gue bisa maklum kalo aplikasi kandang keributan ini bakal lebih intens keributannya dlm 3 hari ke depan apapun topiknya karena ya u bayangin ae dolar udah nyentuh 17.500 rupiah coi?
masih waras dan survive aja udah syukur. hasbunallah wa ni’mal wakiil.
sehat sehat WNI.
@epicmnw Anak kamu shalat berjamaah di masjid.
Kalau bapaknya ga shalat? Kasian kaaaan :(
Jadi udahin aja kalau gamau komitmen sama solat.
Solat yg komitmennya sama Allah aja dia sepelein, apalagi manusia ya
Menikah itu ga serta merta merubah karakter seseorang loh..
@epicmnw Menikah itu panjang dan lamaaa
Kamu bisa menentukan siapa yg jadi suami kamu, tapi anak kamu gabisa milih bapaknya
Suatu saat kamu punya anak, emang ga sedih kalau kamu nyuruh solat tapi anak kamu gamau karena 'bapak aja ga solat' :( apalagi KL kamu pengen
Di sebuah desa terpencil di NTB, jauh dari hiruk-pikuk kota, hiduplah tiga bersaudara yang masih sangat kecil: Rian (11 tahun), Siti (9 tahun), dan Andi (7 tahun).
Sejak kedua orang tua mereka meninggal dunia, mereka tak punya siapa-siapa lagi. Rumah sederhana yang dulu mereka tempati pun akhirnya hilang karena tak mampu dipertahankan.
Tak ada pilihan lain, mereka membangun sebuah gubuk kecil dari kayu bekas dan terpal di area pemakaman desa. Tempat yang bagi orang lain terasa menyeramkan, justru menjadi satu-satunya tempat berlindung bagi mereka. Setiap malam, angin berhembus dingin menembus celah-celah dinding gubuk.
Suara dedaunan bergesekan dan suasana sunyi kuburan sering membuat Andi menangis ketakutan.
Siti akan memeluknya erat, sementara Rian berusaha terlihat kuat meski dalam hati ia juga takut. “Jangan takut, kita sama-sama,” bisik Rian setiap malam. Untuk bertahan hidup, mereka mengandalkan sungai kecil di dekat desa. Setiap pagi buta, sebelum matahari terbit, Rian dan Siti pergi menangkap ikan dengan alat seadanya. Andi biasanya ikut, meski lebih sering hanya membantu membawa ember kecil. Hasil tangkapan mereka tidak selalu banyak. Kadang hanya cukup untuk dimakan sendiri. Tapi jika beruntung, mereka bisa menjual beberapa ekor ikan ke warga desa. Dengan pakaian luluh dan kaki tanpa alas, mereka berjalan dari rumah ke rumah. “Ikan... ikan segar...” suara Siti pelan, hampir tak terdengar.
Tak semua orang membeli. Ada yang iba, ada juga yang acuh tak peduli.
Namun mereka tak pernah mengeluh.
Di malam hari, mereka memasak ikan seadanya di depan gubuk.
Tanpa listrik, hanya ditemani cahaya lampu minyak kecil, mereka makan bersama sambil bercerita tentang mimpi-mimpi sederhana. “Aku mau sekolah lagi,” kata Siti suatu malam.
Rian terdiam. la tahu, sejak mereka kehilangan orang tua, sekolah hanyalah mimpi yang semakin jauh.
“Aku juga...” sahut Andi lirih.
Rian menatap adik-adiknya, matanya berkaca-kaca.
Dalam hati ia berjanji, suatu hari nanti, ia akan membawa mereka keluar dari kehidupan ini.
Meski hidup dalam keterbatasan, ketiga saudara itu tetap saling menguatkan.
@VikirBaskervl Padahal bukan aku yang nyiksa, tapi berasa aku yang jahat, merasa bersalah liat anak2 digituin.
Maafin aku adeeek2
Jahaaaaat jahaaaaat gila ih biadab bener, maafin aku adek2
Ih tega bangeeeet
Dana buat MBG selalu ada triliunan, dibuang2 gak guna makanan tidak bergizi makanan racun. Tapi dana buat Recovery di Aceh tidak ada 😭😭😭 Mbrebes mili lihat anak2 nyebrang sungai buat sekolah 😭😭😭💔💔 Ya Allah lakas berikan azab bagi mereka Pemimpin Zalim itu 🤲
Bapak ini harus viral, bayangin guru honorer gaji 2juta harus ngayuh sepeda dari Jakbar - Jakut setiap hari demi mengajar karena motornya hilang
🎥: https://t.co/KQnF3fWrQQ
Ustadz Khalid Basalamah dalam kajiannya mengatakan :
Kebahagiaan orang lain tidak akan merugikanmu, kekayaan mereka juga tidak akan mengurangi jatah rezekimu.
Hiduplah dengan hati yang bersih, agar ketika melihat nikmat orang lain, hatimu tidak sakit.
yaaa Allah look at me, hambamu yang cantik ini ga pernah panik because i believe Allah maha rich. yaa Allah jadikan aku kaya raya, tajir melintir, karir darderdor gacor slebeww, saldonya unlimited, hidupnya berkah kadang di atas kadang di mekkah yaaaa Allah...