@karimakayyim Karier itu bukan cuma soal kemampuan, tapi juga soal timing dan keberanian mengambil keputusan.
Kadang bertahan adalah pilihan terbaik. Kadang justru pindah sebelum badai datang. Yang penting, terus tingkatkan skill agar selalu punya opsi ketika keadaan berubah.
Di umur 30, gue perhatiin satu fenomena.
Cewe-cewe yang belom nikah dan gila kerja tuh punya energi yang beda.
Mereka bangun pagi. Kejar deadline. Meeting sana-sini. Pulang malem, besoknya ngulang lagi.
Dan gue mikir: mereka ini bukan cuma pekerja keras.
Mereka anggota Persatuan Deadline Indonesia.
ngobrol sama salah satu bos di kantor
"lagi seneng saya nih sore ini"
"lho kenapa pak?"
"banyak yang keterima beasiswa ni, pada berangkat tahun ini semua"
"ga takut kehilangan pegawai, pak?"
"engga, nanti mereka pulang kan ilmu makin banyak, toh input pegawai ada terus. saya seneng pada kuliah, jadi makin berkembang SDM kita"
"kalau banyak yang resign setelah kuliah?"
"ya, gapapa, nanti tetep ada pegawai yang masuk yang bisa kuliah lagi"
dalam hati: keren ni mindsetnya bos ini
kerjaan lagi stabil-stabilnya di grup perusahaan bergengsi, plus udah ditawarin kerjaan jg di perusahaan2 gede lain, malah resign terus nekat ke australi wkwkwk
nekat karena mentalku lagi gak kuat tinggal di jakarta, segala personal problemnya dan pengen coba jalan-jalana setaun aja di sini buat menata hidup & melanjutkan penerapan slow living.
7 tahun kemudian, 3x ganti visa, tidak disangka aku sudah PR dan taun depan insyaAllah ganti paspor.
I am NOT a risk taker, so this is one of the most "nekat" thing I did.
Kalau udah kerja kantoran, lo bakal sadar kalau pinter doang tuh nggak cukup. Cara lo ngomong, cara lo ngehandle situasi, sama cara lo ngehargain orang lain juga ngaruh banget.
Hidup di kantor itu bukan cuma dateng, kerja, terus pulang. Tapi juga soal attitude, cara komunikasi, sama gimana lo bawa diri di lingkungan profesional.
Ada juga hal-hal yang kantor ajarin tanpa aba-aba kayak sabar, tau batasan, sama tetep kalem walaupun ada aja orang yang ngetes profesionalitas lo.
Awalnya gua kira nonton short video di HP itu bisa menjadi pengisi waktu luang. Tapi setelah baca jurnal ini, gua baru tau efeknya bisa berbahaya untuk otak.
Penelitian dari Tiongkok ini meneliti 48 orang, terus dilihat kebiasaan mereka nonton short video, lalu dicek fungsi atensi & kontrol diri, didukung juga dengan pemeriksaan EEG.
Hasil penelitian ini cukup bikin gue kaget antara lain:
-Semakin sering nonton short video, semakin turun kemampuan otak buat kontrol diri
-Fungsi eksekutif otak, terutama atensi, juga menurun
Short video ternyata berasosiasi dengan overstimulasi dengan karakteristik cepat, singkat, dan penuh reward instan. Lama-lama otak jadi kebiasaan butuh stimulus cepat, sehingga bikin fokus jangka panjang makin susah.
Yang menarik dari studi ini adalah:
Semakin tinggi tingkat kecanduan (adiksi) untuk menonton short video di smartphone, berasosiasi dengan semakin rendah tingkat pengendalian diri (self control)
𝗞𝗘𝗦𝗜𝗠𝗣𝗨𝗟𝗔𝗡
Kebiasaan nonton short video ternyata berkaitan dengan penurunan self-control dan turunnya fungsi eksekutif otak, terutama kemampuan atensi.
jadi pinter itu bisa dipelajarin, literally semua orang bisa kejar knowledge, intelligence, bahkan experience.
tapi “jadi manusia yang bener” itu beda level. gak semua orang punya awareness buat respect orang lain dan bersikap proper.
makanya adab itu always di atas ilmu. karena akhirnya yang dilihat bukan cuma kamu tau apa, tapi kamu treat orang lain kayak apa.
Ustadz Khalid Basalamah dalam kajiannya mengatakan :
Kebahagiaan orang lain tidak akan merugikanmu, kekayaan mereka juga tidak akan mengurangi jatah rezekimu.
Hiduplah dengan hati yang bersih, agar ketika melihat nikmat orang lain, hatimu tidak sakit.
“Orang yang rutin tahajud, pelan" akan jadi pribadi yang lebih tenang, nggak mudah tersinggung, pikirannya jernih, hatinya halus, dan sikapnya bijak.
Ia nggak perlu banyak bicara untuk dihormati—karena caranya hidup, sudah cukup menunjukkan wibawa.”
orang yang selalu bangun tahajud , walaupun orang tak bnyak yang mengenalinya, tapi Allah kenal dia🖤
Ada bedanya cari muka yang elegan dan yang bikin lo jadi public enemy.
Kabar baiknya, cara yang elegan justru lebih mudah dan lebih sustainable.
Ini yang selalu gue bahas waktu ada peserta workshop nanya soal cara biar keliatan tanpa keliatan cari perhatian.
Sepertinya dunia butuh lebih banyak film seperti Project Hail Mary ini yg ngasih harapan yg menguatkan ditengah ketidakpastian, yg nggak ngerendahin intelegensi penonton tapi juga nggak sok pinter & punya emosi kuat bukan sekadar pamer spektakel kosong. Selama nonton, nggak kehitung berapa kali dibikin ketawa lepas, menganga kagum lalu mewek menyaksikan kisahnya yg dilantunkan menyenangkan, seru sekaligus amat heartwarming padahal inti ceritanya depressing abis.
Adaptasi novelnya Andy Weir (The Martian) ini nyeritain seorang guru SMP bernama ̶R̶a̶h̶m̶a̶t̶ Grace yg tiba-tiba terbangun dalam kondisi amnesia di sebuah pesawat luar angkasa & perlahan menyadari dia dikirim buat misi nyelametin umat manusia dari kepunahan akibat matahari mulai meredup. Alih-alih sajikan kisah kepahlawanan bombastis, film lebih memilih bertutur santai yg juga berfokus ke perjalanan batin si tokoh utama yg belakangan ngerasa kesepian, nggak guna & gagal buat nyalain lagi spark dalam hidupnya yg belakangan meredup.
ABSOLUTE CINEMA!!! 👎👎👎