Agatha Christie emang mikirnya jauh ke depan. Novel Poirot terakhir, Curtain, ditulis waktu London lagi dibom habis2an oleh Jerman. Naskahnya langsung disimpankan di bank untuk jaga2 buat anaknya. Syukurnya mereka gpp dan Curtain akhirnya diterbitkan tahun 70an
Buat semuanya yang suka terlalu keras dan gampang nyalahin diri sendiri 🫂
Jaejae nanya, di usia mereka sekarang, setelah berkali-kali mengalami sukses dan gagal, kenapa kalau sesuatu berjalan baik kita sering anggap itu cuma kebetulan, tapi begitu semuanya nggak berjalan sesuai harapan kita justru paling cepet nyalahin diri sendiri? Gimana caranya supaya kita bisa lebih “baik” sama diri sendiri?
Anne Hathaway cerita tentang tips dari seorang dokter. Ambil satu foto kecil diri kita, taruh fotonya, terus ucapin semua hal yang selama ini kita rasain tentang diri sendiri. Setelah itu, angkat fotonya dan coba ngomong hal yang sama ke dia.
Rasanya nggak akan bisa. Karena “dia” nggak pantas mendengar kata-kata sejahat itu. Kalau begitu, kenapa kita merasa diri kita sendiri pantes diperlakukan sekeras itu? 🥹
@utfess Gapapa nder. Nanti foto bareng keluarga di sekitaran studio tempat tinggal aja. Jadi tetap ada kenang-kenangan sekeluarga. Semangat yaa.. anyway, congrats! 👏🏻
Salah satu cara paling efektif melatih reading comprehension adalah diversifikasi bahan bacaan.
Jangan cuma stuck di genre atau topik yang sama terus. Coba campur-campur seperti fiksi, non-fiksi, artikel ilmiah, esai, cerita atau opini orang di berbagai platform kepenulisan, bahkan berita yang padat dan kompleks. Otak kita nantinya jadi terbiasa menangkap struktur, konteks, dan makna dari berbagai gaya tulisan.
Tersus yang nggak kalah penting adalah bahas isinya dengan orang lain, apalagi yang punya perspektif berbeda. Menurutku, diskusi kayak begini memaksa kita menjelaskan ulang, mempertanyakan asumsi, dan melihat sudut pandang yang sebelumnya mungkin bahkan nggak terpikirkan sama sekali.
Aku percaya dari situ pemahaman kita bisa jadi lebih dalam dan kritis, bukan cuma sekadar membaca sampai habis. Aku juga sudah mencoba kombinasi dua kebiasaan ini yang aku rasakan memang secara pelan-pelan bisa menguatkan kemampuan memahami suatu bacaan.
“Ngapain sih baca buku bahasa Inggris? Sok iye banget. Mau keliatan keren, ya?”
Di Indonesia, baca buku berbahasa Inggris emang sering dianggap sebagai another level of reading. Bukan cuma karena harus kerja tiga kali (baca, menerjemahkan, memahami), tapi kita juga tumbuh dalam sistem pendidikan yang bikin kita berpikir kalau bahasa Inggris itu susah.
Penulis yang paling rapi dan visioner dalam pengelolaan hak cipta itu ya Agatha Christie. Bayangin aja dari tahun 1900-an sampai sekarang hak ciptanya masih dikelola dengan baik dalam bentuk perusahaan bahkan ada terus turunan dari karya-karyanya.
Sir Arthur Conan Doyle yang perintis pun tak mampu punya legasi begini.
Fun fact, you can be ambitious as heck and still have no interest to defeat others.
Since in your eyes, the only things that exist are you & your dreams. Nothing else matters.
That's why you only run and run to your goal and forget competition with anyone else.
Gue baru sadar nih…
Orang yang suka baca buku atau artikel, ngetiknya beda. Jarang banget pakai singkatan aneh-aneh ejaannya lengkap, spasi rapi, tanda bacanya beres.
Kayak ada kepuasan tersendiri buat mereka kalau tulisan kelihatan bersih. Bukan soal pamer pintar tapi lebih ke kebiasaan otak yang udah terbiasa sama kalimat yang utuh dan enak dibaca
Jadi kalau kamu nemu orang yang chat-nya selalu rapi meski cuma di wa kemungkinan besar dia hobi baca, bener nggak sih?
Satu kalimat Maudy Ayunda dalam podcast suara berkelas yang bikin aku langsung melek waktu dengerinnya, "you should try to put yourself in a room where you're the least smart or the least capable."
Ngerasa nggak pantas berada di satu ruangan bersama orang-orang hebat itu wajar. Tapi justru di situlah letak hebatnya. At least, kamu berada di ruangan yang sama dengan mereka.
It's not about performing. It's about learning, growing, and becoming.