saya tidak lagi takut malam, juga kesunyiannya. mereka tidak bertanya, tidak menjawab, namun selalu ada. bayang adalah teman malam. mati dalam bayangnya adalah kekalahan. namun bayang juga selalu ada, bayang selalu tega menggerogoti jiwa tanpa tersisa.
bubarin DPR bakal susah, karena udah jadi tempat partai cari makan. kondisi ini terlalu risiko bagi semua pejabat untuk pro rakyat karena konteks demonya bisa matiin partainya sendiri. yaa ginilah demokrasi.. dari partai, untuk partai. revolusi ratusan x juga pasti gini lagi.
saya rindu hal kecil. seperti makan bersama di ruang keluarga ditemani kipas kecil yang melawan gerah siang bolong, berbicara apa saja yang tidak penting, dimarahi karena lupa mencuci piring. kecil namun terisi.
sekoci kecil tidak pernah sampai pada tujuannya. terus mendayung, namun kurang cukup. sekali berhenti, diminta lari. sekoci pun kembali terombang-ambing, nampak tak pantas untuk dinantikan.
sejak lama, seharusnya semua itu tidak perlu ada keharusan. salah memaksa keyakinan itu ada pada matanya yang akhirnya lagi saja bukan yang diinginkan. rokok dimatikan tepat di atas asbak yang retak.
saya menatap matanya dalam dengan kerinduan yang tak pernah terbalas, pertemuan pun melemparkan senyum yang sangat dingin. bintang menghiasi malam namun ranum terasa.
tidak lagi senyuman dan mata yang indah mudah dipercaya. nampaknya kenyataan lebih penting dari kejujuran, kejujuran pun tidak lagi pertimbangan utama agar bisa abadi bersama.
terlampau sulit mengetahui fakta kehidupan yang terus merana, kail pancing pun ditebarkan mengais ikan untuk masa mendatang. semakin dalam kail ini masuk, semakin sulit juga mendapatkan ikan, meskipun dengan umpan yang tepat.
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana, dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu. Aku ingin mencintaimu dengan sederhana,
dengan isyarat yang tak sempat
disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada.
- Sapardi