ada yang lebih keras dari ini:
"Kalau Indonesia terus berjalan seperti ini —arus ada radical break.
Kalau tidak ada kita tidak bisa lanjut."
Soal Pemilu 2029 dia bilang blak-blakan:
"Kalau Prabowo mau jadi presiden lagi dia pasti menang.
Buat apa pemilu?
Cuma menghabiskan uang.
Jadi stempel saja seperti Orde Baru."
Dan skenario yang lebih berbahaya:
Prabowo tidak maju sendiri tapi mewariskan kekuasaan ke orang yang dia sayangi.
Persis pola Jokowi.
"Berkuasa itu enak.
Dan semua orang di sekelilingnya akan mengamini itu."
Dan Connie menutup dengan satu kalimat yang menurut gue paling menyentuh dari seluruh obrolan ini:
"Kami tidak minta gaji dari pemerintah.
Kami tidak minta jabatan.
Kami cuma ingin negara ini benar.
Harusnya pemerintah berterima kasih bukan mengkriminalisasi kami."
Indonesia punya sumber daya alam melimpah. Penduduk 270 juta.
Posisi geopolitik yang sangat strategis.
Yang tidak dimiliki Indonesia adalah satu hal paling sederhana tapi paling susah didapat:
Pemimpin yang benar-benar menempatkan kesejahteraan rakyat bukan kelanggengan kekuasaan sebagai prioritas utama.
Sampai itu berubah rupiah akan terus melemah.
Buzer akan terus menyerang.
Dan rakyat yang paling bawah akan terus membayar harga paling mahal dari semua keputusan yang dibuat oleh orang-orang yang tidak pernah merasakan hidupnya.
Guys, Mahfud MD dan Ahok baru ngobrol bareng di satu forum dan menurut gue ini adalah percakapan paling jujur dan paling berani tentang satu masalah yang selalu ada tapi tidak pernah benar-benar diselesaikan di Indonesia.
Korupsi.
Dan kenapa sampai hari ini masih amburadul.
Dan jawabannya menurut keduanya sangat sederhana tapi sangat menyakitkan untuk diakui.
Semuanya tergantung satu orang.
Presiden.
Mau atau tidak.
prabowo mau beresin ini atau tidak
Pertama — Mahfud bilang ini dengan sangat keras:
"Hanya orang bodoh yang mengatakan tidak ada dugaan korupsi di situ.
Kalau dikelola kayak gitu sudah pasti ada korupsinya."
Mahfud tidak bicara soal MBG saja.
Dia bicara soal pola yang sudah dia lihat selama puluhan tahun di dalam sistem di DPR, di eksekutif, di penegakan hukum.
Korupsi di Indonesia bukan anomali.
Bukan kecelakaan.
Ini sudah menjadi sistem yang berjalan dengan sangat teratur dan sangat terstruktur.
Dan ini yang paling mengerikan korupsi di DPR bahkan terjadi sebelum uangnya ada:
Mahfud menjelaskan pola yang sudah berlangsung bertahun-tahun dan hampir tidak pernah dibahas secara terbuka.
Ketika menyusun APBN anggota DPR bisa menerima pesanan mata anggaran dari bupati, gubernur, atau pihak manapun yang ingin proyeknya masuk ke RAPBN.
Caranya: seseorang minta tolong anggota DPR untuk memasukkan proyek tertentu senilai misalnya Rp100 miliar. Anggota DPR minta 7% di muka.
Uang belum ada.
Anggaran belum disahkan.
Tapi uang 7 miliar sudah berpindah tangan.
"Anggaran belum ada, korupsinya sudah ada.
Sudah muncul."
Dan begitu anggarannya jadi ada lagi permainan di penunjukan rekanan, di pengadaan barang, di pengawasan. Berlapis-lapis. Dari hulu ke hilir.
Dan ini tentang sistem ij jaringan mafia hukum yang Mahfud ungkap:
Di dunia penegakan hukum Indonesia ada yang disebut sistem ij.
Sebelum sebuah kasus masuk ke pengadilan sudah diatur dulu hasilnya.
Polisinya diatur.
Pasalnya ditentukan.
Naik ke jaksa diatur lagi.
Naik ke hakim diatur lagi.
Semua sudah dinegosiasikan sebelum sidang pertama bahkan dimulai.
"Oleh sebab itu kunci utama memang ada pada Presiden. Kalau presiden mau apapun bisa."
Mahfud bicara bukan sebagai pengamat dari luar.
Dia bicara sebagai orang yang pernah ada di dalam sistem itu. Yang tahu persis bagaimana jaringannya bekerja.
Dan ini tentang akar masalahnya yang Ahok dan Mahfud sama-sama sepakati:
Ahok menyebut satu kata yang menurut dia menjadi akar dari semua masalah republik ini.
Korupsi.
"Kalau kita mau beresin bangsa ini dasarnya itu enggak boleh ada korupsi. Cuma itu. Sebetulnya itu akarnya."
Dan Ahok membandingkan dengan Singapura dan New Zealand bukan karena mereka kaya sumber daya alam. Justru sebaliknya.
New Zealand lebih banyak dombanya daripada manusianya. Tapi investasi mengalir ke sana karena satu hal: pemerintahnya bersih dan hukumnya jalan.
"Uang itu enggak kenal primordialisme.
Kamu hukum jelas, kamu enggak malakin gua, kamu adil saya taruh duit sama kamu."
Dan Mahfud menambahkan dengan data yang sangat spesifik: kekayaan alam hanya menyumbang 23% dari kemajuan sebuah bangsa.
44% ditentukan oleh satu hal saja hukum.
Dan ini tentang kenapa korupsi tidak bisa diberantas — menurut Ahok:
Ahok tidak muter-muter. Dia langsung.
"Saya pikir yang berkuasa ini terlalu sombong dan angkuh.
Mereka berpikir: rakyat mau apa?
Semakin bodoh, semakin miskin semakin gua berkuasa."
Dan dia melihat kebijakan-kebijakan yang ada sebagai bukti dari logika itu.
Kenapa tidak kasih laptop dengan koneksi internet ke setiap anak sekolah?
Kenapa tidak kasih akses pendidikan setara dengan anak-anak di Kanada atau Amerika?
Karena rakyat yang cerdas adalah ancaman bagi mereka yang ingin tetap berkuasa.
Ahok bilang dia tidak bisa nuduh secara langsung.
Tapi keyakinannya sudah jelas.
Dan ini tentang solusi yang Ahok tawarkan yang paling konkret dan paling tidak pernah dilakukan:
Ahok punya dua usulan besar yang menurut dia bisa mengubah Indonesia secara fundamental.
Pertama royalti sumber daya alam yang adil.
Bukan bagi saham.
Bukan bagi untung yang bisa dimanipulasi. Tapi bagi hasil fisik.
Kalau pengusaha angkat 100 ton emas
dari desa saya 10 ton milik desa.
Rakyat desa tahu persis berapa yang diangkat karena mereka yang mengawasi.
Dan desa punya aset nyata yang bisa dikembangkan.
Kedua subsidi langsung berbasis NIK dengan voucher digital. Setiap keluarga yang penghasilannya di bawah UMP dapat voucher listrik, pangan, dan kebutuhan dasar.
Voucher tidak bisa dijual, tidak bisa dipindahtangankan, dan hangus kalau tidak dipakai dalam sebulan.
Tidak ada lagi subsidi yang bocor ke orang yang tidak berhak.
"Semua utang bisa lunas.
Semua rakyat miskin bisa dijamin. Asal mau."
Dan ini tentang mengapa ini tidak pernah dilakukan yang paling menyakitkan:
Mahfud menyebut satu istilah yang menurut gue paling tepat menggambarkan kondisi politik Indonesia:
saling sandera.
Perjalanan karir politik seseorang di Indonesia hampir selalu terhubung dengan jaringan kepentingan yang saling melindungi.
Ketika seseorang naik ke puncak kekuasaan dia sudah terlanjur punya utang politik ke banyak pihak. Dan utang itu dibayar dengan membiarkan korupsi berjalan.
Bukan karena presidennya tidak tahu.
Bukan karena tidak mampu.
Tapi karena tidak bisa.
Atau tidak mau.
"Semboyan-semboyan dan pidato-pidato yang keras itu kadangkala di bawahnya tidak jalan.
Tidak bisa ada penegakan hukum yang sungguh-sungguh karena jaringannya sudah gila."
Dua orang yang paling berani bicara tentang korupsi di Indonesia yang sama-sama pernah ada di dalam sistem, yang sama-sama pernah merasakannya dari dalam menyimpulkan hal yang sama.
Kuncinya ada di presiden.
Bukan di KPK.
Bukan di DPR.
Bukan di masyarakat sipil.
Karena presiden yang mengangkat Jaksa Agung. Presiden yang mengontrol KPK.
Presiden yang menentukan siapa yang naik ke eselon 1. Presiden yang bisa mengeluarkan Perpu.
Presiden yang bisa memutus jaringan korupsi dari atas.
Kalau presiden sungguh-sungguh mau apapun bisa.
Dan kalau tidak jalan itu bukan karena tidak bisa. Tapi karena tidak mau.
Rakyat yang membayar harganya setiap hari.
Osmanlı çınarı, bayrağımızı 7 iklimde gururla dalgalandırmıştır.
Osmanlı’nın yerini alan Türkiye Cumhuriyeti bu topraklardaki ilk değil, son devletimizdir.
Devlet-i ebet müddet, aziz milletimizin bizatihi kendisidir.
Türk milleti var oldukça devletimiz var olmaya devam edecek.