beberapa hari lalu gue selesai baca buku dan doi langsung nanya “did you finish it? tell me everything about it.” sambil tepuk-tepuk kasur. akhirnya gue yapping 20 menit tentang buku itu sampe ketiduran. he doesn’t like reading books, but he listens :3
beberapa hari lalu gue selesai baca buku dan doi langsung nanya “did you finish it? tell me everything about it.” sambil tepuk-tepuk kasur. akhirnya gue yapping 20 menit tentang buku itu sampe ketiduran. he doesn’t like reading books, but he listens :3
attachment style itu alat untuk memahami diri sendiri, bukan identitas yang dipakai buat excuse. makanya aku pribadi lebih milih sendiri dulu daripada memaksakan hubungan yang ujung-ujungnya cuma jadi sumber masalah baru. i don't think i'll ever fit in a relationship either.
dan tolong berhenti pakai attachment style sebagai pembenaran. avoidant bukan berarti bebas kabur pas ada masalah. anxious juga bukan berarti identik sama ngejar-ngejar dan ketakutan ditinggalin.
sayangnya banyak yang masih terjebak di mentalitas “i can fix her/him”, jadi banyak red flag yang sengaja di-ignore dengan harapan suatu hari nanti bakal berubah.
capek banget lihat diskursus soal avoidant dan anxious ini. orang-orang jadi terlalu sibuk ngasih label sampai lupa kalau hubungan itu tetap butuh tanggung jawab. harusnya ketika memutuskan pacaran, kita juga udah paham ekspektasi dasar yang dibutuhkan dalam suatu hubungan.