Agama yang baik itu yang mengajarkan umatnya bagaimana mengontrol emosi.
Agama yang buruk sebaliknya, yang menyemangati umatnya untuk memupuk kebencian dan narsisme.
"Islam yang Satu: Sebuah Fiksi Sosial"
Salah satu paradoks paling menarik dalam kehidupan beragama muncul ketika seseorang berkata:
"Islam ya Islam. Tidak ada Islam moderat, Islam radikal, Islam liberal, atau Islam progresif."
Kalimat semacam ini sering terdengar sederhana. Bahkan terdengar masuk akal. Jika Islam berasal dari Tuhan yang satu, mengapa harus ada banyak Islam?
Namun justru di sinilah persoalan sosiologis yang menarik mulai muncul. Karena kalimat tersebut bukan sekadar pernyataan teologis. Ia adalah klaim tentang otoritas. Dan setiap klaim tentang otoritas selalu menyimpan pertanyaan:
Siapa yang berhak menentukan apa itu Islam?
Secara normatif, hampir semua agama besar memandang dirinya sebagai satu kebenaran yang utuh. Seorang Katolik tidak berbicara tentang "Katolik-Katolikan." Seorang Muslim tidak berbicara tentang "Islam-Islaman."
Dalam kesadaran internal pemeluknya, agama selalu dipahami sebagai sesuatu yang tunggal. Tetapi ketika agama memasuki sejarah, sesuatu yang berbeda terjadi.
Agama tidak hidup di ruang hampa. Ia hidup dalam bahasa, budaya, politik, ekonomi, dan konflik manusia. Akibatnya, agama yang secara teologis dipahami sebagai satu, secara sosial selalu muncul dalam bentuk yang banyak.
Islam yang berkembang di Jawa tidak identik dengan Islam yang berkembang di Arab Saudi.
Islam Ottoman tidak identik dengan Islam Safawi.
Islam NU tidak identik dengan Salafisme.
Islam Iran tidak identik dengan Islam Turki.
Mereka mungkin membaca kitab yang sama. Tetapi mereka hidup dalam dunia sosial yang berbeda. Dan dunia sosial selalu menghasilkan penafsiran yang berbeda.
Di sinilah kritik sosiologis mulai bekerja. Sosiologi tidak bertanya:
"Islam yang mana yang benar?"
Sosiologi bertanya:
"Bagaimana kelompok tertentu berhasil membuat definisinya tentang Islam tampak sebagai Islam itu sendiri?"
Perbedaan ini sangat penting.
Karena dalam kehidupan sosial, tidak ada tafsir yang datang tanpa pembawa. Selalu ada institusi. Selalu ada ulama. Selalu ada negara. Selalu ada komunitas. Selalu ada hubungan kekuasaan.
Ketika seseorang berkata:
"Islam ya Islam."
Pertanyaan sosiologisnya bukan:
"Apakah pernyataan itu benar?"
Melainkan:
"Siapa yang memperoleh keuntungan simbolik dari pernyataan tersebut?"
Pierre Bourdieu menyebut fenomena semacam ini sebagai kekuasaan simbolik.
Kekuasaan paling efektif bukanlah kekuasaan yang memaksa orang. Kekuasaan paling efektif adalah kekuasaan yang membuat suatu definisi tampak alami dan tidak perlu diperdebatkan.
Ketika sebuah kelompok berhasil mengatakan:
"Inilah Islam."
Maka semua tafsir lain secara otomatis berubah status. Mereka menjadi: menyimpang, sesat, liberal, ekstrem, kurang murni, atau terlalu modern.
Dengan kata lain, menyatakan bahwa hanya ada satu Islam sering kali BUKAN AKHIR dari konflik interpretasi. JUSTRU ITULAH AWAL dari KONFLIK INTERPRETASI. Karena begitu seseorang berkata:
"Islam itu satu."
Pertanyaan berikutnya langsung muncul:
"Islam VERSI SIAPA?"
Di sinilah letak paradoks yang jarang disadari. Semakin keras seseorang mengatakan bahwa hanya ada satu Islam, SEMAKIN JELAS bahwa PERSOALAN TAFSIR sebenarnya BELUM SELESAI.
Karena jika maknanya benar-benar jelas dan tunggal, tidak akan ada Sunni dan Syiah. Tidak akan ada Asy'ariyah dan Mu'tazilah. Tidak akan ada Salafi dan tradisionalis. Tidak akan ada ribuan kitab tafsir yang saling berdebat selama berabad-abad.
Keberagaman interpretasi bukan bukti kegagalan agama. Ia adalah konsekuensi alami dari fakta yang jauh lebih sederhana: semua teks dibaca oleh manusia, dan manusia selalu hidup di dalam sejarah.
Banyak orang mengira bahwa menyebut adanya banyak Islam berarti menyangkal Islam itu sendiri. Padahal tidak. Mengakui keragaman tidak sama dengan menolak kebenaran. Mengakui keragaman hanya berarti menerima kenyataan sosial bahwa manusia TIDAK PERNAH BERHUBUNGAN LANGSUNG dengan AGAMA sebagai IDE MURNI. Mereka selalu berhubungan dengan agama yang TELAH DITAFSIRKAN. Agama YANG DIAJARKAN. Agama yang DIWARISKAN. Agama yang DIPRAKTIKKAN. Agama yang hidup dalam masyarakat.
Karena itu, persoalannya bukan apakah Islam itu satu atau banyak.
SECARA TEOLOGIS, seorang Muslim berhak meyakini bahwa Islam itu satu. Tetapi SECARA SOSIAL, Islam selalu hadir dalam bentuk yang jamak.
Dan justru di antara jarak antara "Islam yang satu" dan "Muslim yang banyak" itulah seluruh sejarah Islam bergerak. Mungkin itulah sebabnya pertanyaan yang paling menarik bukan:
"Apakah hanya ada satu Islam?"
Melainkan:
"Bagaimana manusia yang berbeda-beda terus mengklaim berbicara atas nama Islam yang satu itu?"
Karena di sanalah agama bertemu dengan sejarah, tafsir, identitas, dan kekuasaan.
Dan sejak saat itu, persoalannya tidak lagi hanya teologis. Ia menjadi persoalan manusia.
Kalau lo:
1. Bukan anti-vaxxer
2. Bukan flatearther
3. Tidak diskriminatif terhadap kelompok marjinal dan minoritas
4. Bukan pembela Prabowo Gibran
5. Suka membaca,
Ayo sini kita mutualan.
@beebeego_@onigiyii@OpenMinded0000 Masuk akal mana?
Orang mati ya selesai atau berlanjut ke surga? πΉπΉ
Pandangan gw bukan asbun ya, ini pure dari perspektif science.
Lu : Manusia β Tanah
Gw : Manusia β ( quark β atom β molekul dst sampai jadi manusia)
Jadi beda yaaa
Oh iyaa, ditunggu nerakanya πΉπΉ
@ArchieAndrews05 Gw bukan atheis
Dengan menjadi seseorang yg beragama, ga lantas membuat org ga punya kompas moral. Gw manusia, gw punya hari nurani, dan gw masih berempati dengan sesama manusia.
@iqvaal@onigiyii@OpenMinded0000 Kok aneh? Apakah gw salah ga percaya hal yang ga ada bukti?
Hakim aja ga bisa asal menjarain orang kalau ga ada bukti kuat πΉπΉ