Dari rezim ini kita belajar:
1. Judol bisa dibasmi: buktinya Mandiri bisa blok rekening pendemo Pati atas perintah aparat
2. Bangunan sekolah bisa distandardisasi, sekolah rusak bisa segera renov: buktinya bangunan Kopdes bisa berdiri sampe pelosok negeri
3. Gaji nakes, guru, dan dosen bisa lebih sejahtera: buktinya ribuan karyawan SPPG bergaji di atas mereka
4. Jumlah kriminal di Indonesia bisa berkurang signifikan, kasus kriminal lebih cepet kelar: buktinya jumlah aparat saat demo sebanyak itu
Kita jadi tau kalo kita bisa, cuma mereka aja yang nggak mau😊
Kesimpulannya: kebobrokan memang sengaja dipelihara buat meraup suara di pemilu😊
1. PELAKU KKN,
2. CACAT KONSTITUSI,
3. ANAK HARAM KONSTITUSI,
4. INKOMPETENSI PADA BIDANGNYA,
5. WAPRES TERBURUK DALAM SEJARAH,
6. AKTOR PROPAGANDA/DRAMA POLITIK
7. KETERLIBATAN PELAKU PRAKTIK KORUPSI SUAP MENYUAP DENGAN BEM GADUNGAN UBK.
Dari semua penjabaran diatas, sudah sepantasnya orang ini di-cap GAGAL sebagai WAPRES ❗❗❗
salsa erwina usul makanan pejabat dan acara DPR pakai menu MBG 15 ribu:
- termasuk perayaan 17 agustus dan rapat dpr
- katanya menu buat pejabat harusnya sama kayak yang diterima siswa
- dia kaitin usulan ini sama sila kelima pancasila
- soal keadilan sosial
- menurutnya gak boleh ada menu khusus atau perlakuan beda buat pejabat
- dia bilang ini juga bisa bantu efisiensi anggaran
- salsa usulin anggaran konsumsi dibatesin sekitar 15 ribu per orang per hari
- katanya kalau pemerintah yakin mbg itu berkualitas dan aman
- ya harusnya mereka juga mau makan yang sama
- kalau tidak berani berani jangan paksa rakyat makan MBG
momen ketika fatimah menyampaikan kejanggalan di aceh :
fatimah : BEM UI kemaren terjun langsung ke aceh, dimana kami lihat sendiri banyak rumah atau sekolah yang masih rata dengan tanah bang
fatimah : tapi ada kopdes dan SPPG yang terus di kebut disana, ada tukang yang membangun dan membersihkan
fatimah : Sehingga kita juga bingung untuk ke siapa sebetulnya MBG, SPPG, dan juga Kopdes yang sedang dibangun ini ketika masyarakatnya sendiri masih belum bisa berkehidupan dengan normal.
fatimah : banyak warga yang sakit h4ti disana, bangun kopdes, sppg bisa tapi untuk sekedar memperbaiki atau membersihkan rumah2 atau fasilitas tidak bisa
Qodari : Realitanya di lapangan tidak selalu mudah ya Fatimah, ada banyak regulasi dan administrasi yang harus di lewati
buat yang bingung atau penasaran gimana sih sebenernya rasanya jadi WNI, liat aja cuplikan video lomba cerdas cermat kemaren
juri adalah gambaran nyata kebanyakan pejabat kita, MC sebagai buzzer pemerintah, siswa SMAN 1 Sambas sebagai rakyat yang nggiatheli memanfaatkan kesusahan sesama rakyat demi keuntungan pribadi, siswa SMAN 1 Sanggau sebagai WNI yang cari aman dan adek² peserta lomba terutama dari SMAN 1 Pontianak adalah rakyat dengan status WNI yang terdzolimi
Disitu terlihat jelas kalo pejabat kita yang salah namun secara terang²an nyalahin org lain karena mereka ngerasa dirinya berkuasa, dan mereka semakin besar kepala karena bisa berkelit didukung oleh para buzzer yang mau gimanapun salahnya si pejabat ini mereka tetep dukung karena udah dibayar sama si pejabat
terus rakyatnya gimana? Yaa cuman bisa nerima dengan terpaksa karena ketika mereka protes pun malah di gaslighting & diserang sama buzzer peliharaan pemerintah ini
sementara sesama rakyat lain pun sebagian ada yg diam takut dijadiin sasaran, namun juga ada yang bukannya bantu sesama rakyat malah manfaatin moment demi keuntungan pribadi, hahahaha
miris...
Td mba pijetnya anakku cerita, sekolah anaknya dia dulunya kekeh ga nerima MBG.
Jd masih konsisten catering sekolah. Tp tadi pas ketemu dia cerita, skrg sekolah anaknya terpaksa pakai MBG. Sekolahnya sampai didatangi kepolisian juga.
Dan gongnya Kepolisian bilang kalo ga pakai MBG nanti kegiatan sekolah yg butuh izin ga bakal dikasih alias dipersulit
Cooy MBG udh sampe segitunya kalo ditolak. Kaget banget aku pas denger. Ya ini mah namanya dipaksa semua harus pake MBG
cc:thread
Proses cetak sebuah buku 200 halaman rata-rata menghasilkan jejak karbon sekitar 1–2 kg CO₂e, tergantung jenis kertas, tinta, dan proses produksi.
Artinya, bila sebuah buku dicetak 1 ribu eksemplar, sekitar 1-2 ton CO₂e dilepaskan ke atmosfer.
Bisa dibilang, buku versi cetak berkontribusi terhadap perubahan iklim seperti cuaca ekstrem, naiknya permukaan laut, dan terganggunya ekosistem.
HARUS KE BBW ICE BSD CITY, KARENA HANYA 5 HARI, 24 JAM NONSTOP ‼️
BBW ICE BSD CITY datang kembali dengan LEBIH SEMARAK DAN LEBIH NYAMAN spesial untuk Wolfies kesayangan 🐺
Zionis Pesek Bernama Abu Janda
Eh, lu perhatiin nggak sih si Abu Janda itu? Makin ke sini makin terang-terangan banget jadi pemandu sorak Zionis
Gak tanggung-tanggung, gayanya udah kayak agen Hasbara versi kearifan lokal.
Jelas banget dia itu local proxy yang lagi dapet panggung.
Parah sih, tiap postingannya itu lho, narasi Zionis dipoles halus pakai bungkus toleransi.
Pinter banget dia mainin image laundry biar kelihatan keren.
Padahal mah kalau jeli, dia itu cuma useful idiot buat agenda gede di luar sana.
Kerjanya cuma teriak-teriak sesuai naskah yang udah disiapin majikan.
Lihat aja pas dia ke sana, pamer foto sambil senyum-senyum nggak jelas. Itu sih kode keras kalau dia emang bagian dari circle mereka.
Emang beneran cunning sih cara mainnya, pake muka lokal tapi suaranya suara asing.
Udah kayak badut yang lagi pementasan, tapi penontonnya udah pada pinter.
Banyak yang curiga ini mah bukan soal idealisme, tapi soal incentive yang cair terus.
Mana ada orang mau dibenci se-Indonesia kalau nggak ada "bensin" yang kuat di belakang.
Dia mah asyik aja jadi distraction biar isu yang lebih gede nggak kelihatan.
Emang didesain buat bikin gaduh biar kita fokus ke tingkah konyolnya dia.
Pokoknya sophisticated banget deh cara lobi-lobi internasional ini masuk ke medsos kita.
Dia cuma pion kecil yang dipasang di depan buat pasang badan.
Kita mah tontonin aja terus sirkus ini sampai bosen sendiri.
Nanti juga kalau udah nggak laku, bakal diganti sama badut baru lagi.
#AbuJanda #AgenZionis #israel #ZionisPesek
Selamat pagi rakyat jelata!
Kami, para pejabat dan wakil rakyat, sudah memutuskan:
1) UMR cukup sekian saja, kami sudah hitung supaya kalian bisa bertahan hidup, makan saja. Rumah? Punya anak? Modal nikah? Sekolah? Semua itu tidak penting untuk bertahan hidup, makanya kami tidak hitung.
2) Butuh kerja sampingan? Korporasi sudah bikin aplikasi ojek online, daftar lah kalian ke sana. Statusnya mitra jadi teman korporasi kami tidak perlu membayar UMR, kalian dianggap kerja sendiri, bukan kerja ke aplikator. THR juga tidak perlu bayar. Profit teman korporasi kami yang utama, bukan rakyat jelata seperti kalian.
3) Masih kurang? Tenang banyak usaha mikro, kecil, dan menengah. Kerjalah di sana. Kami sudah memberi mereka pengecualian biar gak bayar pekerjanya minimal UMR. Jadi kalian bisa kerja di sana dengan mudah.
4) Masih kurang juga? Suruhlah istri kalian kerja. Jadi guru honorer misalnya. Sekolah-sekolah sudah kami desain biar bisa menggaji mereka ratusan ribu. Kami sudah menyerahkan semua kepada mereka, "Apakah semuanya harus ditanggung negara?"
5) Istri guru kalian mengeluh dengan ratusan ribu itu? Kan jadi guru adalah pengabdian kepada negara? Kenapa ngeluh soal gaji guru honorer? Itu pengabdian, bayarannya pahala, balasannya nanti di surga.
6) Anak pertama kalian baru lulus kuliah? Lagi nganggur? Berapa umurnya? 26 tahun? Kok bisa? Waktu kuliah nyambi kerja karena UKT tinggi? Makanya belajar yang rajin biar IPK-nya tinggi dan lulus tepat waktu!
7) Apply di perusahaan susah karena kurang pengalaman, makanya magang, cari sana. Kami udah bikin program macam-macam buat teman korporat kami senang. Apa itu namanya? Merdeka Belajar atau Kampus Merdeka. Kami gak peduli mahasiswa hilang 1 semester pembelajaran demi teman korporat kami.
8) Gak lulus tepat waktu karena dosennya susah dihubungi? Kenapa emang dosennya? Ah ya, lebih pilih ngurus kerja sampingan dan proyekannya? Gak apa, resiko. Kami gak mau kasih gaji dosen kalian tinggi-tinggi, apalagi yang muda. Bahaya kalau pinter banyak nuntut. Jadi terima aja kalau susah dihubungi.
9) Anak kedua kalian baru masuk kuliah? Selamat! Susah bayar UKT? Coba apply KIPK! Ah tapi kalian berdua kerja, penghasilan dari banyak pekerjaan sekaligus kan udah banyak. Jadi KIPK-nya kita tolak. Biar gak jadi beban negara.
10) Kami juga nurunin batas miskin, 20 ribu sehari. Kalau tinggi-tinggi, nanti kami perlu ngeluarin duit buat bansosnya banyak. Yang daftar KIPK banyak, yang daftar bantuan beras banyak, susah. Ngurangin jatah kami.
11) Anak ketiga kalian di sekolah kan? Tenang, berhubung kalian sudah pergi kerja berdua dari pagi sampai malam, gak sempat sarapan kan? Di sekolah kami beri makan siang gratis. Kami sudah alokasikan hampir separuh anggaran pendidikan. Tenang saja.
12) Apa? Keracunan? Gara-gara MBG? Ini pasti gara-gara gurunya gak cicipin dulu. Kemarin, kami sudah perintahkan gurunya cicipin dulu biar anak-anak gak keracunan. Kenapa? Gurunya keracunan juga? Nasibmu nak.
13) Ya udah, bawa ke rumah sakit aja. Ada BPJS kan? Aduh, gimana sih kok gak diurus, kamu perlu urus administrasi panjang lebar kalau gak diurus gini. Sekarang udah terlanjur keracunan gimana?
14) Kenapa? Rumah sakitnya nolak gara-gara BPJS-nya gak dicairin sama negara? Waduh, coba cari rumah sakit lain.
15) Dokternya di rumah sakit kelelahan, jadi lagi sakit juga? Waduh coba cari rumah sakit lain lagi.
16) Ya udah, saya tahu kalian susah, ini sekarung beras sama minyak goreng. Bantuan sosial dari negara. Jangan lupa pilih kami lagi.
17) Kami juga sudah memutuskan gaji dan tunjangan kami 20 sampai 100 kali lipat kalian, jangan samakan kami dengan rakyat jelata seperti kalian.
Di tahun 2017, sebelum bertabur influencer financial seperti sekarang, muncullah satu akun edukasi keuangan bernama Jouska.
Pembahasan yang ditawarkan selalu menarik, fokus utamanya seputar personal finance. Mengangkat masalah2 keuangan seperti harta gono gini, alokasi investasi sampai ke utang piutang, di storynya jouska menggunakan tokoh2 bernama samaran seperti Mas Aldo, Sekar, Sri sehingga sangat relate ke pembaca.
Kadang kadang Jouska juga membagikan masalah personal finance tokoh berlatar ekonomi papan atas lengkap dengan segala troubleshot ala financial planner sehingga saya yang saat itu minim pengetahuan keuangan terkagum2 dan selalu menunggu cerita part selanjutnya.
Sukses di media sosial, Jouska membuka pre order untuk buku pertamanya dengan judul "Jouska, the Principles of Personal Finance". Saya yang udah ngefans berat ga pikir panjang buat klik pre order buku seharga 270 ribu itu, padahal tahun segitu saya masih pegawai training dengan gaji 900 ribu di Jakarta.
Beberapa saat kemudian, datanglah buku tersebut dengan tampilan mewah hardcover. Saya buka beberapa lembar awal, isinya visi misi jouska, lanjut halaman selanjutnya, isinya kata pengantar dari para founder lengkap dengan photoshoot narsis ala buku RKAP BUMN, lanjut lagi isinya sambutan artis2 klien jouska yang bahkan beberapa saya ga kenal.
Kecewa berat, bukunya langsung saya kasih ke mantan pacar (yang sekarang ga jadi istri).
Lompat ke tahun 2020, beredar rekaman suara founder jouska marah2 menggunakan bahasa Inggris aksen Malang, "fag yu, get out my office", rekamannya masih bisa dilihat di yutub buat yang penasaran. Usut punya usut ternyata itu suara si founder lagi ngamuk ke klien yang protes karena dana titipannya rugi besar.
Pendiri jouska kena hukuman 7 tahun penjara karena mengelola dana nasabah padahal ga punya izin sebagai manager investasi, total kerugiannya sampai 16 miliar.
Hukuman 7 taun itu terlalu singkat mengingat dampak sistemik buku jeleknya, karena beli buku itu saya dan puluhan orang lain yang harusnya bisa beli buku The Intelligent Investor malah beli company profile tukang tipu dan gagal financial freedom di usia muda.
Orang2 yang kerja di Dirjen Pajak itu ngisi SPT buat mereka sendiri gak sih di Coretax? Atau udah dikerjain sama umbi2an?
Kalau mereka ngisi sendiri, tahu gak sih mereka betapa ribet sistem baru yang mereka bikin ini?
Udah keluar duit triliunan rupiah untuk desain Coretax hanya nyusahin warga.
Kemarin PM Kanada Mark Carney berpidato di World Economic Forum, Davos, dan rasanya perlu kita simak. Ia bicara blak-blakan, mengakui secara terbuka bahwa tatanan dunia yang katanya berbasis hukum dan keteraturan itu ternyata selama ini penuh kepura-puraan.
Negara-negara besar sering mengecualikan diri mereka dari tata aturan, aturan perdagangan diterapkan berat sebelah, dan ketat atau longgarnya penegakan hukum internasional itu tergantung pada siapa pelaku dan siapa korbannya. PM Carney menyebutnya “living within a lie”, bahwa mereka semua hidup dalam kebohongan yang selama ini mereka pelihara sama-sama.
Beberapa waktu lalu saya pernah twit soal perlunya negara-negara Global South bersatu supaya tidak mudah disetir dan diintervensi kekuatan besar. Menariknya, kegelisahan ini ternyata juga dirasakan negara menengah di belahan Utara seperti Kanada.
PM Carney juga sampai pada kesimpulan yang sama, bahwa kalau negara menengah hanya bernegosiasi sendiri-sendiri dengan negara besar, maka kita akan bernegosiasi dari posisi lemah. Kita malah jadi saling sikut, berlomba jadi yang paling tunduk. Jelas itu tidak bisa disebut sebagai kedaulatan.
Kenyataannya, dunia kini sudah berubah. Sudah multipolar, sudah sangat dinamis. PM Carney mengajak negara-negara menengah untuk bangun dan sadar akan kenyataan ini, lalu mulai membangun koalisi yang fleksibel. Beda isu bisa beda mitra, tak harus loyal buta pada satu polar, sambil terus memperkuat ekonomi di dalam negeri.
Pesan itu jadi sangat relevan juga untuk Indonesia. Diplomasi harus proaktif, tak bisa netral yang pasif. Membangun jembatan, jangan sekadar ikut arus.
Kanada bicara dari posisi negara menengah Barat. Sedangkan Indonesia bisa mengambil peran sebagai jembatan antara negara-negara menengah Barat yang mulai melek ini dengan Global South yang sudah lama merasakan ketidakadilan tatanan dunia. Kita punya legitimasi di kedua sisi.
Di tengah dunia yang makin terpecah, justru negara-negara menengah punya kesempatan membentuk tatanan baru yang lebih adil. Syaratnya, harus berani bergerak bersama. •••
Transkrip pidato PM Carney: https://t.co/07LhGa0OJ9
Boss: “You arrived 10 minutes late.”
Employee: “Yesterday I stayed late finishing that last-minute report.”
Boss: “I understand… but rules are rules.”
The next day, the employee arrived exactly on time.
And at 6:00 p.m. sharp, shut down the computer.
No extra emails. No work taken home.
If punctuality is non-negotiable, then effort must have boundaries too.
Recognition cannot be one-sided.
When mistakes are highlighted but dedication is ignored, the real message becomes clear:
“Do only what’s required. Nothing more.”
Empathy costs nothing.
The absence of it? That can cost you everything—especially your best people