GUE DOAIN LO SEMUA DI APRIL PADA NANGIS BAHAGIA!! DAPET KERJAAN BARU, GAJI OKE & WORK HOURS, YANG ADA HUTANG PADA LUNAS, SEHAT TERUS, MAKIN RAJIN IBADAH, PUNYA TABUNGAN, GANTI HP BARU, HIDUP BAHAGIA DAN LEBIH LAMA!! 😭😭🤍❤️ Yap!
Since omongan adalah do’a, semoga setelah lebaran ini kita semua dapet:
gaji 2 sampai 3 digit, lingkungan ga toxic, perjalanan ke kantor ga jauh, bos dan team yg baik.
Aamiin
After lebaran
Kamu akan diterima di tempat kerja impianmu, punya profesional carer, gaji 2 digit, lingkungan yang positif, teman-teman baik serta saling support, bisa traktir ortu pakai uang sendiri. Lalu bagi kamu yg punya cicilan/utang semoga dilancarkan dan ditambahkan rezekinya
Aamiin bisa pasti bisa
Her resignation letter made the CEO go silent for twenty minutes...
Emma cleared out her desk at 5 AM.
Left the letter on his chair.
No drama. No scene.
Just two pages of gratitude.
"Thank you for teaching me what leadership isn't."
Then came her lessons:
"When you took credit for the Harrison campaign, you taught me to document everything."
"When you promised three promotions that never materialized, you taught me words without action mean nothing."
"When you ranked us against each other quarterly, you taught me competition inside kills collaboration."
"When you called weekend meetings for Monday's agenda, you taught me fake urgency is about control, not deadlines."
Fifteen examples.
Fifteen lessons.
Each one specific.
Each one true.
The worst part?
She meant every word.
No sarcasm. No bitterness.
Just genuine appreciation for the education.
"You showed me exactly the leader I refuse to become."
He found it Monday morning.
Read it once.
Read it again.
Read it again.
Called her cell.
Straight to voicemail.
His assistant heard something she'd never heard:
Nothing.
For twenty minutes, he sat there.
One of his best people.
Gone.
No notice.
No warning.
And every word aimed at him.
When he finally emerged, he asked:
"How many others feel this way?"
His assistant looked at the floor.
That told him everything.
Emma?
She's running her own team now.
They've never met her old boss.
But they know him.
Through every decision she doesn't make for them.
Every credit she doesn't take from them.
Every promise she keeps to them.
Her team thinks she's a natural leader.
They're wrong.
She was trained by the worst.
And learned exactly what not to do.
Sometimes the best teachers
are the ones who show you
exactly who you never want to be.
Ada kok wanita yang keliatan kadang ceria, kadang cuek, kadang pemarah, tapi aslinya dia mikirin semuanya sendiri, masa depannya, keluarganya, kehidupannya, dan semuanya itu dipendem sendirian tanpa ada tempat untuk cerita.
@karinyoo Benerr!! Secinta itu ama tempeeeee, pernah ±3 bulan makan tempe pagi siang malam karena secinta ituuu sampe akhirnya berenti seminggu krn ibu muak masak tempe 😂
udah 2026 tapi shipper bl masih goblok. najis banget masih ada yg ngeship win sama si problematik ini. lu pada ga inget ya dia dulu hobi ngelike tweetan haters win dan baru unlike kalo udh ketahuan. lu fikir apa alasan mereka gapernah hangout diluar kerjaan? tolol lu semua
"Panggil orang HRD ke sini dong. Kita butuh gantiin IT support lama yang baru resign."
"Oke Pak"
***
"Ada apa Pak?"
"Kita butuh 1 orang IT support."
"Nyari yang gimana Pak?"
"Kita butuh yang lincah, yang muda, jadi umur maksimum 24 tahun."
"Oke, apalagi Pak?"
"Lulusan S1 kampus ternama."
"Terus?"
"Jangan yang freshgrad amat, pengalaman minimal 4 tahun."
"Oke Pak. Nanti kita pasang iklannya."
***
"Pak kita mau pasang iklan di portal, tolong dikonfirmasi:
Dicari IT support, lulusan S1 kampus ternama, umur maksimum 24 tahun, pengalaman 4 tahun."
"Mantab, pasang di job portal hari ini juga."
"Gajinya gak usah dipasang?"
"Gak usah. Kalau ada yang lamar, walaupun gak kepenuhi semua syaratnya, kasih tahu saya."
"Oke Pak"
***
"Pak, ini ada yang lamar."
"Freshgrad apa udah pengalaman?"
"Pengalaman Pak, 5 tahun di perusahaan kompetitor kita."
"Dih, gak akan kuat bayar gajinya, yang lain aja."
***
"Pak, ini ada yang lamar."
"Freshgrad apa udah pengalaman?"
"Ada sih pengalaman, cuma 1 tahun di perusahaan sebelah."
"1 tahun mah sama aja freshgrad, yang lain aja."
***
"Pak, ini ada yang lamar."
"Freshgrad apa udah pengalaman?"
"Freshgrad Pak."
"Gak ada pengalaman sama sekali? Magang gitu?"
"Gak ada Pak."
"Cari yang lain aja."
***
"Pak, ini ada yang lamar."
"Freshgrad apa udah pengalaman?"
"Mau internship Pak."
"Oh, ada pengalaman internship apa magang gitu di tempat lain?"
"Gak ada Pak."
"Cari yang lain aja."
***
"Kita udah pasang iklan sebulan lebih kan?"
"Iya Pak."
"Belum ada yang apply lagi?"
"Belum Pak."
"Susah bener cari karyawan sekarang."
***
"Pak, saya mau resign."
"Hah? Baru juga tiga bulan kerja di sini? Mana susah lagi yang memenuhi syarat kaya kamu."
"Saya ngerasa disuruh jadi superman Pak, masa disuruh desain grafis, edit video, bikin poster di Canva, benerin lighting foto pakai Photoshop, ngoding python, setup web server, benerin printer, sampai pasangin kabel internet kantor."
"Kan itu emang kerjaan IT Support?"
"Tempat saya dulu gak segininya Pak. Mana saya pernah dihubungi jam 1 pagi buat ke kantor benerin printer orang-orang lembur. Udah tiga kali bulan ini doang."
"..."
"Saya mau cari tempat lain aja."
"..."
***
"Panggil orang HRD ke sini dong. Kita butuh gantiin IT support lama yang baru resign."
"Oke Pak"
Manager: Why didn’t you CC me on that email?
Employee: It was a routine update, nothing critical.
Manager: I want to be looped in on everything.
Employee: That slows things down and shows distrust.
Manager: If you can’t handle oversight, maybe you’re not fit for this role.
Employee: Constant monitoring doesn’t improve work, it kills initiative.
Micromanagement isn’t control, it’s insecurity in disguise.
Great leaders trust. Toxic ones suffocate.
@worksfess Kalian tu kalau melakukan kebaikan sesekali diliburin dulu soalnya kalo galibur beberapa orang berpikir itu kewajiban kita. Mohon tau batasan ya dalam berbuat baik. Manusia emang sifatnya gatau diri, sama Tuhan aja kadang gitu apalagi sesama manusia.
Boss: “You arrived 10 minutes late.”
Employee: “Yesterday I stayed late finishing that last-minute report.”
Boss: “I understand… but rules are rules.”
The next day, the employee arrived exactly on time.
And at 6:00 p.m. sharp, shut down the computer.
No extra emails. No work taken home.
If punctuality is non-negotiable, then effort must have boundaries too.
Recognition cannot be one-sided.
When mistakes are highlighted but dedication is ignored, the real message becomes clear:
“Do only what’s required. Nothing more.”
Empathy costs nothing.
The absence of it? That can cost you everything—especially your best people.