@Telkomsel ini gimana sih tiba2 paket darurat aktif padahal kuota masih ada, dan ga pernah ngerasa registrasi di paket tersebut. Jdnya ada hutang pulsa yg harus dibayar. Dan ini bukan sekali aja terjadi! Bosen!!! Kapok pake tsel
Kalian lihat mobil ini? Yes. Ini mobil pick up dari India.
Pemerintah akan membeli 105.000 mobil dari India. 70.000 dari Tata Motor, 35.000 dari Mahindra.
Total anggaran 24 triliun.
Buat apa mobil ini? Yes! Operasional KMP. Koperasi Merah Putih.
Proyek satu ini benar-benar mengocooor deras. Crazy, beli mobil langsung 105.000 unit! Tahniah rakyat Indonesia, jika sukses KMP ini betulan dahsyat.
Jika gagal? Wah, wah, kalian kayak lupa sama KUD, BUMDes, dkk. Begitulah. Tapi buat apa dipikir toh? Yang penting duitnya telah ngocor deras.
Itu produsen mobil India tertawa bahak deh! 24 triliun. Mobil beginian satunya 235 juta, wakakak, beli 100.000 unit, harganya itu teh betulan? Benar2 antek aseng, deh. Padahal di Indonesia itu ada ESEMKA. Tanya Jokowi, mesti dia bisa jawab soal ESEMKA.
KMP membuka lapangan kerja kata si fans2 gemoy. Iyyyaaaa, lapangan kerja di India, cuy. Ih, kamu begonya to the bone.
*Tere Liye
Tahu ga ngaruhnya jika Sawit didefinisikan sebagai POHON dan BUKAN TUMBUHAN?
Secara ilmiah Sawit itu tumbuhan monokotil dan tidak berkayu, jadi jelas bukan pohon.
Dilihat dari segi hukum lebih salah lagi..jika dinamakan POHON maka jika hutan kita digunduli dan ditanam sawit itu bukan DEFORESTASI, krena ditanami ulang dengan POHON.
Segitunya cinta kepada Sawit..
Lubang berukuran lebih dari 30.000 meter persegi di Aceh Tengah ini berpotensi terus membesar.
Menurut pemerintah setempat, lubang yang ada di kawasan bekas gunung api purba itu dipicu oleh tanah longsor yang terus terjadi.
Coba baca QRT-nya, banyak yang bertanya-tanya, kenapa tidak ada kanal berita yang mengangkat kejadian ini.
Jawabannya simpel.
Setiap perusahaan besar punya yang namanya Crisis Management.
Tujuannya bukan cuma urusan teknis, tapi juga damage control reputasi.
Saat insiden kayak chemical leak seperti ini terjadi, yang bergerak bukan cuma tim teknis, tapi juga tim legal dan komunikasi.
Polanya biasanya begini:
- Informasi ditahan dulu dan tidak langsung dibuka ke publik. Data dikumpulkan, difilter, disusun versinya sebagai bagian dari investigasi internal.
Yang keluar nanti official release, atau hanya yang dianggap “aman"
- Fokus awal ke internal handling dan risiko hukum.
Istilah seperti “terkendali”, “tidak membahayakan”, “prosedur dijalankan” sering muncul duluan, sementara jumlah korban atau dampak riil belum jelas.
- Info sering muncul dari luar struktur resmi.
Karena warga, pekerja, atau saksi lapangan lebih cepat menyebarkan info dibanding jalur resmi yang harus lewat birokrasi dan legal review.
Jadi intinya ini karena jalur informasi publik resmi datang lebih lambat daripada kejadian nyata di lapangan.
Yang menarik dan jadi pertanyaan justru:
kenapa banyak yang posting seragam bahkan dari akun pro pemerintah yang bilang, "Kenapa kok taunya dari akun luar, ya?"
Ini seolah ada usaha mencoba untuk menggeser fokus diskusinya ke “siapa yang pertama menyebarkan”, bukan pada keselamatan warga yang terdampak.
Apakah mencoba untuk membangun teori seolah ini ada campur tangan asing?
We’ll never know, yet it sounds familiar, right? 😏
❌ Tau dari Media Nasional
✅ Tau dari akun X luar negeri
+ Perkara penyalahgunaan WhipPink yg gk terbukti di meninggalnya influencer, wartawan GERCEP banget.
+ Perkara puluhan warga keracunan gas bocor massal, kok ANTENG wae.
Udeh viral baru deh ada yg naekin 🤦🏼♂️