🚨Lautaro Martínez was asked about Lionel Messi’s influence during Argentina’s World Cup semi-final victory over England.
🎙️ Reporter: “Lautaro, can you tell us what Lionel Messi said to you after you came on?”
🗣️ Lautaro Martínez:
“People see the assists, the dribbles and the magic, but they don’t see what Leo does with his words.
When I came onto the pitch, he walked over to me and said, ‘Attack the space between the defenders. Go for the headers. Keep making those runs.’
I tried it the first time and it didn’t work. I looked at him, and instead of telling me to change, he kept giving me signs to keep believing. He knew the opportunity would come.
We were 1–1 with less than five minutes to play. Leo looked at the scoreboard, then looked straight at me and nodded. He didn’t even have to speak. I knew exactly what he wanted. I knew the assignment.
That’s what makes him different. He sees the game before everyone else. He knows where the space will open, and he gives you the confidence to attack it without hesitation.
Playing with him is incredible because he doesn’t only create chances with his feet. He creates belief in every player around him.
At 39 years old, he’s still leading Argentina in the biggest matches, still deciding games and still showing us why he’s the greatest footballer I’ve ever seen.
We’re in another World Cup final because once again, when Argentina needed someone to guide us, Lionel Messi was that man.”
Guys ini berita yang kedengarannya membosankan tapi dampaknya ke kantong lo lebih nyata dari yang lo kira.
Menteri Keuangan kita baru bilang pemerintah sedang mempertimbangkan untuk melebarkan defisit APBN di atas 3 persen.
Gw jelasin dulu apa artinya buat lo yang gatau
Defisit APBN itu artinya pengeluaran pemerintah lebih besar dari pemasukannya.
Selisihnya ditutup dengan utang.
Selama ini batas defisit Indonesia adalah 3 persen dari PDB.
Itu aturan yang sudah lama jadi pegangan.
Semacam garis merah yang tidak boleh dilewati karena kalau dilewati lembaga pemeringkat internasional bisa kasih nilai negatif ke Indonesia.
Dan nilai negatif itu artinya investor kabur.
Rupiah melemah.
Bunga utang naik.
Yang ujungnya rakyat biasa yang bayar lewat inflasi.
Sekarang pemerintah sedang pikir pikir untuk lewatin garis itu.
Kenapa?
Karena harga minyak dunia sedang meledak akibat konflik Iran.
Senin lalu minyak Brent sempat menyentuh 119 dolar per barel tertinggi sejak 2022.
Kemarin naik lagi ke 100 dolar lebih.
Dan Indonesia adalah negara importir minyak.
Setiap kenaikan harga minyak APBN kita ikut terkena tekanan.
Subsidi energi membengkak.
Pengeluaran pemerintah naik.
Tapi pemasukannya tidak ikut naik secepat itu.
Jadi pemerintah butuh ruang fiskal lebih besar.
Dan salah satu caranya adalah dengan melebarkan defisit.
Tapi ini yang paling bikin gw geleng geleng dari pernyataan Pak Menkeu.
Tapi tunggu dulu.
Di saat yang sama program Makan Bergizi Gratis tetap jalan.
Bahkan diperluas.
Anggarannya 1.2triliun perhari.
Dan ada rencana naik lagi.
Gw tidak sedang bilang MBG itu salah.
Niat mulianya jelas anak anak Indonesia dapat gizi yang lebih baik.
Tapi ini yang perlu lo pertanyakan.
Di tengah APBN yang sudah tertekan karena harga minyak meledak.
Di tengah rupiah yang sudah 17 ribu per dolar.
Di tengah pemerintah yang sedang mempertimbangkan lewatin batas defisit
Program yang anggarannya puluhan triliun tetap jalan penuh.
Sementara yang sampai ke lapangan di beberapa daerah masih ada lele mentah.
Nugget beku.
Dapur miliaran yang ujungnya jadi tempat terima kiriman supplier.
Jadi uangnya keluar triliunan.
Defisit melebar.
Utang bertambah.
Dan yang sampai ke anak anaknya masih perlu banyak pertanyaan yang dijawab dengan jujur.
Ini yang paling bikin gw geleng geleng dari pernyataan Pak Menkeu.
Waktu ditanya soal defisit beliau bilang saya belum tahu masih dipikirin kali.
Dan waktu ditanya kalau Prabowo oke beliau bilang kalau perintah kan kita jalankan, saya kan cuma tangan presiden.
Jadi keputusan yang akan berdampak ke seluruh rakyat Indonesia masih nunggu lampu hijau dari satu orang.
Bukan keputusan kolektif yang sudah matang.
Bukan hasil kajian panjang yang sudah ada kesimpulannya.
Tapi masih dipikirin.
Di tengah situasi global yang sedang bergejolak.
Di tengah harga minyak yang naik turun tidak karuan. Di tengah rupiah yang sudah menyentuh 17 ribu per dolar.
Masih dipikirin.
Dan ini yang paling penting lo pahami sebagai rakyat biasa.
Kalau defisit melebar pemerintah butuh tambah utang.
Utang tambah bunga naik.
Rupiah tertekan lebih dalam.
Harga barang impor naik.
Inflasi naik.
Semua itu lo rasakan setiap kali belanja di pasar atau isi bensin.
Sementara program yang anggarannya triliunan tetap jalan.
Sementara yang memutuskan masih nunggu perintah.
Sumber: CNBC
Warga sipil biasa, tak bersenjata, nerobos hotel mewah memprotes pembahasan diam-diam UU TNI.
Warga sipil biasa, tak bersenjata, jadi saksi judicial review UU TNI di MK.
Warga sipil biasa, tak bersenjata, mengungkap pelaku kerusuhan Agustus 2025.
Kita menyebutnya: NYALI
Mengapa Soeharto tak ditangkap setelah jatuh pada 1998?
Pada tahun 2000, Gus Dur berusaha melakukan itu.
Gus Dur berusaha menangkap Soeharto dan keluarganya.
Sidang dijadwalkan pada 14 September 2000.
Pada 13 September 2000, bom raksasa meledak di Bursa Efek Jakarta.
15 orang tewas terburai menjadi potongan-potongan kecil. Tubuh mereka hancur berceceran oleh bom mobil raksasa yang diparkir di basement Bursa Efek. Puluhan lainnya terluka parah.
Asap tebal membumbung di tengah-tengah SCBD di jantung perekonomian Indonesia. Gedung-gedung kantor besar perusahaan multinasional, bank, dan pemerintahan yang berisi ratusan ribu karyawan dilanda kepanikan dan dievakuasi.
Bom teroris besar itu menyebabkan kepanikan yang lebih besar.
Saat itu, Indonesia sedang tertatih-tatih memulihkan diri dari krisis 1997 dan mengembalikan kepercayaan internasional.
Kesejahteraan ekonomi ratusan juta rakyat bergantung pada kesuksesan pemerintahan Gus Dur melakukan hal itu.
Bom teroris di Bursa Efek sangat menggoncangnya. Harga saham jatuh. Indonesia terancam roboh kembali.
Jika Indonesia tak stabil, jutaan rakyat terancam kembali jatuh miskin dan menganggur.
Tentu saja, secara teori, jika Indonesia roboh, Soeharto dan keluarga Cendana tak akan bisa ditangkap.
Keluarga Cendana tidak akan pernah bisa ditangkap polisi apabila tidak ada polisi dan tidak ada penjara karena Indonesia bubar.
Siapa dalang bom teroris tersebut?
Kecurigaan tentu langsung tertuju pada keluarga Cendana, terutama Tommy Soeharto.
Alasan pertama, serangan bom teroris terjadi satu hari sebelum persidangan kedua yang seharusnya menyeret Soeharto dan keluarganya ke peradilan hukum.
Alasan kedua adalah Gus Dur yang langsung mengumumkan bahwa Tommy adalah tersangka utama dan memerintahlan pemeriksaan. Gus Dur sebagai presiden tentu berkuasa atas informasi intel.
Alasan ketiga, sebelumnya Tommy sudah terlibat dengan serangkaian kasus bom dan penembakan.
Lima bulan sebelumnya pada 13 Maret 2000, Tommy diseret ke hadapan Komisi V untuk diperiksa tentang kasus korupsi dan kegilaan monopoli cengkeh BPPC.
Pada saat itu, jendela ruang rapat Komisi V tiba-tiba ditembak orang misterius dengan senjata api.
Anggota Komisi V merasa sangat terancam. Bagaimana kalau yang ditembak berikutnya bukan jendela kosong, melainkan kepala mereka? Atau kepala anak mereka?
3 bulan kemudian, pada 4 Juli 2000, Tommy diseret Jaksa Agung Marzuki Darusman untuk diperiksa di Kejaksaan Agung.
Satu jam setelah Tommy meninggalkan gedung, gedung Kejaksaan Agung meledak oleh bom.
Ternyata yang meledak seharusnya dua bom. Tetapi salah satu bom untungnya gagal meledak.
Dua bulan kemudian, pada 31 Agustus 2000, sidang pertama kasus korupsi Soeharto dan keluarganya digelar.
Tiba-tiba, bus yang diparkir mencurigakan di samping tempat persidangan meledak. Ada orang yang menaruh bom besar di situ.
2 minggu kemudian, sehari sebelum sidang kedua pengusutan keluarga Cendana, terjadilah bom di Bursa Efek yang sangat brutal dan mengerikan ini. Ini adalah pengeboman teroris paling mematikan sejauh ini.
Gus Dur memerintahkan penyelidikan untuk mengusut Tommy dan antek-antek gerombolan premannya yang diduga keras menjadi dalang terorisme pengeboman Bursa Efek itu.
Pada saat itu, Menteri Pertahanan Mahfud MD menjadi sangat resah.
Ia membaca pola ancamannya: jika Gus Dur terus menginvestigasi Soeharto, gerombolan keluarga Cendana, dan pundi-pundi raksasa kekayaan pribadi hasil rampokan mereka selama 20 tahun terakhir, Indonesia akan terus digoncang bom dan instabilitas. Ini sudah masuk ranah ancaman pertahanan nasional.
Mahfud seakan membaca tulisan yang ditulis dengan darah orang-orang Bursa Efek: "Jika kamu terus mengusut, Republik ini akan jatuh."
Gus Dur bebal. Dua bulan kemudian, Gus Dur menolak permohonan grasi yang dengan sangat belagu diajukan Tommy Soeharto. Saat itu Tommy baru saja didakwa korupsi memaling aset tanah Bulog dan akan segera dipenjara.
Apa yang dilakukan Tommy? Ia kabur dan menjadi buronan.
Pada 14 November 2000, polisi mengirim 18 tim untuk melakukan penggerebekan di 18 lokasi. Sebanyak 206 anggota polisi diturunkan untuk melakukan penggerebakan serentak, termasuk di rumah Soeharto di Jalan Cendana, Jakarta.
Gagal. Tommy tak bisa ditemukan.
Sebulan kemudian, rentetan bom teroris kembali meledak, yaitu pada Malam Natal 24 Desember 2000.
Yang ini sangat mengerikan.
23 gereja berbeda yang tersebar di Batam, Pekanbaru, Jakarta, Mojokerto, Bandung, Ciamis, dan Lombok hancur oleh bom teroris yang dijadwalkan meledak serentak.
Serangan bom serentak ini menewaskan jemaat Kristen yang sedang berdoa, juga menewaskan Riyanto, anggota Banser NU yang ditugaskan menjaga gereja dari ancaman teroris. Ia mati syahid ketika berusaha menjauhkan bom dari para jemaat gereja.
Beberapa minggu kemudian pada Januari 2001, salah satu teman dekat Tommy, Elize Tuwahatu, berhasil ditangkap oleh Polda Metro Jaya. Elize tertangkap basah membawa-bawa tiga buah bom raksasa dari Tommy.
Dari mulut Elize dan pelapornya, berbagai kelakuan Tommy berhasil dibongkar.
Ternyata, berapa hari setelah Bom Malam Natal, Elize ditugasi Tommy untuk menyusun rencana membunuh Jaksa Agung Marzuki Darusman serta Menteri Industri dan Perdagangan Luhut Binsar Pandjaitan dengan bom.
Bom pertama dan kedua ditujukan pada Marzuki dan Luhut, yang dianggap mengancam pundi-pundi raksasa kekayaan dan aset keluarga Cendana.
Apabila Luhut berhasil dibunuh dengan ledakan bom, kematian sadisnya juga akan mengguncang stabilitas industri dan perdagangan Indonesia, mengingat jabatan strategis Luhut saat itu.
Menperindag sebelum Luhut adalah Jusuf Kalla. Menperindag sebelum Jusuf Kalla adalah Rahardi Ramelan di zaman Habibie. Menperindag sebelum Rahardi Ramelan adalah Bob Hasan, operator bisnis keluarga Cendana.
Barangkali Luhut yang saat itu jadi anak buah Gus Dur menyentuh "sesuatu" yang membuat keluarga Cendana dan kroninya (seperti Bob Hasan) sangat marah.
Selain Marzuki dan Luhut, kedua bom itu juga diharapkan memutilasi dan membunuh acak sebanyak-banyaknya staf Kejaksaan Agung dan staf Kemenperindag dan menciptakan sebesar-besarnya teror dan kekacauan nasional.
Bom ketiga ditujukan untuk memutilasi dan membunuh acak sebanyak-banyaknya staf di kantor Direktorat Jenderal Pajak untuk semakin menebar teror di sektor-sektor kunci pemerintahan dan kestabilan ekonomi.
Tommy sendiri ternyata memiliki penyuplai bom yang menurut investigasi kepolisian diduga adalah suatu oknum pengkhianat negara di Kopassus. Secara semangat korsa, ini sangat menyedihkan mengingat Luhut sendiri adalah mantan komandan Kopassus. Tetapi memang, pada zaman Soeharto, Kopassus sempat dipimpin oleh orang yang sangat dekat dengan keluarga Cendana.
Enam bulan kemudian, pada Juli 2001, tragedi kembali terjadi. Hakim yang sedang mengusut Tommy Soeharto, Syafiuddin Kartasasmita, dibunuh dengan sangat brutal di tengah jalanan Jakarta menggunakan senapan mesin ketika sedang menuju tempat kerjanya.
Hakim Syafiuddin ini mati syahid dengan tubuh berlubang-lubang. Kematian mengerikannya sangat menghebohkan Indonesia.
Pembunuhan Hakim Syafiuddin yang luar biasa sangat sadis inilah yang ternyata berhasil digunakan penegak hukum untuk mengumpulkan cukup bukti tak terbantahkan untuk menangkap Tommy Soeharto.
Dalam suatu periode drama kehebohan nasional yang membuat rakyat menempel ke TV, Tommy si Penjahat Nomor Satu diburu oleh penegak hukum.
Tim sangat elite ini diberi nama Tim Kobra dan dikomandoi oleh perwira lapangan bereputasi cemerlang yang sedang naik daun saat itu, Tito Karnavian. Meski begitu, awalnya penyelidikan mengalami kebuntuan.
Menggunakan penyadapan sinyal telepon dan pengamatan intel, lokasi Tommy diisolasi ke sebuah rumah di Bintaro Jaya, Tangerang Selatan.
Akhirnya Tommy berhasil digerebek, diseret keluar, dan ditangkap sebagai hewan buruan terbesar pemerintahan Gus Dur pada 28 November 2001, 4 bulan setelah Syafiuddin mati dibunuh.
Tommy dipenjara selama beberapa tahun dan hidup mewah di penjara dengan sofa, kulkas, TV, dapur, dan akses untuk bermain golf di Jakarta.
Tommy bebas dengan masa tahanan yang sangat dipotong remisi. Setelah bebas, ia langsung berusaha membeli Golkar pada tahun 2009 dengan pundi-pundi raksasa kekayaan keluarganya. Ia dikalahkan Aburizal Bakrie.
Gus Dur sendiri tidak sempat melihat Tommy ditangkap dari posisi menjabat sebagai presiden.
Gus Dur keburu digoncang dengan Operasi Semut Merah dan berbagai krisis politik.
Akhirnya, Gus Dur kalah dan digulingkan dari kursi kepresidenan pada pertengahan 2001.
---
Itulah bagaimana keluarga Cendana berhasil lolos dari jerat hukum.
Soeharto mati dengan pulas dan santai pada tahun 2008. Tubuhnya dikubur di suatu ancient temple mistis di atas bukit yang tersembunyi di tengah hutan lebat kaki Gunung Lawu yang angker, seperti seorang raja Jawa kuno. Ketika gw solo travelling ke situ dengan motor, templenya dijaga segerombolan penjaga.
🚨🚨AMIEN RAIS BENAR, TAPI PEMILIH DI JAWA HANCURKAN MASA DEPAN ‼️‼️💔🥀
Pada akhir 1990-an hingga awal 2000-an, Amien Rais (sebagai tokoh Reformasi, pendiri PAN, dan mantan Ketua Muhammadiyah) memang vokal mengusulkan tiga opsi masa depan Indonesia pasca-Orde Baru yang sangat sentralistik:
1. Mempertahankan NKRI (negara kesatuan) seperti saat itu, tapi dengan risiko ketimpangan terus memburuk.
2. Membiarkan disintegrasi (daerah-daerah memisah jadi negara merdeka sendiri).
3. Mengadopsi sistem federal (negara bagian dengan otonomi tinggi, pusat hanya urus hal strategis seperti pertahanan, luar negeri, moneter).
Menurut pandangannya, sistem kesatuan yang terlalu sentralistik selama Orde Baru telah menciptakan ketidakadilan ekonomi luar biasa.
kekayaan daerah (minyak, gas, tambang, sawit, dll.) dihisap ke pusat (terutama JAWA ), sementara daerah penghasil tetap miskin dan tertinggal. Federalisme, katanya, bisa jadi jalan tengah agar daerah punya kuasa lebih besar atas sumber dayanya sendiri ,mirip seperti Jerman, Amerika Serikat, atau Australia yang maju karena setiap negara bagian punya kebebasan mengelola ekonomi, pajak, dan pembangunan secara kompetitif.
BAYANGKAN ANDAI OPSI FEDERAL INI DIJALANKAN SEKITAR 1999-2001
1. Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Papua, dll., bisa mengelola APBD sendiri dengan porsi hasil SDA yang jauh lebih besar (bukan cuma dana bagi hasil kecil seperti sekarang).
2. ersaingan sehat antar-negara bagian bakal mendorong inovasi, efisiensi, dan pertumbuhan ekonomi lokal.
3. JAWA tak lagi jadi "magnit" tunggal; pembangunan bisa lebih merata, infrastruktur di luar Jawa lebih cepat maju.
4. Potensi disintegrasi (seperti Timor Timur lepas, Aceh & Papua bergolak) mungkin bisa dicegah dengan memberi otonomi luas tanpa harus memisah negara.
Dalam skenario optimis ini, Indonesia hari ini bisa punya PDB per kapita mendekati negara maju Eropa Barat atau setidaknya seperti Malaysia/Singapura yang jauh lebih tinggi, karena potensi SDA + SDM tersebar di seluruh wilayah bisa dimaksimalkan tanpa terhambat birokrasi pusat yang korup dan lambat.
TAPI KENAPA GAGAL?
Wacana federal langsung ditolak keras oleh banyak pihak. Alasannya berlapis
1. Trauma sejarah: Federalisme dikaitkan dengan Republik Indonesia Serikat (RIS) 1949-1950 yang dibentuk Belanda untuk memecah belah Indonesia, jadi dianggap "bau kolonial".
2.Ketakutan disintegrasi: Banyak yang khawatir seperti Yugoslavia atau Uni Soviet yang pecah setelah federalisme.
3. Resistensi politik: Tokoh seperti Gus Dur (Abdurrahman Wahid) menolak keras, menyebutnya mundur ke masa lalu.
Dan yang paling krusial, pemilih di Jawa (khususnya basis suara terbesar) sangat alergi. Mereka takut kehilangan privilese berupa:
1.Aliran subsidi silang dari luar Jawa (minyak, gas, tambang, sawit, dll.) yang selama ini mengalir ke pusat lalu dibagikan kembali sebagai bansos, proyek infrastruktur, dan APBN yang banyak dinikmati Jawa.
2. Dominasi pusat yang membuat JAWA terus jadi pusat segalanya (pekerjaan, pendidikan, bisnis).
Begitu nama Amien Rais dikaitkan dengan "federal", citranya langsung anjlok di mata pemilih Jawa. Dari "pahlawan Reformasi" yang dielu-elukan, tiba-tiba dicap sebagai "ancaman NKRI" atau "pemecah belah". PAN yang awalnya punya potensi besar pun terkena imbas, suaranya terbatas, dan wacana federal lenyap ditelan otonomi daerah versi "setengah hati" (UU 22/1999 lalu direvisi jadi lebih sentralistik lagi).
AKHIRNYA...
Kita memilih jalan aman: tetap NKRI dengan otonomi daerah terbatas. Hasilnya? Ketimpangan Jawa vs luar Jawa masih sangat lebar hingga sekarang, korupsi tetap terpusat, dan pembangunan masih Jawasentris. Banyak yang menyesal.
momentum emas pasca-Reformasi untuk restrukturisasi besar-besaran lewat federalisme hilang karena keegoisan kelompok mayoritas di Jawa yang tak mau kehilangan "upeti" dan subsidi dari daerah lain.Ini memang Cerita pahit, tapi mencerminkan realitas politik Indonesia yang sering kali didominasi pemikiran sempit.
Airmata yang Tidak Seharusnya Jatuh
Dari Seorang Warga, Mantan Diaspora, dan Kader Muhammadiyah untuk Ira Puspadewi
Ada kalanya sebuah berita membuat kita berhenti sejenak, menarik napas dalam, lalu bertanya, "Mengapa seseorang yang begitu rapi jalan hidupnya harus menerima nasib seberat ini?"
Itulah yang saya rasakan ketika membaca kabar vonis terhadap Ira Puspadewi, seorang perempuan yang bagi saya mewakili integritas, profesionalisme, dan dedikasi, baik sebagai pemimpin BUMN maupun sebagai kader Muhammadiyah.
Saya mengenal nama Ira bukan dari kasusnya, tetapi dari rekam jejaknya. Ia bukan sekadar perempuan karier yang sukses. Ia pernah pulang dari dunia korporasi internasional, meninggalkan posisi aman dan mapan di luar negeri untuk mengabdi di tanah air. Ia memimpin Sarinah, Pos Indonesia, sampai ASDP. Dan di setiap tempat, ia membawa jejak yang sama: rapi, tertib, tanpa gaduh, dan jauh dari gaya hidup glamor pejabat.
Dan yang paling membuat saya tertegun. Ira adalah kader Muhammadiyah. Tercatat resmi sebagai Wakil Bendahara II Majelis Ekonomi, Bisnis, dan Pariwisata Muhammadiyah.
Seorang muslimah yang menjaga prinsip, yang sudah terbiasa bekerja dalam sunyi, memberi dalam diam.
Ketika membaca kembali kisah-kisah yang dituliskan sahabat lamanya, saya menemukan potongan-potongan kecil yang justru paling menyentuh. Ira yang naik kelas ekonomi di pesawat meski memimpin BUMN besar. Ira yang memilih menginap di hotel Amaris ketika direktur lain memilih hotel bintang lima. Ira yang malah menampung teman di rumahnya ketika sang teman sedang menghadapi masa sulit.
Kita sering bicara soal integritas, tapi Ira menunjukkannya justru di saat-saat yang tak terlihat kamera. Itu yang membuat kasus yang menimpanya terasa janggal bagi banyak orang.
Terlebih ketika Ketua Majelis Hakim sendiri menyatakan dissenting opinion. Bahwa apa yang dilakukan Ira adalah aksi korporasi yang sah, dilindungi Business Judgment Rule, dilakukan dengan itikad baik, dan melalui proses yang transparan. Bahkan uji tuntas dilakukan oleh tujuh lembaga, termasuk BPK, BPKP, Deloitte, dan PWC.
Di titik itu, saya bertanya sendiri. Kalau seorang profesional yang mengikuti prosedur, melakukan uji tuntas, tidak mengambil keuntungan pribadi, dan bekerja dengan integritas pun tetap tersandung, apa kabar yang lain?
Sebagai seorang warga negara, mantan diaspora yang dulu kembali dengan semangat ingin melihat Indonesia lebih maju, dan sebagai kader Muhammadiyah yang percaya pada nilai keadilan, kejujuran, dan kerja keras, saya merasa perlu menuliskan dukungan ini.
Bukan dukungan untuk membela membabi buta.
Bukan pula untuk mengintervensi proses hukum.
Namun sebagai pengakuan atas manusia yang saya lihat bersih jalannya, yang saya harap mendapatkan keadilan seadil-adilnya. Seorang perempuan yang tidak hanya membangun perusahaan, tetapi juga membangun manusia: teman, sahabat, dan komunitasnya.
Ira telah memberi banyak pada bangsa ini. Lebih dari sebagian besar dari kita.
Ia pulang ketika banyak memilih menetap di luar negeri.
Ia bekerja ketika banyak memilih kenyamanan.
Ia menata sistem ketika banyak memilih zona abu-abu.
Dan bagi saya, seorang yang bekerja sejujur dan sekeras itu, tidak seharusnya berdiri sendirian ketika badai datang.
Saya hanya bisa berharap, dan ikut mendoakan, agar proses berikutnya menghadirkan keadilan yang sebenar-benarnya. Agar suara jernih seperti pandangan Hakim Sunoto menjadi pijakan bagi upaya banding. Agar nama baik yang tercoreng dapat dipulihkan. Dan agar sejarah kelak mencatat bahwa Ira Puspadewi adalah contoh seorang muslimah profesional Indonesia yang tetap tegak meski diuji dengan keras.
Sebagai warga, sebagai kader, dan sebagai sesama manusia, saya ingin mengatakan. Ira tidak sendiri.
Dan kebenaran, jika memang berpihak kepadanya, semoga menemukan jalannya kembali.
(Ismail Fahmi)