Saya sudah pernah melayangkan komplain melalui WhatsApp resmi TransJogja, namun hasilnya nihil—bus-bus berwajah hitam itu tetap setia mengepulkan polusi setiap hari tanpa ada perbaikan nyata.
Dan untuk kalian yang hobi berujar, "Makannya pakai kendaraan umum, jangan kendaraan pribadi!"—baiklah, kalau begitu bikin saja aturan untuk melarang total motor atau mobil pribadi. Wajibkan seluruh warga memakai angkutan umum pemerintah yang gemar menyemburkan asap hitam kemana-mana dan bikin macet ini. Biar kita semua kompak sakit pernapasan dan stres di jalanan bersama-sama.
Saran Konkret:
Mesin-mesin bus yang sudah "busuk" dan berkarat itu sebaiknya disumbangkan saja ke SMK-SMK agar bisa dijadikan bahan praktik siswa, alih-alih terus disiksa turun ke jalan raya dan menyiksa warga.
Jika bus-bus beracun dan manajemen halte yang amburadul ini masih terus dibiarkan di Jogja, maka instansi pengadaan, perusahaan operator, dan pengawasnya sudah sah menyandang predikat tidak kompeten.
Udara Jogja dan kenyamanan jalurnya adalah hak hidup setiap warganya, bukan tempat pembuangan limbah gas buang serta sumber kemacetan akibat manajemen yang setengah-setengah.
By netizen yang namanya minta di samarkan
Surat Terbuka untuk PT TransJogja, DLH DIY, Dishub DIY dan Instansi Terkait: Standar Ganda Asap Hitam dan Kesemrawutan di Atas Penderitaan Warga
Sebagai pengendara motor harian di Yogyakarta yang senantiasa berusaha merawat kendaraan agar tetap ramah lingkungan, mata saya tidak buta untuk melihat realitas di jalanan. Motor saya mungkin bukan kendaraan listrik tercanggih, tetapi ia lolos dari kepulan asap hitam. Namun, ironi besar tersaji setiap hari saat saya berpapasan atau berada di belakang armada TransJogja.
Ada bus yang perawatannya baik, tetapi tidak sedikit pula yang menjadi sumber kejengkelan massal. Saat digas, knalpotnya memuntahkan gelaga hitam pekat.
Di pagi hari: Mengotori seragam kerja warga yang sudah rapi dan bersih.
Di sore hari: Saat tubuh lelah mendambakan perjalanan pulang yang tenteram, kita justru dicekoki polutan beracun, mengurangi jarak pandang, serta membahayakan kesehatan anak-anak dan lansia yang terpaksa menghirupnya.
Halte Ngawur, Jalanan Lumpuh Total
Belum cukup membuat warga sesak napas dengan polusi, penataan fasilitas dan rute operasional mereka di jalanan juga sering kali bikin mengelus dada. Ambil contoh nyata kesemrawutan halte TransJogja di depan RS KIA Rachmi (timur parkiran bus Ngabean). Dengan posisi halte yang berada di sisi timur dan selatan, ketika ada dua bus berhenti secara bersamaan di timur dan barat jalan, arus lalu lintas dari arah selatan maupun utara langsung terkunci dan macet total. Ini benar-benar menyebalkan dan membuktikan buruknya perencanaan tata letak serta manajemen di lapangan!
Di Mana Taring Regulasi dan Batas Emisi?
Yogyakarta memiliki Peraturan Gubernur (Pergub) DIY Nomor 39 Tahun 2010 tentang Baku Mutu Emisi Gas Buang Sumber Bergerak Kendaraan Bermotor. Pergub ini secara jelas mengatur batasan kadar Karbon Monoksida (CO), Hidrokarbon (HC), hingga kepekatan asap (opacity) untuk menciptakan udara yang sehat.
Namun, pertanyaannya: Untuk siapa sebenarnya aturan ini dibuat?
Jika instansi pemerintah dan fasilitas publik seperti TransJogja saja kebal hukum dan bebas mengepulkan jelaga hitam, bagaimana bisa menuntut kepatuhan dari rakyatnya? Ironisnya lagi, jika aturan standar emisi dan razia tegas benar-benar diterapkan tanpa pandang bulu di Jogja, TransJogja-lah yang akan paling pertama gulung tikar dan dikandangkan karena armadanya dipastikan rontok dan tidak akan pernah lolos uji emisi.
Orang Jawa mengenal filosofi luhur: Ing Ngarsa Sung Tuladha—yang di depan memberi teladan. Filosofi ini runtuh seketika di jalanan Yogyakarta. Bagaimana pemimpin atau penyedia layanan publik mau dihormati jika contoh yang diberikan di jalan raya adalah ketidakbecusan merawat mesin dan mengatur lalu lintas? Kalau instansi kalian tidak becus kerja, jangan heran jika rakyat kehilangan kepercayaan.
Kritik Terbuka & Solusi Sarkas untuk Pengelola
Mari kita bersikap logis.
Jika anggaran perawatan dan perbaikan bus TransJogja memang sudah habis atau tidak ada, bilang saja secara terang-terangan. Biar kami, warga Jogja, menggalang sumbangan sukarela demi servis bus tersebut.
Atau, narasi liarnya: apakah dananya sebenarnya ada, namun diirit-irit secara ekstrem atau salah alamat masuk ke kantong yang tidak semestinya, sehingga armada bus berubah menjadi "busuk" di jalan? Jika mau menyalahkan kualitas solar dari Pertamina, silahkan koordinasikan dengan Pertamina, jangan jadikan paru-paru warga Jogja sebagai filter udara gratis kalian!
Kepada Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Yogyakarta:
Apakah mata kalian tertutup dari fenomena ini? Di mana fungsi pengawasan dan taring kalian? Jangan hanya menuntut kendaraan pribadi yang ditindak, sementara polutan berjalan milik pemerintah dibiarkan melenggang bebas merusak udara kota pelajar.
@BetaKopites Kalau cuma pinjaman ya jelas untung Min, saat ini kita butuh RB, kalau bisa perform bagus barulah dipermanenin di jendela transfer musim panas bsk, dan malah bisa jadi smart move buat LFC
@The_RedsIndo Komenmu akan berbeda klo 2 shoot Gakpo gk kena mistar, dan itu bukan sesuatu yg disengaja, dia gk main buruk, cuma lg kurang beruntung aj di match td, jd sebetulny gk ada alasan buat sebal sama dia. Klo ke Slot ane setuju, telat ganti pemain, harusny dr awal babak 2 Salah diganti
@id_lgk Balok kayu nggo opo kuwi? 😃, luweh pas fans emyu nggowo jaket werno netral, kiro2 wes kebantai langsung mulih jaketan ben ra diece wong nang ndalan
@rizalwahid10@Seputar_LFC@David_Ornstein Iya bener, mereka anggap harganya terlalu mahal dgn umur dan pengalaman yg minim, dan umur cuma terpaut setahun sama bajcetic. Semoga caicedo yg masuk. Lebih layak dgn harga yg dibanderol. Walaupun gk memungkiri kemungkinan itu kecil krn FSG begitu perhitungan.