Hoy contratar a Tony Robbins cuesta 1 millón de dólares por un solo día.
Esto es una cinta de 21 minutos grabada en su propia casa hace más de 30 años.
Ahí explica exactamente cómo lograr que cualquiera diga que sí.
El mismo material por el que ahora cobran fortuna… completamente gratis.
Es una grabación rara e sin filtros, de la época en que todavía no cobraba a multimillonarios solo por estar en la misma habitación.
Cuando alguien dice que no, da dos excusas:
“No tengo tiempo” o “No tengo dinero”
Ninguna es verdad.
La verdadera razón es que todavía no cree que valga la pena.
No es un problema de dinero. Es un problema de estado.
Tony enseña algo que llama “atacar y confesar”
En lugar de discutir la objeción, confiesas la tuya propia:
“Yo tuve la oportunidad de ir hace seis meses y no fui hasta hace dos.
No puedo ni imaginar el tiempo que perdí”
La sala se queda en silencio. Nadie discute.
Después mete a la persona en el “tren del sí”
Cada pequeño sí se suma al siguiente.
Hasta que decir que no al final se siente más difícil que decir que sí.
Cuando llega el momento de firmar, la persona ya ha aceptado cinco veces sin darse cuenta.
Solo 21 minutos.
Ahí aprendes las dos únicas jugadas por las que la gente paga 1 millón al día:
cómo leer el estado de cualquiera… y cómo moverlo.
La mayoría se pasa años adivinando en ventas.
Él lo escribió en un flipchart de su sala de estar en menos de media hora.
Un asiento en esa habitación costaba $125 dólares.
Hoy cuesta $1 millón de dólares al día estar frente a él.
La cinta está gratis ahora mismo.
Y la respuesta está en este video.
Guys, ada laporan baru dari lembaga riset Celios yang menurut gue adalah salah satu yang paling mengerikan yang pernah gue baca tentang kondisi ekonomi Indonesia.
Judulnya: Republik Oligarki Ketimpangan Ekonomi Indonesia 2026.
Dan datanya bukan dari sembarang sumber.
Dari Forbes.
Dari LHKPN.
Data yang sudah terverifikasi dan tidak bisa dibantah.
Fakta pertama yang langsung bikin gue sesak napas:
50 orang terkaya Indonesia hanya 50 orang total kekayaannya mencapai Rp4.600 triliun per 2026.
APBN Indonesia?
Rp3.800 triliun.
Artinya 50 orang itu lebih kaya dari seluruh anggaran negara yang digunakan untuk membiayai 270 juta rakyat Indonesia selama satu tahun penuh.
Satu tahun.
Gaji PNS, subsidi BBM, bayar utang, bangun jalan, biaya militer, semua program sosial semuanya masih kalah dari 50 orang itu.
Dan setiap harinya harta 50 orang itu naik Rp13 miliar per hari.
Sementara upah pekerja harian di Indonesia bergerak di kisaran Rp2.000 sampai Rp5.000 per jam.
Fakta kedua ketimpangan di antara pejabat negara sendiri:
Total kekayaan pejabat negara era Prabowo-Gibran: Rp1 triliun lebih.
Dan dari seluruh pejabat itu 73% kekayaannya hanya dikuasai oleh 12 orang.
Dua belas orang.
Yang masing-masing punya kekayaan di atas Rp1 triliun.
Siapa?
Salah satu yang terbesar adalah Menteri Pariwisata Widya Kusuma.
Ada juga Menteri Perumahan Rakyat.
Keduanya masuk dalam daftar lima pejabat terkaya.
Fakta ketigayang paling menohok soal TNI dan Polri:
Setiap tamtama TNI prajurit paling bawah butuh 252 tahun masa tugas untuk menyamai kekayaan Panglima TNI.
Dua ratus lima puluh dua tahun.
Kalau mulai kerja umur 20 baru bisa menyamai kekayaan atasannya di umur 272 tahun.
Itu bukan angka. Itu absurditas.
Di Polri sedikit "lebih baik" polisi golongan paling rendah butuh 139 tahun masa tugas untuk menyamai kekayaan Kapolri.
Ketimpangan ini bukan hanya antara rakyat dan orang kaya. Tapi di dalam institusi yang sama.
Di antara satu korps yang sama.
Fakta keempat anggota DPR versus konstituennya:
Anggota DPR Gorontalo kekayaannya 800 kali lipat dari rata-rata masyarakat Gorontalo yang mereka wakili.
Anggota DPR Yogyakarta 400 kali lipat dari rata-rata masyarakat Yogyakarta.
Orang-orang yang mengklaim mewakili rakyat hidupnya 400 sampai 800 kali lebih kaya dari rakyat yang katanya mereka wakili.
Dan mereka yang membuat undang-undang. Mereka yang memutuskan kebijakan pajak. Mereka yang menentukan siapa yang dapat subsidi dan siapa yang tidak.
Dan ini yang membuat seluruh gambar itu menjadi sangat gelap:
Celios mengajukan satu pertanyaan yang sangat sederhana: kalau 50 orang terkaya itu dipajaki hanya 2% dari total kekayaan mereka negara dapat berapa?
Rp93 triliun per tahun.
Sembilan puluh tiga triliun.
Setiap tahun.
Dari pajak 2% saja atas kekayaan 50 orang.
Itu lebih dari cukup untuk membiayai rekonstruksi bencana besar.
Untuk membenarkan semua perlintasan kereta berbahaya di Jawa yang butuh Rp4 triliun.
Untuk menggaji 8 juta guru honorer setahun penuh.
Untuk menutup seluruh defisit BPJS Kesehatan.
Hanya dari 50 orang.
Hanya 2%. Per tahun.
Tapi itu tidak terjadi.
Dan Celios menjelaskan kenapa:
Karena orang-orang yang punya kekayaan itu — adalah orang-orang yang sama yang membiayai kampanye politik, yang duduk di dewan komisaris BUMN, yang punya akses langsung ke pengambil keputusan.
Pajak kekayaan sudah masuk dalam rencana Kementerian Keuangan paling lambat 2028 kata mereka. Tapi implementasinya? Masih "akan akan akan" saja. Tidak pernah benar-benar dieksekusi.
Sementara yang terus dipajaki adalah kelas menengah yang sudah ngos-ngosan. Kelas menengah Indonesia turun 1,1 juta orang dalam setahun tapi mereka yang paling mudah dikejar pajaknya karena datanya ada, penghasilannya kelihatan.
Seperti kata peneliti Celios: berburu di kebun binatang. Hewannya kelihatan, tinggal tembak. Sementara yang benar-benar harus dipajaki terlalu kuat untuk disentuh.
Dan ini yang paling mengerikan dari seluruh laporan ini:
Ketimpangan yang ekstrem ini bukan hanya masalah ekonomi. Ini adalah bahan bakar untuk sesuatu yang jauh lebih berbahaya.
Celios menelusuri pola historis dan hasilnya konsisten. Ketika ketimpangan mencapai titik ekstrem dan orang-orang hopeless tidak melihat jalan keluar yang rasional mereka tidak lari ke gerakan buruh atau gerakan sosial yang terorganisir.
Mereka lari ke kelompok-kelompok yang menawarkan identitas, musuh bersama, dan rasa memiliki.
Di Italia 1930-an orang yang di-PHK direkrut oleh Black Shirt. Di Jerman industri tutup, pengangguran meledak, orang mencari pegangan.
Di Indonesia sendiri kerusuhan 1998 dan berbagai gejolak sosial sesudahnya, ketika ditelusuri, akar masalahnya selalu sama: ketimpangan ekonomi yang dibalut isu identitas.
Dan tanda-tandanya sudah mulai terlihat sekarang ormas-ormas yang berdemo bukan ke instansi pemerintah tapi ke lembaga bantuan hukum masyarakat sipil, bayaran demo yang menjadi solusi pengangguran, program-program besar yang menyerap tenaga kerja tapi dengan cara yang menciptakan ketergantungan bukan kemandirian.
Solusi yang Celios rekomendasikan dan ini sangat konkret:
Satu — pajak kekayaan 2% untuk 50 orang terkaya. Langsung hasilkan Rp93 triliun per tahun. Bukan mimpi Brazil dan Colombia sudah melakukannya dengan komite audit independen.
Dua — moratorium MBG. Hentikan sementara, perbaiki tata kelola dari akar, baru jalankan lagi dengan tepat sasaran fokus ke daerah 3T dan keluarga miskin ekstrem, bukan merata ke semua sekolah termasuk swasta di Jabodetabek.
Tiga — kembalikan 20 triliun yang diambil dari anggaran kesehatan ke Kementerian Kesehatan untuk program stunting yang sudah terbukti efektif. Benefit yang dihasilkan: Rp400 triliun. Versus MBG yang belum jelas benefit konkretnya.
Empat — pajak windfall untuk komoditas yang sedang untung besar batu bara, sawit, nikel, minyak. Mereka untung dari harga global yang tinggi, sementara rakyat menanggung subsidi energi. Ini bukan soal nasionalisasi ini soal keadilan distribusi keuntungan.
Indonesia bukan negara miskin. Indonesia adalah negara yang kekayaannya terkonsentrasi pada sangat sedikit orang, yang sistem pajaknya melindungi orang kaya dan membebani kelas menengah, dan yang program-program besarnya lebih banyak menciptakan celah korupsi baru daripada menyelesaikan masalah lama.
50 orang lebih kaya dari APBN. 12 pejabat kuasai 73% kekayaan seluruh pejabat negara. Tamtama butuh 252 tahun untuk menyamai Panglima. Anggota DPR 800 kali lebih kaya dari konstituennya.
Dan solusinya sudah ada. Jelas. Terukur. Bisa dijalankan hari ini.
Yang tidak ada adalah kemauan politik untuk melakukannya. Karena yang harus meloloskan kebijakan pajak kekayaan itu adalah orang-orang yang sama yang akan paling terdampak olehnya.
Itu bukan korupsi yang bisa ditangkap KPK. Itu adalah struktur. Dan struktur hanya bisa diubah kalau tekanan dari bawah lebih kuat dari kenyamanan di atas.
⚠️ Disclaimer: Berdasarkan laporan Celios "Republik Oligarki Ketimpangan Ekonomi Indonesia 2026" dan wawancara peneliti Celios Bima Yudistira. Data bersumber dari Forbes dan LHKPN yang dapat diverifikasi publik. Ini analisis berbasis riset independen bukan tuduhan hukum kepada individu manapun.
CARA MEMPERBAIKI HIDUP MULAI DARI NOL SESUAI DENGAN TUNTUNAN RASULULLAH ﷺ
mulailah dari memperbaiki komunikasi kita dengan Allah: shalat.
ulama salaf sering menekankan: 'barangsiapa memperbaiki shalatnya, maka Allah akan memperbaiki hidupnya.'
a. niat & thaharah (the preparation)
- pastikan wudhu sesuai sunnah.
- niat cukup dalam hati.
b. sifat shalat nabi (the movement)
- takbir: angkat tangan sejajar bahu/telinga.
- sedekap: tangan kanan di atas punggung telapak kiri.
- tuma'ninah: ini kunci! jangan terburu-buru. berikan hak di setiap gerakan.
- rukuk & sujud: pastikan punggung rata (90°) dan tujuh anggota badan menempel sempurna saat sujud.
c. khusyuk (the soul)
- pahami apa yang dibaca.
1. Bila mulut seorang wanita itu lebar, maka vaginanya lebar
2. Bila mulutnya kecil, maka vaginanya kecil juga sempit
3. Apabila seorang perawan sempit mulutnya, maka sempit pula vaginanya.
4. Bila kedua bibirnya tebal, berarti bibir vaginanya tebal
5. Bila kedua bibirnya tipis, berarti kedua bibir vaginanya tipis
6. Bila bibir bawah tipis, berarti vaginanya kecil
7. Bila mulut wanita itu sangat merah, berarti vaginanya kering
8. Bila wanita itu hidungnya mancung berarti tidak begitu berhasrat untuk melakukan senggama
9. Bila wanita itu dagunya panjang, berarti vaginanya menganga dan sedikit bulunya
10. Bila wanita itu tipis alisnya, berarti posisi vaginanya agak ke dalam
11. Bila wanita itu wajahnya lebar juga lehernya besar berarti pantatnya kecil dan vaginanya besar serta sempit
12. Bila wanita itu banyak lemak luar telapak kakinya dan badanya berarti besar vaginanya, dan ia di pinang samping suaminya
13. Bila kedua betisnya tebal dan keras, berarti besar birahinya dan tidak sabar untuk bersenggama
14. Bila matanya tampak bercelak dan lebar, hal ini menunjukkan sempit rahimnya
15. Pantat yang kecil serta bahu yang besar itu menunjukkan besar vagina
---
Kami ga mau muntah & pingsan sendirian, guys! 🤮🤮🤮😭😭😭
Kalian harus baca juga sebagian isi “Fathul Izar” ini, kitab yang dikarang oleh KH. Abdullah Fauzi asal Pasuruan, Jawa Timur. Pengasuh Pondok Pesantren Fathul Ulum di Kediri, Jawa Timur. Kitab yang ditulis tahun 2007, dicetak 2008 ini termasuk kitab kuning, banyak diajarkan di pesantren-pesantren.
15 poin di atas itu bab “Rahasia penciptaan keperawanan”.
Lanjut di utas berikut ....
GAK MAU DISEBUT AGEN DAN BUZER SETELAH ISRAEL BABAK BELUR?
Main Air Tapi Gak Mau Basah, bagaimana ceritanya?
Beginilah kisah hidup yg tragis dari orang yg linglung.