@awdilss Ini antri dokternya yang panjang, hasil CT scan pertengahan April udah keluar, dapat antrian dokternya di pertengah Juni, alasannya antrian habis dan dokter tersebut cuti 2 minggu di bulan mei 😭
Bukan Cuma Soal Agama:
Inilah Alasan Nyata Mengapa Negara Arab 'Enggan' Bela Iran
Timur Tengah membara. Di satu sisi ada Iran. Di sisi lain ada gerombolan raksasa. Iran seperti berdiri sendirian. Di tengah badai yang dia ciptakan sendiri. Atau badai yang memang dikirim untuknya.
Mengapa negara-negara Arab yang sesama Muslim tidak membelanya? Bukankah mereka satu kawasan? Jawabannya tidak sederhana. Tapi bisa dijelaskan dengan logika anak sekolah.
Bayangkan sebuah komplek perumahan. Ada satu tetangga yang galak, namanya Iran. Dia punya hobi nyentrik: memelihara "anak buah" di halaman rumah tetangga lain. Di Yaman ada Houthi. Di Lebanon ada Hizbullah. Di Gaza ada Hamas.
Tetangga-tetangga kaya di seberang jalan (Arab Saudi, UEA, Kuwait, dkk) merasa terganggu. Mereka merasa Iran ingin jadi "Ketua Komplek" dengan cara menakut-nakuti yang lain. Inilah alasan pertama: persaingan jadi pemimpin.
Lalu ada faktor sejarah. Ini soal aliran. Iran mayoritas Syiah. Negara-negara Teluk mayoritas Sunni. Ibarat dua kubu yang sudah berbeda pendapat sejak ratusan tahun lalu. Perbedaan ini sering jadi bahan bakar api permusuhan.
Kita lihat satu-satu pelakonnya. Pertama, Arab Saudi. Ini musuh bebuyutan Iran. Saudi merasa sebagai penjaga dua kota suci. Mereka tidak mau pengaruh Iran masuk ke wilayahnya. Saudi sering membantu Amerika Serikat (AS) karena butuh perlindungan militer. Bagi Saudi, lebih baik berteman dengan raksasa jauh (AS) daripada tetangga dekat yang galak (Iran).
Kedua, Uni Emirat Arab (UEA). Negara ini sangat kaya. Mereka punya Dubai yang megah. UEA takut kalau perang pecah, bisnis mereka hancur. Mereka memilih jalan pragmatis. UEA bahkan sudah membuka hubungan diplomatik dengan Israel. Bagi UEA, Israel adalah mitra teknologi dan keamanan yang hebat untuk membendung Iran.
Ketiga, Bahrain. Negara kecil ini punya masalah unik. Penduduknya banyak yang Syiah, tapi penguasanya Sunni. Mereka takut Iran menghasut rakyatnya untuk memberontak. Itulah mengapa Bahrain menjadi markas Armada Kelima Angkatan Laut AS. Mereka "menyewakan" halaman rumahnya agar AS mau berjaga di sana.
Keempat, Yordania. Meskipun bukan negara Teluk yang kaya minyak, Yordania adalah benteng. Mereka terang-terangan membantu menjatuhkan drone Iran yang melintasi langit mereka menuju Israel. Alasannya? Stabilitas. Mereka tidak mau langit mereka jadi medan tempur.
Mengapa mereka juga tampak membantu Israel? Ini yang paling mengejutkan. Bagi negara Arab Teluk, Israel bukan lagi musuh utama. Musuh utamanya adalah Iran. Ada pepatah: "Musuh dari musuhku adalah temanku." Itulah yang terjadi sekarang.
Iran sekarang benar-benar terkunci. Di utara ada masalah. Di selatan ada pangkalan militer AS di Qatar dan Kuwait. Di laut ada kapal-kapal perang Barat. Iran seperti dikepung dari segala penjuru mata angin.
Negara-negara Arab ini juga butuh uang. Ekonomi mereka bergantung pada minyak yang lewat di Selat Hormuz. Jika Iran berulah dan menutup selat itu, negara-negara Arab akan tekor. Mereka lebih memilih stabilitas ekonomi daripada solidaritas semu.
Jadi, jangan heran jika Iran terlihat kesepian. Mereka punya senjata canggih, tapi tidak punya kawan dekat yang tulus. Mereka punya nyali, tapi tetangga-tetangganya lebih memilih kenyamanan dan perlindungan dari paman Sam.
Situasi ini membuat Timur Tengah seperti api dalam sekam. Semua orang memegang korek. Tapi tidak ada yang mau rumahnya sendiri terbakar. Iran harus bermain catur sendirian melawan banyak pemain sekaligus.
Akhirnya, kita belajar satu hal. Dalam politik dunia, tidak ada kawan abadi. Yang ada hanyalah kepentingan yang sama. Dan saat ini, kepentingan negara-negara Arab adalah melihat Iran tidak menjadi terlalu kuat.
Trus, kalian diposisi mana? Tulis di komentar biar ada sudut pandang yang lain.
Salam Pembebasan
@nujunyalse@IndosFC Tobar + Juan paes (coach) misi epik menyelamatkan Persib dari jurang degradasi, putaran pertama diurutan buncit, lalu bangkit diputaran kedua membawa Persib ke papan tengah.