@dinopattidjalal@AFF_Forum_VN@ASEAN “Terima kasih pak Dino. Sangat menghargai sumbangsihnya selama ini dalam membangun pemahaman dan kepedulian mengenai masalah luar negeri,
Salam, Marty”
“This brings us directly to the current condition of geopolitical fragmentation…To survive this, indeed, to thrive … the goal before us is striking what I call a "dynamic equilibrium”
Marty Natalegawa
@AFF_Forum_VN#ASEAN@ASEAN#ASEANFutureForum
“… deeply humbled by the conferment of this award…I do so in recognition of the many dedicated individuals whose tireless services have been invaluable in promoting close ties between Timor-Leste and Indonesia.”
Marty Natalegawa
Another Amity Circle Retreat has been concluded, this time in Hanoi, Vietnam (8-10 April 2026). Participants fortified in their commitment to diplomacy, negotiation and dialogue. #AmityCircle
At the Boao Forum for Asia Annual Conference 2026, the session “RCEP: How to Unleash Greater Potential” brings together former Indonesian Foreign Minister Marty Natalegawa, Jonathan K S CHOI Chairman of the Hong Kong Chinese General Chamber of Commerce, and other leading voices. Amid profound shifts in global trade, the focus is on unlocking the dividends of the world’s largest free trade pact—with Hainan’s Free Trade Port positioned as a key place to turn RCEP’s potential into reality. #BFA2026 #HainanFTP #OpenChina #RCEP @ChinaEmbajada@ChineseEmbinUS@baoshaoshan@Indonesia@GNFI@CHN_EGY
The UN Security Council supported a Board of Peace for Gaza’s interim administration, but what emerged at Davos is worrying.
In our latest newsletter, @HelenClarkNZ explores what this means for a multilateral system already under strain.
https://t.co/RqFyfCrWRU
NEW: 75 former senior officials and experts, including former heads of state, defence chiefs, and diplomats, are calling on all nuclear-armed states to strengthen safeguards against the accidental, mistaken, or unauthorised use of nuclear weapons.
Every nation with nuclear arms bears responsibility for reducing the risk of unintended, mistaken, or unauthorized nuclear use. They should take immediate action to prevent a possible catastrophe.
The world cannot afford to wait for more peaceful times to reduce the risks of nuclear use.
Full statement from @APLNofficial, @theELN, and @NTI_WMD: https://t.co/0HxgECSKlZ
✉️NEWSLETTER | We must reject a world governed by raw power
@HelenClarkNZ reflects on Davos, President Trump’s Board of Peace and pushing back against “might-is-right” as The Elders head to the Munich Security Conference.
Read and subscribe via 🔗 below.
Tiga tahun ini, saya mengikuti perkembangan dunia. Terlebih dinamika global bulan-bulan terakhir ini.
Sebagai seseorang yang puluhan tahun memperhatikan dan mendalami geopolitik, perdamaian dan keamanan internasional, serta sejarah peperangan dari abad ke abad, terus terang saya khawatir. Cemas dan khawatir kalau sesuatu yang buruk akan terjadi. Cemas kalau dunia mengalami prahara besar. Apalagi kalau prahara besar itu adalah Perang Dunia Ketiga.
Sangat mungkin Perang Dunia Ketiga terjadi. Meskipun, saya tetap percaya hal yang sangat mengerikan ini bisa dicegah. Tapi, day by day, ruang dan waktu untuk mencegahnya menjadi semakin sempit. Situasi dunia menjelang terjadinya Perang Dunia Pertama (1914-1918) dan Perang Dunia Kedua (1939-1945) memiliki banyak kesamaan dengan situasi saat ini. Misalnya, munculnya pemimpin-pemimpin kuat yang haus perang, terbentuknya persekutuan negara yang saling berhadapan, pembangunan kekuatan militer besar-besaran termasuk penyiapan ekonomi dan mesin perangnya, serta geopolitik yang benar-benar panas. Sejarah juga mencatat, bahwa meskipun sudah ada tanda-tanda nyata bakal terjadinya perang besar, tetapi sepertinya kesadaran, kepedulian, dan langkah nyata untuk mencegah peperangan itu tidak terjadi. Mengapa?
Mungkin bangsa-bangsa sedunia tidak peduli, atau tidak berdaya, atau mungkin tidak mampu untuk mencegahnya. Secara pribadi saya berdoa kepada Tuhan, semoga mimpi buruk terjadinya perang dunia disertai penggunaan senjata nuklir itu tidak terjadi. Banyak studi yang mengatakan bahwa jika terjadi perang dunia, perang total dan perang nuklir, maka kehancuran dunia tak bisa dihindari. Korban jiwa bisa mencapai lebih dari 5 milyar manusia. Tidak ada peradaban yang tersisa dan musnahnya harapan manusia.
Tapi tidak cukup dengan doa satu, dua orang. Andaikata 8,3 milyar manusia penghuni bumi juga berdoa secara khusyuk, Tuhan tak begitu saja mengabulkan kalau manusia dan bangsa-bangsa sedunia tidak bekerja dan berupaya untuk menyelamatkan dunianya.
Sesempit apa pun, masih ada waktu dan cara untuk menyelamatkan bumi dan dunia kita. Mari kita berbicara dan berupaya. Ingat kata-kata Edmund Burke dan Albert Einstein yang intinya mengatakan bahwa kehancuran dunia bukan disebabkan oleh orang-orang jahat, tetapi karena orang-orang baik membiarkan orang-orang jahat menghancurkan dunia. Atau juga, kalau yang baik-baik diam, yang jahat akan menang.
Saran dan usulan saya, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengambil inisiatif mengundang para pemimpin dunia untuk berembuk di Persidangan Umum PBB yang sifatnya darurat (Emergency UN General Assembly). Agendanya adalah langkah-langkah nyata untuk mencegah terjadinya krisis dunia dalam skala yang besar, termasuk kemungkinan terjadinya perang dunia yang baru.
Saya tahu, boleh dikata saat ini PBB tidak berdaya dan tidak berkuasa. Tetapi, janganlah sejarah mencatat PBB melakukan pembiaran dan juga doing nothing.
Mungkin saja, seruan para pemimpin sedunia itu “bagai berseru di padang pasir”. Artinya, tak akan diindahkan. Tetapi, mungkin juga itu awal dari kesadaran, kehendak, dan langkah-langkah nyata dari bangsa-bangsa sedunia untuk menyelamatkan dunia yang kita cintai ini. Ingat, if there is a will, there is a way. *SBY*
Former UN Secretary-General Ban Ki-moon told the Security Council that future UN chiefs should serve a single seven-year term, not two five-year terms - arguing the current system leaves them overly dependent on permanent members for extensions.
https://t.co/CLEwxoN1Kf
Secretary-General of ASEAN, Dr. Kao Kim Hourn, today met with Dr. Marty Natalegawa, former Foreign Minister of the Republic of Indonesia and Founder of the Amity Circle, for a lunch meeting.
The Amity Circle comprises of a group of former foreign ministers and other high-level officials from countries across the Indo-Pacific, with the aim of promoting dialogue and supporting multilateralism.
During the Meeting, Dr. Marty Natalegawa expressed his appreciation to Dr. Kao for his participation in the 3rd Amity Circle Retreat in April 2025, recalled key outcomes of the Retreat and discussed the way forward.
ELDERS’ STATEMENT | World leaders must step up at COP30 to strengthen climate action and multilateralism
The Elders call for courage, unity, and leadership in Belém to rise above division and tackle the climate and nature crisis.
Read in full via link in replies ⬇️
🚨 BREAKING: The Asia-Pacific Leadership Network is deeply concerned about announcements to resume nuclear testing. This would threaten 30 years of global consensus and regional stability. Our full statement explains the risks 🧵
Read here: https://t.co/wwvIGlwUGY