"Cara mencintai seseorang itu dinamis, tdk melulu mengandung romantisme sebagai alur dan pengisi sebuah hubungan di antara dua org" (Selepas pendar nyalang berbayang)
https://t.co/VjmcehzjmI
Selamat ulang tahun ke-13 album self-titled nya PALMS 🍷
Proyek post-rock dari para personil: Deftones, ISIS, & Red Sparowes.
https://t.co/RvgnTOBtib
Akhirnya, salah satu project terbaik ini resmi rilis. Kolaborasi dengan klub sepak bola itu gak harus jersey!
Dalam dua tahun terakhir, seluruh produk Nivelcrack menjadi tanggung jawab saya. Berikut adalah item-item yang kami siapkan untuk kolaborasi bersama West Ham ini. ⚒️
Iran Kecolongan?
Tadi malam, dalam kondisi sebenarnya udah ngantuk banget (dan hampir saya matikan tuh laptop, mau tidur aja karena sudah 10 menit lewat waktu yang dijanjikan, pihak TV belum menghubungi lagi), saya dihadapkan pada pertanyaan yang menggelitik.
Intinya begini, narasumber yang lain menyebut Iran "kecolongan" karena tidak bisa menjaga pemimpinnya. Lalu host mengkonfirmasi ke saya, menanyakan pertanyaan yang -saya pikir- juga ada di benak banyak orang, "Bukankah seharusnya pemimpin dengan level setinggi itu penjagaan keamanannya sangat ketat?"
Saya sebelumnya sudah menyimak pernyataan tokoh politik senior Iran, saat ini menjabat Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Ali Larijani yang menyatakan bahwa Ayatullah Khamanei memang tidak mau diminta bersembunyi. Memang beliau yang maunya tetap bertahan di tengah masyarakat (rumah dan kantor beliau ada di dalam gang, di tengah kota Teheran).
Beliau bilang, baru mau ke bunker kalau semua warga Iran juga dapat kesempatan berlindung ke bunker.
Berkali-kali sebelumnya saya juga melihat video-video yang menunjukkan beliau berdoa, memohon kesyahidan. Suami saya, dulu banget, saat masih kuliah di Iran, pernah ikut i'tikaf di masjid, lalu diumumkan, "Rahbar minta diaminkan doanya." Jamaah i'tikaf ya nurut aja, amin.. amin.. Eh, kemudian ketahuan, doa beliau adalah doa minta segera disyahidkan.
Jadi, ya memang begitulah mental kebanyakan orang Iran, ingin mati syahid. Tapi, beda dengan syahid ala jihadis Wahaboy, harapan akan kesyahidan dipandu oleh kesadaran kritis, yaitu pemahaman geopolitik dan kegigihan mencapai kemajuan iptek, terutama pembuatan senjata untuk membela diri saat musuh menyerang.
Cuma, masih ada pertanyaan tersisa di benak saya, "Ya tapi kan harusnya langit Teheran dijaga dong, biar ga ada rudal atau jet tempur masuk?"
Di TV saya cuma bisa bilang, serangan ini kejutan, karena serangan terjadi saat negosiasi masih berlangsung, dan Menlu Oman di TV bahkan mengungkap, Iran bersedia menyimpan nol cadangan uranium yang diperkaya [yang berpotensi dijadikan bom]. Namun dalam waktu singkat, meski Pemimpin Tertinggi gugur, Iran mampu memberikan serangan balasan.
[Serangan terhadap kediaman Ayatullah Khamenei jam 8.30 pagi, serangan balasan dimulai 11.00 pagi waktu Iran]
Setelah diskusi dengan beberapa kawan, akhirnya ketemu jawaban yang lebih detil. Narasi bahwa “Iran kecolongan karena gagal mengintersep” adalah penyederhanaan yang keliru. Dalam perang modern, tidak ada sistem pertahanan udara yang 100% sempurna. Amerika gagal mencegah serangan 9/11 [dengan mengikuti klaim mereka bahwa Al Qaida yang menabrakkan pesawat ke Twin Tower], Israel tetap kebobolan sebagian roket Iran (bahkan juga roket Hamas) meski punya Iron Dome. Arab Saudi tidak mampu mencegat drone Ansharullah Yaman saat serangan Aramco 2019.
Kegagalan intersep [mencegat] bisa disebabkan oleh serangan multi-vector yang kompleks, faktor kejutan, infiltrasi intelijen, atau celah teknis. Menyimpulkan “lemah” atau "kecolongan" dari satu kegagalan adalah falasi "hasty generalization" (generalisasi yang terburu-buru).
Begitu juga, klaim bahwa terbunuhnya Ayatullah Khamenei adalah gara-gara kebocoran intelijen yang artinya "rezim tidak solid" atau lemah, juga generalisasi yang tergesa-gesa. Faktanya, semua negara mengalami infiltrasi: CIA beroperasi di Rusia, Mossad di berbagai negara, dan intel Rusia maupun China juga menyusup ke Barat. Dan... intel-intel Iran juga ada di Teluk. Makanya Iran menggempur sebuah hotel mewah di Dubai karena mendapatkan info bahwa tentara-tentara AS dievakuasi ke sana.
Terakhir, penyebab terbunuhnya Ayatullah Khamenei juga masih belum pasti, apakah jet tempur masuk ke wilayah Iran, atau rudal yang ditembakkan dari luar Iran. Jika rudal dari luar Iran, penjelasannya begini (kata teman saya):
Misil yang ditembakkan dari luar perbatasan masih jadi problem buat semua militer, bukan cuma Iran. Jika rudal itu dikirim dari Suriah, Bahrain, atau Irak, jaraknya sudah terlalu dekat. Misil sudah dalam posisi aktif untuk bisa dicegat. Apalagi (lihat peta), pangkalan militer AS ada di sekeliling Iran, serangan bisa berasal dari mana saja, sulit diduga, dan wilayah Iran sangat luas. Tidak mungkin menjaganya 100% tanpa bisa ditembus.
Sebaliknya, misil dari Iran menuju Tel Aviv, bisa ditembak di Yordania, UAE, dll, karena belum masuk posisi aktif (masih meluncur) jadi lebih mudah dijatuhkan. Itulah sebabnya, jika misil Iran sudah masuk fase aktif, bahkan Iron Dome dkk juga tidak bisa menangkis.
Apapun juga, intinya: Iran sudah (dan sedang) melawan sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya. Kematian pemimpin dan para komandan militer adalah bagian dari resiko perjuangan mereka. Kesyahidan (yang rasional) menjadi impian bagi mereka.
YANG SALAH ITU: menyalah-nyalahkan korban. Justru harusnya, terus berfokus ke si pelaku: AGRESI terhadap negara berdaulat adalah salah, melanggar Piagam PBB pasal 2, dan pihak yang diserang berhak untuk membalas (Piagam PBB pasal 51).
Ini juga berlaku dalam cara kita memandang Palestina. Meski di sana ada friksi internal, ya sudah, itu urusan mereka. Selalu ingat bahwa yang salah itu ISRAEL; penjajahan Israel harus segera dihentikan. Jangan malah berkata, "Ya gimana kita mau bantuin? Mereka aja berantem satu sama lain?!"
Strategi Iran (3): cukup dengan ancaman, perusahaan asuransi yang bergerak
Kapal-kapal pengangkut minyak tidak lagi melewati Selat Hormuz.
Bukan karena Iran memasang ranjau di perairan. Bukan karena sebuah kapal tanker tertabrak. Tetapi karena Lloyd’s of London mengangkat telepon.
Penanggung risiko perang mulai membatalkan polis untuk transit selat beberapa jam setelah Operasi Epic Fury diluncurkan. Financial Times mengkonfirmasi premi melonjak 50 persen. Risiko perang dasar berada pada 0,25 persen dari nilai lambung kapal.
Untuk kapal tanker senilai seratus juta dolar, itu berarti 250.000 dolar per pelayaran. Pada tingkat eskalasi puncak, satu juta dolar per transit. Kapal-kapal yang terkait dengan kepentingan Amerika atau Israel menjadi tidak dapat diasuransikan sama sekali. Tidak ada harga. Tidak ada polis. Tidak ada pelayaran.
KHK Empress sedang memuat minyak mentah Oman menuju Basra ketika melakukan putar balik di tengah selat dan dialihkan ke India. Eagle Veracruz berhenti di jalur masuk barat membawa dua juta barel minyak mentah Saudi yang menuju China. Front Shanghai singgah di Sharjah dengan minyak mentah Irak yang ditujukan untuk Rotterdam.
Nippon Yusen memerintahkan seluruh armadanya untuk menghindari Hormuz. Yunani memberi tahu armada dagangnya untuk menilai kembali jalur pelayaran. Hapag-Lloyd menangguhkan semua transit.
Tidak satu pun dari mereka yang ditembaki. Setiap dari mereka menerima telepon yang sama.
Lebih dari lima puluh juta tahun yang lalu, lempeng Arab bertabrakan dengan lempeng Eurasia dan memampatkan Teluk Persia menjadi cekungan yang mengalir melalui satu penyempitan geologis selebar dua puluh satu mil. Dua puluh satu persen dari minyak bumi global. Dua puluh persen dari semua LNG yang diangkut melalui laut.
Seperlima dari pasokan energi peradaban industri dipaksa melalui kecelakaan tektonik yang lebih sempit daripada Selat Inggris, yang berbatasan di satu sisi dengan negara yang pemimpin tertingginya terbunuh kemarin pagi.
USS Abraham Lincoln membawa cukup rudal Tomahawk untuk menenggelamkan setiap kapal patroli IRGC dalam 48 jam. Operasi Praying Mantis melumpuhkan kekuatan angkatan laut operasional Iran dalam delapan jam pada tahun 1988. Armada Kelima telah melatih skenario ini selama beberapa dekade.
Namun semua itu tidak penting. Kapal induk tidak dapat memaksa penanggung asuransi untuk menulis ulang polis. Rudal Tomahawk tidak dapat menurunkan premi. Angkatan laut terkuat dalam sejarah manusia tidak dapat membuat sindikat Lloyd's memutuskan bahwa kapal tanker super besar (VLCC) yang melintasi perairan pesisir Iran merupakan risiko yang dapat diterima pada Sabtu sore ketika rudal mendarat di Dubai.
Goldman Sachs memperkirakan harga Brent bisa mencapai puncaknya pada 110 dolar per barel. JP Morgan memproyeksikan 120 hingga 130 dolar. Pada level tersebut, setiap maskapai penerbangan akan merugi. Setiap bank sentral menyaksikan tiga tahun perjuangan melawan inflasi kembali berkobar dalam semalam. Pipa bypass dari Arab Saudi dan UEA menangani sekitar tiga juta barel. Selat Hormuz menangani dua puluh juta barel. Perhitungannya tidak masuk akal.
Iran telah menemukan sesuatu yang belum ditemukan Pentagon.
Anda tidak perlu menutup selat. Anda hanya perlu membuatnya tidak dapat diasuransikan.
Translated from @shanaka86
Strategi Iran (2): menyerang pelabuhan-pelabuhan
Balasan Iran bukanlah kekacauan acak—ini adalah serangan maritim yang terencana yang menargetkan pelabuhan-pelabuhan utama di seluruh Teluk dan sekitarnya.
Dengan menyerang Duqm di Oman, Jebel Ali di Dubai, Mina Salman di Bahrain, dan Haifa di Israel, Teheran mengekspos sisi lemah perdagangan dan aliran energi global. Ini bukan hanya tentang Selat Hormuz; ini adalah strategi berani untuk mengganggu jalur ekonomi vital dan membuat harga minyak melonjak.
STRATEGI INTI: PERANG EKONOMI MARITIM
🔴 Serangan Iran membentuk jaringan kerentanan yang disengaja, menghubungkan pusat-pusat militer dengan pusat-pusat kekuatan komersial.
🔴 Duqm di Oman, yang dibangun untuk menghindari risiko Hormuz, kini menghadapi keraguan investor setelah serangan tersebut.
🔴Jebel Ali, yang menangani 60% impor UEA, terbakar akibat serangan drone—melumpuhkan ekonomi non-minyak Dubai.
🔴Mina Salman, markas Armada Kelima AS, menggarisbawahi hubungan militer-komersial yang sedang diserang.
🔴Haifa di Israel mengelola impor energi vital, membuktikan bahwa tidak ada jalur vital yang aman.
ASIMETRI TERUNGKAP
🔴Trump berjanji untuk menghancurkan angkatan laut dan rudal Iran, tetapi Teheran membalikkan keadaan: pelabuhan adalah medan pertempuran sebenarnya.
🔴Sebuah kelompok kapal induk tidak dapat melindungi derek Jebel Ali dari kawanan drone—Patriot memaksa pilihan yang mustahil.
💥 Serangan selektif memicu lonjakan asuransi di Lloyd's, memangkas perkiraan untuk kontainer Dubai dan obligasi Oman.
MENGAPA HORMUZ BUKAN SATU-SATUNYA ANCAMAN
🔴Teheran menjadikan penutupan Hormuz sebagai senjata pamungkas—untuk saat ini, gangguan pelabuhan dan aksi Houthi sudah cukup.
🔴Setiap eksportir Teluk merasakan dampaknya, mengubah ancaman Trump menjadi demonstrasi "angkatan laut" di darat: derek, terminal, tank.
🔴 Efek pengganda menyebar lebih cepat daripada rudal, mengubah harga armada tanker global dalam semalam.
INTINYA
Strategi Iran yang berfokus pada pelabuhan mengungkapkan permainan kekuatan yang sebenarnya: Anda dapat menenggelamkan kapal, tetapi mengaktifkan pelabuhan memenangkan perang ekonomi. Di era asimetri baru ini, kenaikan harga minyak yang pesat baru saja dimulai.
Translated from @Mark4XX
🚨🇺🇸🇮🇷 Trump wanted regime change. His own CIA told him killing Khamenei might make things worse. He did it anyway.
The assessment was produced two weeks ago. If Khamenei dies, hardline IRGC commanders likely take over, men whose entire identity is military, not theological.
Men with no interest in diplomacy, no clerical legitimacy to protect, and no political pressure valve.
Khamenei is 85. He's a cleric. He operates through religious authority, political maneuvering, and calculated restraint. The IRGC operates through guns.
This is the Iraq lesson America never learned. Kill Saddam, get ISIS. Destabilize the top... and unleash something worse from below.
The CIA didn't say don't do it. They said: don't assume killing the leader ends the regime. Iran is a system, not held together by one man.
The Supreme Leader is the face of it. The IRGC is the skeleton.
Trump told the Iranian people tonight to seize the moment and rise up.
But if Khamenei is dead and the IRGC takes control, the people rising up won't be facing an aging ayatollah.
They could be facing soldiers with nothing left to lose.
MBV 9:30 Club 1989
1:21 Emptiness Inside
4:54 You Never Should
8:50 Cigarette in your Bed
12:37 Video cuts*
13:33 Cupid Come
18:14 Sueisfine
22:27 Lose My Breath
27:04 Nothing Much to Lose
31:29 Thorn
35:00 Setlist
35:43 Soft as Snow(But Warm Inside)
38:41 Feed Me With Your Kiss