Tugas rakyat itu “mengawasi” bukan “memuji”
pejabat dan government kerja bagus itu ya bare mininum lah. Kalian digaji dari pajak yg disetor warga kok.
Mager banget baca narasi d tiktok yg anggep pihak yg kritik pemerintah itu = musuh.
Astaga.
Aneh ga sih?
Tujuan MBG itu untuk anak-anak sekolah.
Tapi ketika Dapur MBG dihentikan bahkan kalaupun cuma sementara, yang marah bukan anak-anak sebagai penerima Makan Bergizi Gratis.
Yang marah malah yang punya Dapur.
@adanginyah Perempuan itu mainnya rasa pakai emosi. Ya dia memilih yg pintar memainkan emosinya. Lalu bahasa sayang cinta perempuan itu beda2 ada yg suka diberi barang2 ada yg suka di layani,di sayang2 aja. Makanya ada perempuan yg sudah dikasih yg mewah2 malah selingkuh
ini kata "sepakat" kenapa diasumsikan jadi respon menghina utk mengecilkan masaalah perempuan yah?
apa konteks kata "sepakat" ini rame dibahas karena ucapan Najwa Shihab terus dijawab "sepakat" oleh ge pamungkas.
najwa shihap : menurutku laki2 gak akan sanggup jadi perempuan.
ge pamungkas : sepakat
najwa shihap : "menjelaskan lagi"...
perasaan itu udah jawaban yang paling tepat, yg tdk memerlukan pembenaran selanjutnya.
org tolol aja yg berpikir laki2 sanggup jadi perempuan, atau perempuan sanggup jadi laki2.
anatomi tubuh beda, hormon beda.
sebagai perempuan jawaban apa yg kalian harapkan dari pertanyaan tsb??
Istilah "peredam panas" ini sebenarnya agak rancu dalam Fisika Bangunan.
Panas tidak pernah "teredam" seperti suara. Panas selalu berpindah, bukan hilang begitu saja. Kalau foil aluminium atau cat reflektif disebut peredam, sebenarnya yang bekerja adalah sifat insulasi terhadap konduksi... yaa, tapi itu hanya sebagian kecil.
Padahal perpindahan panas terjadi lewat tiga cara: konduksi, konveksi, dan radiasi. Di Indonesia, yang paling dominan justru radiasi matahari.
Makanya bangunan yang "serba isolatif" (seperti di negara beriklim dingin) tidak selalu cocok di sini.
Iklim tropis lembab lebih butuh kombinasi pintar: radiant barrier untuk memantulkan radiasi, ventilasi yang baik, plus sedikit insulasi... bukan isolasi total yang bikin rumah pengap.
Ketika laki-laki melecehkan perempuan secara verbal, akan dilihat sebagai bentuk kekerasan berbasis gender (power imbalance), ancaman, atau objektifikasi tubuh. Ini akan langsung mendapat perhatian besar dari aktivis, media, dan lembaga seperti Komnas Perempuan.
Sebaliknya, ketika perempuan melakukan hal serupa ke laki-laki (misalnya komentar vulgar tentang tubuh, rayuan paksa, atau lelucon seksual), masyarakat cenderung menganggapnya ringan, "basa-basi", atau bahkan "laki-laki harus kuat". Ini adalah contoh double standard yang masih kuat di banyak budaya, termasuk Indonesia.
Laporan dari laki-laki akan lebih jarang diproses serius oleh polisi/masyarakat, meski hukum memungkinkan. Korban laki-laki malah akan diremehkan atau ditertawakan.
Laki-laki diajarkan sejak kecil untuk "kuat", "tidak cengeng", dan "menanggung sendiri" (konsep masculine gender role stress atau discrepancy stress).
Ketika mengalami pelecehan verbal dari perempuan, banyak laki-laki merasa malu atau "tidak maskulin" jika melapor. Mengakui diri sebagai korban dianggap sebagai kelemahan yang mengancam identitas diri.
Stereotip di masyarakat memiliki kecenderungan bahwa perempuan dianggap lebih pasif, emosional, atau "lemah" sehingga pelecehan verbal dari mereka dianggap "hanya kata-kata" atau "reaksi defensif", bukan kekerasan serius.
Sementara laki-laki dianggap lebih kuat secara fisik dan emosional, pelecehan terhadap mereka dianggap "tidak mungkin menyakiti" atau bahkan "layak" jika ada alasan (misalnya, dianggap "salah sendiri").
Di dunia secara umum, norma patriarki masih kuat, tapi justru memperkuat paradoks ini. Laki-laki diharapkan dominan, sehingga menjadi korban pelecehan verbal dianggap "memalukan" dan jarang diangkat sebagai isu serius.
Persepsi masyarakat terhadap kekerasan terhadap laki-laki masih dipengaruhi stereotip maskulinitas, sehingga korban enggan bicara karena takut kehilangan citra diri atau dianggap "bukan laki-laki sejati".
Ini juga menunjukan bahwa konsep laki-laki dan perempuan setara mesti dilihat dari berbagai bidang. Di mata hukum, ekonomi, dan HAM sudah. Tapi di bidang sosial dan norma masih harus dilihat kembali.
Jadi ceritanya bbrp hari lalu tiba2 ibu gw nelpon. Dalam kondisi agak panik, katanya ga sengaja ngeklik undangan digital yg formatnya APK.
Langsung lah gw minta forward APKnya ke gw. Lalu gw coba bongkar untuk caritau apa yg dilakukan sama app tersebut.